DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: adab sopan orang fakir pada kefakirannya

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: adab sopan orang fakir pada kefakirannya.


Ketahuilah, bahwa orang fakir itu mempunyai adab-sopan pada batinnya dan zahirnya, perbaurannya dan perbuatannya, yang sayogialah dipeliharakannya. Adapun adab-sopan batinnya, bahwa tidak ada padanya kebencian kepada kefakiran yang dicobakan oleh Allah Ta'ala kepadanya. Yakni: bahwa ia tidak benci akan perbuatan Allah Ta'ala, dari segi itu perbuatanNYA. Walaupun ia benci kepada kefakiran. Seperti orang yang dibekam, yang benci kepada pembekaman, karena merasa sakit. Dan tidak benci akan perbuatan si pembekam dan kepada si pembekam sendiri. Bahkan kadang-kadang memperoleh nikmat daripadanya.
Ini darajat yang paling kurang. Dan itu wajib. Dan lawannya itu haram dan membatalkan pahala kefakiran. Dan itulah makna sabda Nabi s.a.w

 


(yaa-ma'-syaral-fuqaraa-i, a'-thul-Iaahar-ridhaa min quluubikum tadhaffaruu bi-tsawaabi faqrikum wa illaa fa laa).
Artinya: "Hai kumpulan orang-orang fakir! Berikanlah keredhaan kepada Allah dari hatimu! Niscaya kamu peroleh pahala kefakiranmu. Jikalau tidak, maka engkau tidak memperolehnya" [Dirawikan Ad-Dailami dari Abu Hurairah ra. ]

Yang paling tinggi dari ini, bahwa ia tidak benci kepada kefakiran. Bahkan, ia meredhainya.
Yang lebih dari itu lagi, bahwa ia mencarinya dan bergembira dengan memperolehinya. Karena ia tahu dengan tipuan-tipuan kaya. Dan ia bertawakkal pada batinnya kepada Allah Ta'ala. Dan ia percaya bahwa sekadar perlu, pasti Allah akan memberikannya. Dan ia tidak suka kepada kelebihan dengan bersandar kepada pemberian orang. Ali r.a. berkata: "Bahwa AlIa Ta'ala mempunyai siksaan-siksaan dengan kefakiran dan pahala-pahala dengan kefakiran".
Di antara tanda-tanda kefakiran apabila memperoleh pahala, ialah: baik akhlaknya, mentha'ati Tuhannya, tiada mengadukan halnya dan bersyukur kepada Allah Ta'ala atas kefakirannya.

Di antara tanda-tandanya apabila mendapat siksaan, ialah: akhlaknya, mendurhakai Tuhannya dengan meninggalkan membanyakkan pengaduan dan marah dengan qadha' (ketetapan NYA.)
Ini menunjukkan, bahwa setiap orang fakir itu tidak dipujikan. Tetapi yang dipuji, yang tidak marah dan redha. Atau gembira dengan kefakiran dan redha, karena diketahuinya dengan hasil kefakiran. Karena dikatakan; "Tidak diberikan kepada hamba akan sesuatu dari dunia, melainkan dikatakan kepadanya: ambillah di atas tiga pertiga: sibuk, susah hati dan lama perhitungan amal.”

Adapun adab-sopan zahiriyahnya, bahwa ia melahirkan penjagaan diri dan memperelokkannya. Tidak melahirkan pengaduan dan kefakiran. Akan tetapi, ia menutupkan kefakirannya dan menutupkan, bahwa ia menutupinya. Maka tersebut pada hadits:


(Innal-Iaaha ta- 'aalaa yuhibbul-faqiiral-muta- 'affifa abal-'iyaali).
Artinya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai orang fakir yang menjaga diri, bapak keluarga".[) Dirawikan Ibnu Majah dan Ath-Thabrani dari Imran bin Hushain.]
Allah Ta'ala berfirman:


(Yah-sabuhumul- jaahilu-agh-niyaa-a minat-ta 'affufi).
Artinya: "Orang yang tidak tahu, mengira bahwa mereka masih mampu, karena suci jiwanya (tidak mau minta-minta)".S.Al-Baqarah, ayat 273. Sufyan Ats-Tsuri r.a. berkata: "Amal yang paling utama ialah menampakkan baik ketika cobaan".
Sebahagian mereka mengatakan: "Menutup kefakiran itu sebahagian dari gudang kebajikan".

Adapun tentang amal-perbuatan orang fakir, maka adab-sopannya, ialah:
Tidak merendahkan diri kepada orang kaya karena kekayaannya.  Bahkan ia menyombong atas orang kaya itu. Ali r.a. berkata: "Alangkah baiknya merendahkan diri orang kaya kepada orang fakir, karena ingin pahala dari AllahTa'ala. Dan yang terbaik dari itu, ialah: menyombongkan diri orang fakir kepada orang kaya, karena percaya kepada Allah Ta'ala". Inilah suatu pangkat. Dan yang lebih kurang dari itu, ialah: tidak bercampur baur dengan orang-orang kaya. Dan tidak ingin duduk-duduk dengan mereka. Karena yang demikian itu terrnasuk dasar kelobaan.

Sufyan Ats-Tsuri r.a. berkata: "Apabila orang fakir bercampur-baur dengan orang-orang kaya, maka ketahuilah, bahwa orang fakir itu orang yang ria (memperlihatkan diri seolah-olah orang kaya). Dan apabila bercampur-baur dengan penguasa (sultan), maka ketahuilah, bahwa dia itu maling".
Sebahagian orang-orang 'arifin berkata: "Apabila orang fakir itu bercampur-baur dengan orang-orang kaya, niscaya terlepaslah tali kemiskinannya. Apabila ia loba pada orang-orang kaya, niscaya terputuslah keterpeliharaan dirinya. Dan apabila ia berketetapan hati kepada orang-orang kaya, niscaya sesatlah dia".
Sayogialah tidak didiamkan dari menyebutkan kebenaran, karena berminyak-minyak air kepada orang-orang kaya dan mengharap pemberian mereka.
Adapun adab-sopan orang fakir pada perbuatannya, maka ia tidak lumpuh dengan sebab kefakiran dari ibadah. Dan tidak mencegah memberikan yang sedikit dari apa yang berlebihan. Maka yang demikian itu usaha orang yang sedikit berpunya .
Dan keutamaannya itu lebih banyak dari harta banyak, yang diberikan orang kaya yang tampak kekayaannya.

Diriwayatkan Zaid bin Aslam, yang mengatakan: "Rasulullah s.a.w. bersabda:     .

Ertinya: "Sedirham sedekah itu lebih utama pada sisi Allah, dari seratus ribu dirham"
Lalu ditanyakan: "Bagaimana demikian, wahai Rasulullah?".
Nabi s.a.w. menjawab: "Seorang laki-laki mengeluarkan dari harta bendanya seratus ribu dirham. Lalu disedekahkannya dengan uang itu. Dan seorang laki-laki mengeluarkan sedirham dari uangnya dua dirham, yang tidak dimilikinya selain dari itu, yang baik jiwanya dengan yang demikian. Maka yang punya sedirham itu lebih utama dari yang punya seratus ribu" .[Diriwayatkan dari An-Nasa’I dari Abi Hurairah]

Sayogialah tidak disimpankan harta. Akan tetapi diambil sekadar hajat keperluan dan sisanya dikeluarkan.[Kita dapat membandingkan antara suasana waktu Al-Ghazali menyusun kitab ini 1000 tahun yang lalau dengan suasana sekarang. Camkanlah]

Pada menyimpan itu tiga tingkat:

Pertama: bahwa tidak disimpan, selain untuk sehari dan malamnya. Yaitu: tingkat orang-orang shiddiqin.

Kedua: bahwa disimpan untuk empat puluh hari. Maka yang lebih dari itu termasuk dalam panjang angan-angan. Para ulama memahamkan yang demikian dari janji Allah Ta'ala kepada Musa a.s. Maka dipahami daripadanya, akan keringanan pada angan-angan hidup untuk empatpuluh hari. Dan ini tingkat orang-orang muttaqin.

Ketiga: bahwa disimpan untuk setahun. Dan ini tingkat yang terjauh. Yaitu: tingkat orang-orang shalih.
Siapa yang lebih menyimpan dari ini, maka itu jatuh dalam gelombang umum, di luar dari tempat khusus secara keseluruhan.Maka kayanya orang shalih, yang lemah itu pada menenteramkan hatinya pada makanan setahunnya. Kayanya orang khusus pada empatpuluh hari dan kayanya orang khusus yang lebih khusus pada sehari-semalam.

Dan Nabi s. a. w. telah membagi isteri-isterinya seperti bahagian-bahagian ini. Sebahagian para isteri itu diberikan Nabi s.a.w. kepadanya makanan setahun ketika diperoleh apa yang dihasilkan. Sebahagian mereka makanan empatpuluh hari. Dan sebahagian mereka untuk sehari semalam. Dan itu bahagian 'Aisyah ra. dan Hafshah ra.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”