DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: keutamaan fakir secara mutlak

IHYA ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: keutamaan fakir secara mutlak

Adapun dari ayat-ayat, maka dirujuk oleh firman Allah Ta'ala:
(Lil-fuqoraa-il-muhaajiriinal-ladziina-ukh-rijuu min diyaarihim wa¬ amwaalihim yabtaghuna fadh-Ian minal-Iaahi wa ridh-waanan wa yanshu¬ruunal-Iaaha wa rasuulahu. ulaa-ika humush-shadiquuna).

Artinya: "(ltu adalah) untuk fakir miskin yang berpindah (meninggalkan negerinya). diusir dari kampung dan harta bendanya, sedang mereka mencari kurnia Allah dan kerelaan (NYA) dan mereka membantu (Agama) Allah dan RasulNYA. Itulah orang-orang yang benar". [QS.Al¬Hasyr:  8. ]

Dan Allah Ta'ala berfirman:
(Lil-fuqaraa-il-Iadziina uh-shiruu fi sabiiiil-Iaahi laa yas-tathii- 'uuna dhar ban fil•ar-dhi).



Artinya: "(Berikanlah sedekah itu) untuk orang-orang fakir miskin yang  terkepung di jalan Allah, mereka tidak bisa berjalan keliling negeri" [QS.AI-Baqarah, ayat 273. ]


Firman itu membawa pada penunjukan pujian. Kemudian, dikemukakan sifat mereka dengan ke-fakir-an di atas sifat mereka dengan berpindah negeri dan terkepung. Pada yang demikian dalil yang jelas kepada pujian ke- fakir-an.

Adapun hadits-hadits tentang pujian ke-fakir-an, maka sangat banyak daripada dapat dihinggakan. Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan, yang mengatakan: "Rasulullah s.a.w. bertanya kepada para shahabatnya:

(Ayyun-naasi khairun?)

Artinya: "Manakah manusia yang lebih baik?".

Para shahabat itu menjawab: "Orang yang kaya, yang menyerahkan Allah pada dirinya dan hartanya".

Maka Nabi s.a.w. menjawab:
(Ni'mar-rajulu haadzaa wa laisa bihi).

Artinya: "Sebaik-baik orang itu, ialah ini dan tidaklah dia yang aku maksudkan" .

Para shahabat itu bertanya: "Maka siapakah manusia yang terbaik, wahai Rasulullah?" .

Nabi s.a.w. menjawab:
(Faqiirun yu'-thii juhdahu).

Artinya: "Orang fakir yang memberikan tenaganya" [ Dirawikan Abu Manshur Ad•Dailami dari Ibnu Umar, dengan sanad dha’if.]

Nabi s.a.w. bersabda kepada Bilal:
(iIqal-laaha faqiiran wa laa talqahu ghaniyyan).

Artinya: "Berjumpalah dengan Allah dalam keadaan fakir: Dan jangan menjumpaiNYA dalam keadaan kaya" [Dirawikan AI-Hakim dari  Bilal hadits dha’if. Dan dirawikan Ath-Thabrani dengan  lafadh yang lain, yaitu: "Matilah dalam keadaan fakir dan jangan kamu mati dalam keadaan kaya" Juga dha’if. ]

Nabi s.a.w. bersabda:
(Innal-Iaaha yuhibbul-faqiiral-muta-'affifa abal-'iyaali).

Artinya: "Bahwa Allah itu mencintai orang fakir, yang menjaga kehormatan diri, yang menjadi bapak keluarga" [ Dirawikan Ibnu Majah daN 'Imran bin Hushain. ]

Tersebut pada hadits yang terkenal:
(Yad-khulu fuqaraa-u-ummatil-jannata qabla-agh-niyaa-ihaa bi-khamsi-mi¬ati'aamin).

Artinya: "Akan masuk Syurga umatku yang fakir, sebelum yang kaya dengan limaratus tahun” [Dirawikan At-Tirmidzi daTi Abi Hurairah, hadits hasan shahih.]

Pada hadits yang lain:

(bi-arba- 'iina khariifan).

Artinya: "Dengan empat puluh tahun". [ Dirawikan Muslim dari Abdullah bin 'Amr. ]

Yang dimaksudkan, ialah: kira-kiraan terdahulunya orang fakir yang rakus terhadap orang kaya yang rakus.

Dan kira-kiraan dengan Iima ratus tahun, ialah: kira-kiran terdahulunya orang fakir yang zuhud, terhadap orang kaya yang gemar kepada harta. Apa yang kami sebutkan, tentang perbedaan darajat ke-fakir-an itu, memberi-tahukan kepada anda dengan mudah, akan berlebih-kurangnya orang-orang fakir itu tentang darajat mereka. Dan orang fakir yang rakus itu pada dua darajat, daripada duapuluh lima darajat bagi orang fakir yang zuhud. Karena ini adalah perbandingan empatpuluh pada limaratus. Anda jangan menyangka, bahwa kira-kiraan Rasulullah s.a.w. itu berjalan pada lidahnya, dengan agak-agakan dan dengan kesepakatan. Akan tetapi, beliau s.a.w. tidak menuturkan, selain dengan kebenaran yang hakiki. Beliau tidak menuturkan dari hawa-nafsu. Tidaklah itu, selain wahyu, yang diwayukan kepadanya. Dan ini adalah seperti sabdanya s.a.w.:
(Ar-rn' -yash-shaalihatu juz-un min sittatin wa arba- 'iina juz-an minan¬nubuwwati).

Artinya: "Mimpi yang baik itu suatu bahagian dari empatpuluh enam bahagian dari kenabian (an-nubuwwah)" [ Dirawikan AI-Bukhari dari Abi Sa•'id. Dan AI-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. ]

Itu adalah kira-kiraan yang benar dan pasti. Akan tetapi, tidaklah pada kesanggupan orang lain dapat mengetahui sebab perbandingan itu, selain dengan tekaan. Adapun dengan yang benar dan meyakinkan, maka tidak. Karena diketahui, bahwa kenabian itu ibarat dari apa yang khusus kepada Nabi s.a.w. Dan berbeda dengan orang yang lain dari nabi. Dan nabi itu mempunyai kekhususan dengan berbagai kekhususan:

Pertama: bahwa nabi itu mengetahui hakikat-hakikat persoalan yang menyangkut dengan Allah dan sifat-sifatNYA, malaikat dan hari akhirat. Dan tidaklah seperti yang diketahui oleh orang lain. Bahkan menyalahinya, dengan banyaknya yang diketahui oleh Nabi dan dengan bertambahnya keyakinan, pertahkikan dan kasyaf (terbuka hijab).

Kedua: bahwa nabi itu mempunyai suatu sifat pada dirinya, yang dengan sifat itu, sempurnalah baginya perbuatan-perbuatan (kejadian-kejadian) yang luar biasa. Sebagaimana kita mempunyai suatu sifat, yang dengan sifat itu, sempurnalah gerakan-gerakan yang menyertai kehendak dan pilihan kita. Yaitu: kemampuan (al-qudrah). Walaupun kemampuan dan yang dimampukan itu semua dari perbuatan Allah Ta'ala.

Ketiga: bahwa nabi itu mempunyai sifat, yang dengan sifat itu, ia dapat melihat malaikat dan menyaksikan mereka. Sebagaimana orang yang dapat melihat, mempunyai sifat, yang dengan sifat itu, ia berbeda dengan orang buta. Sehingga ia dapat melihat segala yang dapat dilihat.

Keempat: bahwa nabi itu mempunyai sifat, yang dengan sifat itu, ia dapat mengetahui, apa yang akan ada dari yang ghaib. Adakala, ia dalam jaga atau dalam tidur. Karena dengan sifat itu, ia dapat membaca pada Luh-mahfudh. Lalu ia melihat, apa yang dalam Luh-mahfudh itu, dari yang ghaib-ghaib.

Inilah kesempurnaan sifat-sifat, yang diketahui adanya bagi nabi-nabi. Dan diketahui terbagi masing-masing daripadanya, kepada bahagian¬-bahagian. Dan kadang-kadang memungkinkan kita untuk membagikannya kepada empatpuluh, kepada limapuluh dan kepada enampuluh. Dan memungkinkan kita juga bahwa kita memberatkan pembahagiannya kepada empatpuluh enam, dimana terjadinya mimpi yang benar itu suatu bahagian dari jumlahnya. Akan tetapi, penentuan satu jalan dari jalan-¬jalan pembahagian yang memungkinkan itu, tidak mungkin, selain sangkaan dan tekaan. Maka kita tidak tahu, secara yang menyakinkan, bahwa yang demikian itu, yang dikehendaki oleh Rasulullah s.a.w. atau bukan. Dan yang diketahui, ialah kumpulan sifat-sifat, yang dengan kumpulan itu, sempurnalah kenabian dan pokok pembahagiannya. Dan seperti demikian juga, tidak menunjukkan kita kepada mengetahui alasan kira-kiraan itu.


Maka seperti demikian juga, kita mengetahui bahwa orang-orang fakir¬ miskin itu mempunyai tingkat-tingkat, sebagaimana telah diterangkan dahulu. Adapun mengapa orang fakir yang rakus itu-umpanyanya pada seperdua-belas dari darajat orang fakir yang zuhud, sehingga tidak ada baginya ke dahuluan dengan lebih banyak dari empatpuluh tahun ke Syurga dan kedahuluan itu menghendaki kepada limaratus tahun? Maka tidaklah pada kekuatan manusia, selain para nabi, untuk mengetahui yang demikian, selain dengan semacam tekaan. Dan tidak dapat dipercayai dengan tekaan itu. Dan yang dimaksud, ialah memberi-tahukan kepada cara kira-kiraan pada  contoh-contoh dari persoalan-persoalan tersebut. Maka orang yang lemah imannya, kadang-kadang menyangka bahwa yang demikian itu berlaku pada Rasulullah s.a. w. di atas jalan kesepakatan. Dan amat jauhlah kedudukan kenabian dari yang demikian!

Marilah kita kembali kepada menukilkan hadits-hadits! Maka Nabi s.a. w. telah bersabda pula:
(Khairu haadzihil-ummati fuqaraa-uhaa wa-asra- 'uhaa tadhajju- 'an fil¬jannati dhu- 'afaa-uhaa).

Artinya: "Yang terbaik dari umat ini, ialah orang-orang fakir-miskinnya. Dan yang tercepat berbaring dalam Syurga, ialah: yang lemah-Iemah dari¬padanya". [ Menurut AI-Iraqi. beliau tidak pernah menjumpai hadits ini]

Nabi s.a.w. bersabda:

(Inna Iii hirfatainits-nataini. Fa man ahabbahumaa faqad-ahabbanii wa man ab-ghadhahumaa fa qad ab-ghadhanii: al-faqra wal-jihaada).

Artinya: "Bahwa aku mempunyai dua pekerjaan. Maka siapa yang menyukainya, adalah dia menyukai aku. Dan siapa yang tiada menyukainya, adalah dia tiada menyukai aku, yaitu: fakir dan jihad" [ Menurut AI-Iraqi. hadits ini tidak. pernah dijumpainya. ]

Diriwayatkan, bahwa Jibril a.s. datang kepada rasulullah s.a.w. seraya berkata: "Hai Muhammad! Bahwa Allah 'Azza wa lalla menyampaikan salam kepada engkau dan berfirman: "Adakah kamu sukai, bahwa AKU jadikan gunung-gunung ini menjadi emas dan berada bersama engkau di mana saja engkau berada?”

Maka Rasulullah s.a. w. menundukkan kepalanya se sa'at, kemudian bersabda:

(Yaa Jibriilu! Innad-dun-ya daaru man laa daara lahu wa maalu man laa aala lahu wa lahaa yaj-ma'u man laa-'aqla lahu).
Ertinya: "Hai Jibril! Bahwa dunia itu kampung orang yang tiada mempunyai kampung dan harta orang yang tiada mempunyai harta. Dan bagi dunialah dikumpulkan oleh orang yang tiada berakal".     .

Lalu Jibril a.s. menjawab: "Hai Muhammad! Kiranya engkau ditetapkan oleh Allah dengan kata yang tetap".[Diriwayatkan oleh At-Tinnidzi dari Abi Amamah.]

Diriwayatkan, bahwa Isa Al-Masih a.s. melintasi dalam pengembaraannya seorang laki-laki yang tidur, berselimut dalam baju kurung panjang. Lalu beliau bangunkan dan berkata: "Hai orang tidur! Bangunlah! Berdzikirlah  kepada AIlah Ta'ala!".
Orang tidur itu menjawab: "Apa yang engkau maksudkan dari aku?
Sesungguhnya aku telah meninggalkan dunia kepada yang empunyanya".
Lalu nabi Isa a.s. menjawab: "Maka tidurlah saja, hai kekasihku!".

Nabi Musa a.s. melintasi seorang laki-laki yang tidur di atas tanah. Dan di bawah kepalanya sepotong batu bata. Mukanya dan janggutnya dalam tanah. Dan orang itu bersarung dengan baju kurung panjang. Lalu nabi Musa a.s berkata: "Hai Tuhanku! HambaMU ini dalam dunia, orang yang hilang" .
Maka AIlah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Musa a.s. dengan firmanNYA: "Hai Musa! Apakah engkau tidak tahu, bahwa AKU meli¬hat kepada hambaKU dengan WAJAHKU seluruhnya? Dipalingkan dunia seluruhnya daripadanya" .

Dari Abi Rafi', yang mengatakan: "Datang seorang tamu kepada RasuluIlah s.a.w. Maka ia tidak memperoleh pada Nabi s.a.w., akan apa yang membaikkannya. Lalu Nabi s.a.w. mengutuskan aku kepada seorang Yahudi Khaibar.
Dan beliau menyabdakan: "Katakan kepada orang Yahudi itu: "Muhammad mengatakan kepadamu: "Pinjamkanlah kepadaku atau jualkanlah kepadaku tepung gandum, dengan dibayarkan harganya pada bulan Rajab nanti".
Abu Rafi' meneruskan riwayatnya: "Maka aku datang kepada Yahudi itu. Lalu Yahudi itu menjawab: "Tidak-demi AIlah, selain dengan jaminan (borg)" .
Maka aku terangkan yang demikian kepada RasuluIlah S.A.W., lalu beliau menjawab: "Apakah tidak-demi AIlah-aku ini orang kepercayaan pada penduduk langit dan orang kepercayaan pada penduduk bumi? Jikalau ia menjualkan kepadaku atau meminjamkan kepadaku, niscaya aku bayar kepadanya. Pergilah dengan baju besiku ini kepadanya! Dan gadaikanlah (menjadi borgnya)!".

Maka tatkala aku telah keluar dari tempat Nabi s.a.w. lalu turunlah ayat ini:

(Wa laa tamuddanna-'ainaika ilaa maa matta'-naa bihii azwaajan minhum zah-ratal-hayaatid-dun-ya, Ii naftinahum fiihi, wa rizqu rabbika khairun wa abqaa).

Artinya: "Dan janganlah engkau tujukan pemandangan engkau kepada kesenangan sebagai bunga kehidupan dunia yang telah KAMI berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, karena KAMI hendak menguji mereka dengan itu, sedang rezeki (pemberian) dari Tuhan engkau lebih baik dan lebih kekal". QS.Tha Ha, ayat 131.[  Dirawikan Ath-Thabrani, dengan sanad dha’if.]

Ayat ini merupakan bela-sungkawa (ta'ziyah) kepada Rasulullah s.a.w. dari dunia.
Nabi s.a.w. bersabda:
(AI-faqru az-yanu bil-mu'mini minal- 'i dzaaril-hasani- 'alaa khaddil-farasi).
Artinya: "Ke-fakir-an itu lebih menghiasi orang mu'min, dibandingkan dengan tali-kekang yang bagus di pipi kuda.” [Dirawikan Ath-Thabrani dari Syaddad bin Aus, dengan sanad dha’if. ]

Nabi s.a.w. bersabda:
(Man-ash-baha minkum mu'aafan fii jismihi-aaminan fii sirbihi 'indahu quutu yaumihi, fa-ka-annamaa hiizat lahud-dun-ya bi-hadzaafii-rihaa).

Artinya: "Siapa yang berada dari kamu, dengan schat wal-afiat pada jasmaniahnya, aman pada dirinya dan padanya ada makanan untuk harinya, maka seakan-akan telah diserahkan haginya dunia dengan isinya". [ Dirawikan At-Tirmidzi dan telah diterangkan dahulu. ]

Ka'bul-ahbar berkata: "Allah Ta'ala berfirman kepada Musa a.s.: "Hai Musa! Apabila engkau melihat ke-fakir-an itu menghadap kepada engkau, maka katakanlah: "Selamat datang kepada syi'ar (Iambang) orang-orang yang sholeh!".

'Atha' AI-Khurasani berkata: "Seorang dari nabi-nabi melintasi pada suatu pantai. Maka tiba-tiba ia bertemu dengan seorang laki-Iaki yang menangkap ikan laut. Laki-Iaki itu mengucapkan "Bismillah" dan melemparkan jaringnya. Maka tiada masuk dalam jaring itu sesuatu. Kemudian, nabi tersebut melintasi pada orang lain. Lalu orang itu mengatakan: dengan nama setan. Dan melemparkan jaringnya. Lalu masuk dalam jaring itu ikan-ikan laut, yang tidak dengan lekas dapat ditariknya, lantaran banyaknya, Maka nabi a,s, itu berkata: ".Hai Tuhan Apakah ini? Sesungguhnya aku tahu, bahwa setlap yang demlklan Itu dl tangan ENGKAU".
Maka Allah Ta'ala berfirman kepada para malaikat: "Singkapkanlah kepada hambaKU dari keadaan dua tingkat itu!".
Tatkala nabi itu melihat apa yang disediakan oleh Allah Ta'ala bagi ini dari kemuliaan dan bagi itu dari kehinaan, maka ia berkata: "Aku rela, wahai Tuhan!".

Nabi kita s.a.w, bersabda:
(Ith-thala'tu fil-jannati fa ra-aitu ak-tsara ahlihal-fuqaraa-a wath-thala'tu fin-naari fa ra-aitu ak-tsara ahlihal-agh-niyaa-a wan-nisaa-a).
Artinya: "Aku menjenguk dalam Syurga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir. Dan aku menjenguk dalam neraka, maka aku melihat kebanyakan isinya orang-orang kaya dan kaum wanita".

Pada lafal yang lain:
(Fa-qultu ainal-agh-niyaa-u, fa qiila: habasahumul-jaddu).

Artinya: "Maka aku bertanya: "Mana orang-orang kaya?". Lalu dikatakan: "Mereka ditahan oleh kekayaan". [ Dirawikan Ahmad dari Abdullah bim Amr, dengan isnad yang baik. ]

Tersebut pada hadits yang lain:
(Fa-ra-aitu ak-tsara ahlin-naarin-nisaa-a. Fa-qultu: maa sya'-nuhunna? Fa qiila : sya-ghalahunnal-ahmaraani: adz-dzahabu waz-za'faraanu).

Artinya: "Lalu aku melihat kebanyakan penghuni neraka itu kaum wanita. Lalu aku bertanya: "Apakah keadaan kaum wanita itu?". Maka dijawab: "Mereka disibukkan oleh dua yang merah: emas dan pohon kumkuma"[ Dirawikan dari Usamah, Ibnu Abbas dan 'Imran bin AI-Hushain. Yang dari Usamah, dirawikan AI-Bukhari dan Muslim (It-tihaf, jilid IX, halaman 276). ]

Nabl s.a.w. bersabda:



(Tuhfatul-mu'mini fid-dun-yal-faqru).

Artinya: "Hadiah orang mu'min dalam dunia itu ke-fakir-an". [ Dirawikan Muhammad bin Khafif Asy•Syirazi dan Abu Mansur Ad•Dailami dari Ma'adz bin Yabal. ]

Dan pada hadits, tersebut:

(Aa-khirul an-biyaa-i du khuulanl-jannata sulaimaanub-nu daawuudu¬'alaihimas-salaamu Ii makaani mulkihi wa-aakhirul ash-haabii dukhuulanl jannata 'abdurrahmaanib-nu 'aufin Ii-ajIi ghinaahu).

Artinya: "Nabi yang terkemudian masuk Syurga, ialah: Sulaiman putera Dawud a.s. karena kedudukan kerajaannya. Dan shahabatku yang terkemudian masuk Syurga, ialah: Abdurrahman bin 'Auf, karena kekayaannya". [ Dirawikan Ath-Thabrani. ]

Pada hadits lain, tersebut:

(Ra-aituhu da khalal-jannata zahfan).

Artinya: "Aku lihat Abdurrahman bin 'Auf itu masuk Syurga dengan merangkak". [Dirawikan Ahmad dan Ath-Thabrani dari 'Aisyah. ]

Isa AI-Masih a.s. berkata: "Dengan sukar, orang kaya itu masuk Syurga". Pada hadits yang lain, dari keluarga Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda:
(Idzaa ahabbal-Iaahu 'abdanb-talaahu, fa-idzaa ahabbahul-hubbal-baali ghaq-tanaahu). Qiila: wa maq-tanaahu? - Qaala: lam yatruk lahu ahlan wa maalan".
Artinya: "Apabila Allah menyayangi seorang hamba, niscaya dicobaiNYA. Maka apabila disayangiNYA dengan kesayangan yang bersangatan, niscaya di-iqtina' -kanNYA".
Lalu ditanyakan: "Apakah di-iqtina'kanNYA?". Nabi s.a. w. menjawab:

"Allah tidak meninggalkan baginya isteri dan harta".[ Iqtina', artinya harfiah: dikayakan dan diberikan apa yang disimpankan,]

Pada hadits, tersebut:

(Idzaa ra-aital-faqra muqbilan, fa qul marhaban bi syi-'aa rish-shaalihiina,wa i dzaa ra-ai tal-ghinyya muqbilan, fa qul dzanbun 'ujjilat 'uquubatuhu).

Artinya: "Apabila engkau melihat ke-fakir-an datang menghadap kepada engkau, maka katakanlah: "Selamat datang kepada lambang orang-orang sholeh. Dan apabila engkau melihat ke-kaya-an datang menghadap kepada engkau, maka katakanlah: "Dosa yang disegerakan siksaannya". [ Dirawikan Abu Mansur Ad-Dailami dari Abid-Darda'. ]

Nabi Musa a.s. bertanya kepada Tuhan: "Hai Tuhanku! Siapakah kekasihMU dari makhlukMU, sehingga aku cintai mereka karenaMU?". Maka Allah berfirman: "Setiap orang fakir-orang fakir".
Maka mungkin kata yang kedua itu untuk penguatan yang pertama. Dan mungkin, bahwa dimaksudkan dengan yang kedua itu (perkataan: orang fakir yang kedua) itu, akan orang yang sangat melarat.

Isa AI-Masih a.s. berkata: "Bahwa aku lebih mencintai kemiskinan dan memarahi kenikmatan". Dan nama yang paling disukai nabi Isa a.s. ialah, bahwa ia dipanggil: "Hai orang miskin!".

Tatkala kepala-kepala orang Arab dan orang-orang kaya mereka mengatakan kepada Nabi s.a.w.: "Jadikanlah untuk kami suatu hari dan untuk mereka suatu hari. Mereka datang kepada engkau dan kami tidak datang. Dan kami datang kepada engkau dan mereka tidak datang". Mereka maksudkan dengan demikian itu, ialah: orang-orang miskin. Seperti: Bilal, Salman, Shuhaib, Abi Dzarr, Khabab bin AI-Arat, Ammar bin Yasir, Abi Hurairah dan orang-orang miskin penghuni Ash-Shaffah. Kiranya mereka sekalian memperoleh ke-rela-an Allah Ta'ala. [ASh,Shaffah. tempat tamu.tamu Nabi s.a.w. dekat rumahnya. Dan tempat itu sampai sekarang masih ada.tidak jauh dari dinding makam Nabi s.a.w. ]

Nabi s.a.w. memperkenankan permohonan mereka. Dan yang demikian, karena mereka mengadu kepada Nabi s.a.w. akan terganggu kesenangan mereka. Dan pakaian orang-orang itu kain bulu pada waktu sangat panas. Maka mereka tahu, betapa berkembangnya bau yang tidak enak dari kain mereka. Lalu sangatlah berat yang demikian, kepada orang-orang kaya. Di antara mereka itu: AI-Aqra' bin Habis At-Tamimi, Uyainah bin Hashan AI-Fazari, Abbas bin Mardas As-Silmi dan lain-lain.
Maka nabi s.a.w. memperkenankan permohonan mereka, bahwa mereka tidak berkumpul dengan orang-orang itu pada satu majlis.

Maka turunlah firm an Allah Ta'ala kepada Nabi s.a.w.:
(Wash-bir nafsaka ma'al-Iadziina yad-'uuna rabbahum bil ghadaati Wal 'asyiy-yi yuriiduuna wajhahu wa laa ta'ud 'ainaaka-'anhum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-ya wa laa tuthi'-man agh-falnaa falahu 'an dzikrinaa wat-taba'a hawaahu wa kaana amruhu furuthan. Wa qulil-haqqu min rabbikum fa man syaa-a fal-yu'min wa man syaa-a fal-yakfur, innaa a', tadnaa lidz-dzaalimiina naaran, aha atha bihim su-raa diquhaa, wa in yas, ta ghii-tsuu yu ghaa-tsuu bi maa-in kal-muhli yasy-wil-wujuu-ha, bi'-sasy-syaraabu wa saa-at murtafaqan).

Artinya: "Dan tahanlah hati engkau (bersabar) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan senja, mereka menginginkan ke-rela¬an Tuhan dan janganlah engkau hindarkan pemandangan engkau dari mereka (orang-orang fakir dan miskin), engkau (orang-orang kaya) menghendaki perhiasan kehidupan dunia dan janganlah engkau turut orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingati Kami (orang-orang kaya). Dan diturutinya keinginan nafsunya dan pekerjaannya biasanya diluar batas. Katakanlah: Kebenaran itu datang dari Tuhan. Sebab itu, siapa yang mau, berimanlah dan siapa yang (tidak) mau, maka janganlah beriman, sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka untuk orang-¬orang yang bersalah itu, mereka dilingkungi oleh pagarannya dan kalau mereka meminta minum, diberi minum dengan air seperti tembaga yang dihancur, menghanguskan muka; itulah minuman yang terburuk dan itulah tempat yang paling jahat". [QS.Al-Kahf, ayat 28-29. ]

Ibnu Ummi Maktum (seorang buta) meminta izin berbicara dengan Nabi s.a.w. dan di sisi Nabi s.a.w. seorang laki-laki bangsawan Quraisy. Lalu sukarlah yang demikian itu atas Nabi s.a.w. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat:

('Abasa wa tawallaa, an jaa-ahul-a'maa, wa maa yudriika la-'allahu yazzakkaa, au yaz-zakkaru fa tanfa’ahudz-dzikraa, ammaa manis¬taghnaa, fa-anta lahu ta-shaddaa).

Artinya: "Dia bermasam muka dan membelakang. Disebabkan orang buta datang kepadanya. Dan apakah yang dapat memberi-tahukan kepada engkau, boleh jadi dia seorang yang bersih (hati dan pikirannya)? Atau dia dapat menerima peringatan dan peringatan itu berguna kepadanya? (yakni: Ibnu Ummi Maktum). Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka engkau berhadap kepadanya (Yakni: orang bangsawan itu)". [QS. 'Abasa, ayat 1 sampai 6. ]

Dari Nabi s.a.w. bahwa beliau bersabda: "Hamba itu dibawa pada hari kiamat. Lalu Allah Ta'ala meminta ma'af kepadanya, sebagaimana seorang meminta ma'af kepada seorang di dunia. Maka Allah Ta'ala berfirman: "Demi kemuliaanKU dan keagunganKU! Tiada AKU palingkan dunia dari engkau, karena penghinaan engkau kepadaKU. Akan tetapi, tatkala AKU sediakan bagi engkau kemuliaan dan kelebihan, maka keluarlah, hai hambaKU ke barisan-barisan ini! Maka siapa yang memberi makanan kepada engkau karenaKU atau memberi pakaian kepada engkau karenaKU dan ia menghendaki dengan yang demikian, akan WAJAHKU, maka ambillah pada tangannya! Itu adalah untuk engkau!".
Manusia pada hari itu telah dikekangi oleh keringat. Maka ia memasuki dalam barisan-barisan itu dan melihat: siapa yang berbuat yang demikian dengan dia. Lalu diambilnya dengan tangannya. Dan memasukkannya ke Syurga".[Dirawikan Abusy-Syaikh dari Anas dengan isnad dha’if.]
Nabi S.a.w. bersabda: "Banyakkanlah mengenal orang-orang fakir-miskin! Buatlah tangan (kekuatan) pada mereka! Sesungguhnya mereka itu mempunyai kedaulatan (kekuasaan)".

Para shahabat bertanya: "Apakah kedaulatan mereka?".

Nabi s.a.w. menjawab: "Apabila hari kiamat, maka dikatakan kepada mereka: "Lihatlah siapa yang memberi makan kepada kamu roti hancur atau memberi minum kamu seteguk minuman atau memberi kamu sehelai pakaian. Maka ambillah tangannya dan bawakan dia ke Syurga!". [ Dirawikan Abu Na-'im dari AI-Husain bin Ali. dengan sanad dha’if.]

Nabi s.a.w. bersabda: "Aku masuk Syurga. Lalu aku mendengar bunyi suatu gerakan di hadapanku. Maka aku lihat. Kiranya Bilal. Dan aku lihat di tempat yang tertinggi dari Syurga itu. Rupanya orang-orang fakir-miskin dari umatku dan anak-anak mereka. Dan aku di tempat yang terbawah dari Syurga itu. Tiba-tiba di dalamnya orang-orang kaya dan kaum wanita yang sedikit jumlahnya. Maka aku bertanya: "Hai Tuhanku! Apakah keadaan kaum wanita itu?".
Tuhan berfirman: "Adapun kaum wanita, maka didatangkan kemelaratan kepada mereka oleh dua yang merah: emas dan sutera. Adapun orang-orang kaya, maka mereka sibuk dengan lamanya perhitungan harta. Dan aku mencari para shahabatku, maka aku tiada melihat Abdurrahman bin 'Auf. Kemudian, sesudah itu ia datang kepadaku dan ia menangis. Maka aku tanyakan, apakah yang meninggalkan engkau di belakang aku? Ia menjawab: "Wahai Rasulullah, demi Allah! Aku tiada sampai kepada engkau sebelum aku menemui hal-hal yang membawa rambut beruban. Dan aku menyangka, bahwa aku tiada akan melihat engkau lagi". Lalu aku bertanya: "Mengapa?". Aburrahman bin 'Auf menjawab: "Aku diadakan perhitungan dengan hartaku". [Dirawikan Ath•Thabrani dari Abi Amamah, dengan sanad dha’if. ]

Maka lihatlah kepada ini! Dan Abdurrahman bin 'Auf itu sahabat besar yang terdahulu, yang menyertai Rasulullah s.a.w. Dan dia termasuk orang sepuluh yang khusus, bahwa mereka menjadi isi Syurga. [Dirawikan oleh pengarang-pengarang As Sunan Yang Empat dari Said bin Zaid. Kata AI-Tirmidzi, hadits hasan shahih. ]

Dan dia termasuk orang-orang kaya, yang dikatakan Rasulullah s.a.w. tentang mereka:
(illaa man qaala bil-maali haakadzaa wa haakadzaa).
Artinya: "Selain orang yang mengatakan: dengan harta begini dan begini" [ Dirawikan AI-Bukhari dan Muslim dari Abi Dzarr.]

Meskipun demikian, ia memperoleh kesukaran dengan kekayaan sampai kepada batas tersebut.
Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat seorang laki-Iaki fakir. Maka beliau tiada melihat sesuatu kepunyaannya. Lalu beliau bersabda:

(Lau qussima nuuru haadzaa 'alaa-ahlil-ardli la wasi'ahum).
Artinya: "Jikalau dibagikan cahaya ini kepada penduduk bumi. niscaya telah melapangkan mereka". [Kata AI-Iraqi, beliau lidak menjumpai hadits ini. ]

Nabi s.a. w. bersabda: "Apakah tidak aku terangkan kepada kamu. Raja-raja penghuni Syurga?".
Para shahabat menjawab: "Belum. wahai Rasulullah!".
Nabi s.a.w. menjawab: "Setiap orang lemah. yang terpandang lemah, yang berdebu mukanya, kusut rambutnya. mempunyai dua helai kain buruk, yang tidak diindahkan, jikalau ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah memberi kebajikan kepadanya".[ Dirawikan AI-Bukhari dan Muslim dari Haritsah bin Wahb. ]

'Imran bin Hushain berkata: "Aku memperoleh kedudukan dan kemegahan dari Rasulullah s.a.w. Nabi s.a.w. bersabda: "Hai 'lmran! Engkau mempunyai padaku kedudukan dan kemegahan. Maukah engkau berkunjung pada Fathimah puteri Rasulullah s.a.w.?".

Aku menjawab: "Ya, demi engkau, bapakku dan ibuku, wahai Rasulullah".
Lalu beliau bangun berdiri dan aku bangun berdiri bersama beliau. Sehingga beliau berdiri di pintu rumah Fathimah. Lalu beliau mengetuk pintu dan mengucapkan: "Assalamu 'alaikum, apakah aku masuk?".
Fathimah menjawab: "Masuklah, wahai Rasulullah!".
"Aku dan orang yang bersama aku?".
Fathimah menjawab: "Siapa bersama engkau, wahai Rasulullah?".

Nabi s.a.w. menjawab.     “Imran “
Fathimah lalu berkata: "Demi Allah yang mengutus engkau dengan keben¬aran menjadi nabi! Tak ada padaku, selain baju kurung".
Nabi s.a.w. menjawab: "Buatlah dengan baju kurung itu begini dan begini!” Beliau mengisyaratkan dengan tangannya.
Fathimah mengatakan: "Ini tubuhku, sudah aku tutup. Maka bagaimana dengan kepalaku?".
Lalu Rasulullah s.a.w. melemparkan kepada Fathimah kain tutup kepala, yang biasanya ada pada Rasulullah s.a.w. Lalu beliau bersabda: "Ikatlah dengan kain itu kepala engkau!".

Kemudian, Fathimah mengizinkan masuk. Lalu Rasulullah masuk, seraya mengucapkan: "Assalamu'alaikum, hai anakku, bagaimana engkau pagi-pagi hari ini?".
Fathimah menjawab: "Demi Allah, aku pagi-pagi hari ini lapar. Dan menambahkan aku lapar, lantaran aku tidak mampu membeli makanan yang akan aku makan. Sungguh kelaparan itu telah mendatangkan melarat kepadaku" .
Rasulullah s.a.w. lalu menangis dan bersabda.
(Laa taj-za'ii yab-nataahu, fa wal-Iaahi maa dzuqtu tha-'aaman mundzu tsa-Iaatsin wa innii la-akramu 'alal-Iaahi minki wa lau sa-altu rabbii la-ath¬'amanii wa laakinnii aa tsar-tul-aa khirata 'alad-dun-ya).
Artinya: "Jangan engkau gundah hati, hai puteriku! Demi Allah, aku tiada merasa makanan sejak tiga hari ini. Dan aku adalah lebih mulia dari engkau pada Allah. Jikalau aku minta pada Tuhanku, niscaya IA memberikan aku makanan. Akan tetapi, aku memilih akhirat dari dunia". Kemudian, beliau menepuk dengan tangannya atas bahu Fathimah, seraya berkata kepadanya: "Bergembiralah! Demi Allah, engkau penghulu wanita penghuni Syurga".
Fathimah lalu bertanya: "Dimana Asiah isteri Firaun dan Maryam puteri 'Imran?" .

Nabi s.a.w. menjawab: "Asiah penghulu wanita dunia masanya. Maryam penghulu wan ita dunia masanya. Dan engkau penghulu wanita dunia masa engkau. Kamu semua dalam rumah dari bambu, tak ada kesakitan padanya, tak ada hiruk-pikuk dan tak ada kepayahan".

Kemudian beliau mengatakan lagi kepada Fathimah: "Cukupkanlah dengan anak paman engkau! Demi Allah, telah aku kawinkan engkau dengan penghulu di dunia dan penghulu di akhirat" [Dirawikan Ahmad dari Ma'qal bin Yassar. Dimaksudkan dengan anak paman engkau bagi Fathimah, yaitu Ali menjadi suaminya. ]

Diriwayatkan dari Ali r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:
(Idzaa ab-ghadhan-naasu fuqaraa-ahum wa azh-haruu 'imaaratad-dun-ya wa takaalabuu 'alaa ja mi- 'id-daraahimi ramaahumul-laahu bi-arba-'i khi shaalin, bil-qah-thi minaz-zamaani wa-jauri minas-sulthaani wal¬khiyaanati min wulaatil-ahkaami wasy-syaukati minal-a'-daa-i).

Artinya: "Apabila manusia memarahkan orang-orang fakir, melahirkan bangunan dunia dan mereka sangat loba mengumpulkan dirham (harta), niscaya mereka dilemparkan oleh Allah dengan empat perkara: dengan musim kemarau panjang, kezaliman dari penguasa, kekhianatan dari pemegang-pemegang hukum dan keperkasaan dari musuh".[Dirawikan Abu Mansur Ad-Dailami, hadits yang dibantah (munkar).]

Adapun atsar, maka berkata Abud-Darda' r.a.: "Orang yang mempunyai dua dirham lebih kuat menahankannya". Atau beliau mengatakan: "Lebih kuat menghitung dari orang yang mempunyai sedirham".

Umar r.a. mengirim uang kepada Sa'id bin 'Amir sebanyak seribu dinar. Lalu Sa'id bin 'Amir datang dengan kesedihan dan kegundahan. Lalu isterinya bertanya: "Adakah terjadi sesuatu?".
Sa'id bin Amir menjawab: "Lebih berat dari itu". Kemudian Sa'id berkata kepada isterinya: "Perlihatkanlah kepadaku baju besimu yang buruk!". Lalu dipecahkannya, dijadikannya beruas-ruas dan dicerai-beraikannya. Kemudian, ia bangun mengerjakan shalat dan menangis sampai pagi. Kemudian ia mengatakan: "Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
(Yad-khulu fuqaraa-u ummatil~jannata qablal-agh-niyaa-i bi khamsi-mi-ati 'aamin hatta annar-rajula minal-agh niyaa-i yad-khulu fii ghimaarihim fa¬yu' -khadzu bi-yadihi fa-yus-takh-raju). \

Artinya: "Orang-orang fakir dari umatku akan masuk Syurga sebelum orang-orang kaya dengan limaratus tahun. Sehingga seorang laki-Iaki dari orang-orang kaya itu, masuk dalam rombongan orang-orang fakir. Lalu dipegang tangannya dan dikeluarkan".[ Dirawikan At-Tirmidzi dari Abi Hurairah dan dipandangnya shahih.]

Abi Hurairah r.a. berkata: "Tiga golongan masuk Syurga, tanpa hitungan amal (hisab), yaitu: orang yang bermaksud mencuci kainnya, lalu tidak mempunyai kain buruk yang akan dipakainya, orang yang tidak mendirikan di atas tungku akan dua periuk dan orang yang meminta minuman, maka tidak ada yang mengatakan kepadanya: "Mana yang engkau kehendaki?”

Dikatakan, bahwa seorang fakir datang ke majlis Ats-Tsuri r.a Lalu Ats¬ Tsuri mengatakan kepada orang fakir itu: "Engkau gariskan. Jikalau engkau kaya, niscaya aku tidak mendekatimu". Orang-orang kaya dari sahabat-sahabat Ats-Tsuri, menyukai bahwa mereka menjadi orang ;akir, karena banyak mendekatnya Ats-Tsuri kepada orang-orang fakir dan berpalingnya Ats-Tsuri dan orang-orang kaya.

AI-Muammal berkata: "Tiada aku melihat orang kaya yang lebih hina, pada majlis Ats-Tsuri. Dan tiada aku melihat orang fakir yang lebih mulia, pada majlis Ats-Tsuri. Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepadanya" .

Setengah ahli hikmah berkata: "Kasihan anak Adam! Jikalau ia takut dari api neraka sebagaimana ia takut dari kemiskinan, niscaya ia terlepas dari¬pada keduanya. Jikalau ia ingin kepada Syurga, sebagaimana ia ingin kepada kekayaan, niscaya ia memperoleh kemenangan daripada keduanya. Jikalau ia takut kepada Allah pada batinnya, sebagaimana ia takut kepada makhlukNYA pada zahirnya, niscaya ia berbahagia pada dua negeri".

Ibnu Abbas berkata: "Terkutuk orang yang memuliakan orang kaya dan menghinakan orang miskin".

Lukmanul-hakim berkata kepada puteranya: "Jangan engkau hinakan seseorang karena buruk kainnya. Sesungguhnya Tuhan engkau dan Tuhan dia itu SATU".

Yahya bin Ma'adz berkata: "Kecintaanmu kepada orang-orang fakir itu sebahagian dari akhlak para rasul. Engkau pilih duduk-duduk bersama mereka itu termasuk tanda orang-orang sholeh. Dan larinya engkau daripada menemani mereka itu, termasuk tanda orang-orang munafik". Dalam berita kitab-kitab terdahulu, bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada sebahagian nabi-nabiNYA a.s.: "Jagalah bahwa AKU memarahi engkau, lalu engkau jatuh dari pandanganKU! Lalu aku tuangkan dunia kepada engkau dengan tuangan benar-benar".

Adalah 'Aisyah r.ha. membagi-bagikan uang seratus ribu dirham dalam sehari, yang diberikan kepadanya oleh Mu'awiah, Ibnu 'Amir dan lain¬-lain. Dan baju besinya sudah koyak. Pelayannya mengatakan kepadanya:
Jikalau aku belikan untukmu se dirham daging yang akan engkau berbuka?". Dan 'Aisyah itu berpuasa. Maka 'Aisyah menjawab: "Jikalau engkau ingatkan aku tadi, niscaya aku laksanakan". Adalah Rasulullah s.a.w. meninggalkan wasiat kepada 'Aisyah r.ha. Nabi s.a.w. bersabda:
(In aradtil-luhuuqa bii fa-'alaiki bi-'aisyil-fuqaraa-i wa iyyaaki wa mujaala¬satal-agh-niyaa i wa laa tanza-'ii dir-‘aki hatta turaqqi-'iihi).

Artinya: "Kalau engkau mau mengikuti aku, maka haruslah engkau dengan hidup orang-orang fakir. Dan jagalah diri engkau duduk-duduk dengan orang-orang kaya! Dan janganlah engkau membuka baju besi engkau, sebelum baju itu koyak berkeping-keping". [Dirawikan At-Tirmidzi dan katanya: hadits sharib.]

Seorang laki-Iaki membawa uang kepada Ibrahim bin Adham sebanyak sepuluh ribu dirham. Ibrahim bin Adham enggan menerimanya. Lalu laki-laki tersebut meminta dengan sangat supaya beliau menerimanya. Maka Ibrahim menjawab: "Apakah engkau mau menghapuskan namaku dari daftar orang-orang fakir, dengan sepuluh ribu. dirham? Aku tidak akan berbuat demikian untuk selama-lamanya". Kiranya Allah meredhai Ibrahim bin Adham.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”