DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: Keutamaan kekhususan orang-orang fakir, dari orang-orang yang redha, orang-orang yang bersifat merasa cukup dan orang-orang yang benar.

IHYA ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: Keutamaan kekhususan orang-orang fakir, dari orang-orang yang redha, orang-orang yang bersifat merasa cukup dan orang-orang yang benar.


Rasulullah s.a.w. bersabda:

(Thuubaa Ii-man hudiya ilal-islaami wa kaana 'aisyuhu kafaafan wa qana 'a bi-hi).
Artinya: "Kebaikan bagi orang yang memperoleh petunjuk kepada Islam! Dan kehidupannya tidak memerlukan kepada bantuan orang dan merasa cukup dengan yang demikian".[ Dirawikan Muslim dan telah diterangkan dahulu]

Nabi s.a.w. bersabda:


(Yaa-ma '-syaral-fuqaraa-i -a'-thul-Iaahar-ridhaa min quluubikum tadh-faruu  bi-tsawaabi faqrikum wa illaa fa laa).

Artinya: "Wahai jama'ah orang-orang fakir! Serahkanlah kepada Allah akan keredhaan dari hatimu, niscaya kamu memperoleh dengan pahala ke-fakir-anmu! Jikalau tidak, maka engkau tidak memperolehnya".[ Dirawikan Abu Manshur Ad-Dailami dari Abi Hurairah, dha’if sekali ]


Yang pertama tadi, ialah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada (al-qani'). Dan ini dinamakan: orang yang redha (ar-radhi). Dan hampirlah dapat dirasakan ini dengan yang dipahamkan, bahwa orang yang rakus itu tiada mendapat pahala dengan ke-fakir-annya. Akan tetapi, secara umum yang menerangkan tentang keutamaan ke-fakir-an, menunjukkan bahwa orang itu mempunyai pahala, sebagaimana akan datang pentahkikannya. Semoga dimaksudkan dengan tidak redha itu ialah: benci kepada perbuatan Allah, tentang menahan dunia daripadanya. Dan banyaklah orang yang ingin pada harta, yang tidak terguris di hatinya  untuk menentang Allah Ta'ala dan tidak benci pada perbuatanNYA. Maka kebencian itu ialah: yang membatalkan pahala ke-fakir-an.

Diriwayatkan dari Umar bin AI-Khath-thab r.a. dari Nabi S.A.W  yang bersabda: 
(Inna li-kulli syai-in miftaahan wa miftaahul-jannati hubbul-masaakiini wal-fuqaraa-i Ii shabrihim,hum julasaa-ullaahi ta-'aalaa yaumal-qiyamati).

Artinya: "Setiap suatu itu mempunyai kunci. Dan kunci Syurga itu mencintai orang miskin dan orang fakir, karena kesabaran mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang duduk bersama Allah pada hari kiamat".[ Dirawikan Ad-Daraquthni dan lain-lain dari Ibnu Umar, hadits dha’if.].

Dirawikan dari Ali r.a., dari Nabi s.a.w., yang bersabda:

(Ahabbul-'ibaadi ilal-Iaahi ta'aalal-faqiirul-qaani-'u bi rizqihir-raadhii 'anil-laahi ta- 'aalaa).

Artinya: "Hamba yang paling dikasihi Allah Ta'ala, ialah: orang fakir yang merasa cukup dengan rezeki yang diperolehnya, yang redha dengan apa yang dianugerahkan Allah Ta'ala".[ Menurut AI-Iraqi, beliau tidak menjumpai hadits, yang bunyinya begini. ]

Nabi s.a.w. berdo'a:

(Allaahummaj-'al quuta - aali Muhammadin kafaafan).

Artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Jadikanlah makanan biasa keluarga Muhammad itu tidak memerlukan bantuan orang".[ Dirawikan Muslim dari Abi Hurairah].

Nabi s.a.w. bersabda:

(Maa min-ahadin ghaniyyin  wa laa faqiirin illaa wadda yaumal-qiyaamati annahu kaana uutiya quutan fid-dun-ya).

Artinya: "Tiada seorang pun, baik kaya atau fakir, melainkan ia ingin pada hari kiamat bahwa ia diberikan makanan didunia".[ Dirawikan Ibnu Majah dari Anas.].

Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi Isma'il a.s. : "Carilah AKU pada mereka yang pecah hatinya!".

Nabi Isma'il a.s. bertanya: "Siapakah mereka itu?". Allah Ta 'ala berfirman: "Orang-orang fakir yang benar".

Nabi s.a.w. bersabda:

(Laa ahada af-dhalu minal-faqiiri idzaa kaanaraadhi-yan).

Artinya: "Tiada seorang pun yang lebih utama dari orang fakir, apabila dia itu redha dengan ke-fakirannya". [Kata AI-Iraqi, beliau tiada menjumpai hadits dengan lafal ini.]

Nabi s.a.w. bersabda: "Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat:

"Manakah orang-orang pilihanKU dari makhlukKU?

Para malaikat bertanya: "Siapakah mereka, wahai Tuhan kami?".

Allah Ta'ala berfirman: "Orang-orang muslim yang fakir, yang merasa cukup dengan pemberianKU, yang redha dengan takaranKU. Masukkanlah mereka ke Syurga!".

Lalu mereka masuk Syurga, makan dan minum di dalamnya. Dan manusia lain pulang pergi pada perhitungan amal (hisab)". [Dirawikan Abu Mansur Ad-Dailami].

Ini tentang orang al-qani' dan aI-radhi!.
Adapun orang zuhud (az-zahid), maka akan kami sebutkan keutamaannya pada bahagian kedua dari Kitab ini, insyaAllahu Ta'ala.

Adapun atsar yang menerangkan tentang ar-redha dan al-qana'ah, maka banyak. Dan tidak tersembunyi lagi, bahwa al-qana'ah itu, lawannya ath-thama' (Ioba). Umar r.a. berkata: "Sesungguhnya loba itu kemiskinan. Dan putus harapan dari manusia itu suatu kekayaan. Sesungguhnya siapa yang tiada mengharap dari apa yang dalam tangan manusia dan merasa cukup dengan apa adanya, niscaya ia tidak memerlukan kepada manusia".

Abu Mas'ud r.a. berkata: "Pada setiap hari ada seorang malaikat yang menyerukan dari bawah 'Arasy: "Hai anak Adam! Sedikit yang mencukupi bagi engkau adalah lebih baik dari banyak yang membawa engkau durhaka".

Abud-Darda' r.a. berkata: "Setiap orang, ada pada akalnya kekurangan. Yang demikian itu, apabila ia didatangkan oleh dunia dengan kelebihan, niscaya selalulah ia suka dan gembira. Malam dan siang itu terus berjalan menghancurkan umurnya. Kemudian, yang demikian itu, tidak menggundahkannya. Kasihan anak Adam! Apakah bermanfaat harta yang bertambah dan umur yang berkurang?".

Ditanyakan kepada sebahagian ahli hikmah: "Apakah kekayaan itu?'. Ahli hikmah itu menjawab: "Sedikit angan-angan engkau dan redha engkau dengan apa yang memadai bagi engkau".

Dikatakan, adalah Ibrahim bin Adham termasuk orang yang menikmati kesenangan hidup di Khurasan. Pada suatu hari, ketika ia menjeguk dari istananya, tiba-tiba ia memandang kepada seorang laki-Iaki di halaman istana. Dan di tangan orang itu roti yang sedang dimakannya. Tatkala orang itu siap makan, lalu tidur. Maka Ibrahim bin Adham berkata kepada sebahagian budaknya: "Apabila orang itu bangun, maka bawalah ia kepadaku!" .

Tatkala orang itu sudah bangun, lalu ia dibawa kepada Ibrahim bin Adham. Ibrahim itu lalu bertanya: "Hai laki-laki! Engkau makan roti, apakah engkau lapar?".
Orang itu menjawab: "Ya!".
Ibrahim itu bertanya lagi: "Apa sekarang sudah kenyang?". Orang itu menjawab: "Ya!".
Ibrahim bertanya pula: "Kemudian, engkau tidur dengan baik'!". Orang itu menjawab: "Ya!".
Lalu Ibrahim mengatakan pada dirinya: "Maka apakah aku perbuat dengan dunia dan diri manusia itu merasa cukup dengan kadar itu?".

Seorang laki-Iaki melintasi 'Amir bin Abdul-qis, yang sedang makan daging dan sayuran. Lalu orang itu bertanya kepada 'Amir bin Abdul-qis:  "Hai hamba Allah! Adakah engkau redha dari dunia dengan ini?".

'Amir bin Abdul-qis menjawab: "Apakah tidak aku tunjukkan engkau, kepada orang yang redha dengan lebih buruk dari ini?".

Orang itu menjawab: "Ya, ada!".

'Amir bin Abdul-qis menyambung kata-katanya: "Siapa yang redha dengan dunia, sebagai ganti dari akhirat?".

Muhammad bin Wasi' r.a. mengeluarkan roti kering. Lalu dibasahkannya dengan air dan dimakankannya dengan garam, seraya mengatakan: "Siapa yang redha dari dunia dengan ini, niscaya ia tidak memerlukan kepada seseorang" .

AI-Hasan AI-Bashari r.a. berkata: "Allah mengutuk beberapa kaum (golongan), yang telah dibagikan oleh Allah Ta'ala kepada mereka. Kemudian tidak disedekahkannya".

Kemudian beliau bacakan:

(Wa fis-samaa-i rizqukum wa maa tuu-'aduuna, fa wa rabbis-samaa-i wal-ar-dhi, innahu lahaqqun mits-Ia maa annakum tan-thiquuna).

Artinya:"Dan di langit ada rezekimu dan (juga) apa yang dijanjikan kepada kamu. Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya ini suatu kebenaran, sebagai apa yang kamu katakan". [QS.Adz-Dzariyat, ayat 22-23].

Pada suatu hari. Abu Dzarr r.a. duduk dalam orang banyak. Lalu datang isterinya kepadanya, seraya bertanya: "Apakah engkau duduk di antara mereka ini? Demi Allah! Tidak ada di rumah itu yang diminum dan yang dimakan".

Abu Dzarr menjawab: "Hai wanita ini' Sesungguhnya di hadapan kita itu jalan gunung yang sukar ditempuh. Tidak terlepas daripadanya, selain setiap orang yang memandang enteng".

Lalu isteri Abu Dzarr itu kembali ke rumahnya dan ia redha yang demikian".

Dzunnun r.a. berkata: "Manusia yang terdekat kepada kekufuran itu orang yang sempit hidupnya  yang tidak sabar".

Ditanyakan kepada sebahagian ahli hikmah: "Apakah harta engkau?". Ahli hikmah itu lalu menjawab: "Berkeelokan pada zahir, berkesederhanaan pada batin dan tidak mengharap dari apa yang dalam tangan manusia.”

Diriwayatkan, bahwa Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam sebahagian kitab-kitab yang terdahulu, yang diturunkan kepada nabi-nabi: "Hai anak Adam! Jikalau dunia itu seluruhnya untuk engkau, niscaya tidak adalah bagi engkau daripadanya, selain makanan yang engkau makan. Apabila AKU berikan kepada engkau daripadanya, akan makanan dan AKU jadikan perhitungannya atas orang lain, maka AKU berbuat baik kepada engkau".

Dikatakan dalam rangkuman syair, tentang al-qana’ah:
Berendah dirilah kepada Allah.
tidak berendah diri kepada manusia.
Dengan tiada mengharap, merasa cukuplah,
bahwa pada tidak mengharap itu, mulia.

Merasa kayalah tanpa kaum keluarga, dan tanpa sanak saudara.
Bahwa orang yang kaya, ialah orang yang tidak memerlukan kepada manusia.

Dikatakan pula sesuai dengan makna ini:
Hai orang yang mengumpulkan, yang tidak membelanjakan.
Dan masa itu memperhatikannya.
Yang menerka dengan menanyakan,
pintu mana yang dikuncikannya.

Yang memikirkan, bagaimana kematian datang kepadanya.
Apa kepagian, atau malam datang kepadanya?
Engkau kumpulkan harta, maka katakan kepadaku:
Adakah engkau kumpulkan karena harta itu? Hai yang mengumpulkan harta!
Beberapa hari lagi engkau akan menceraikanya.

Harta padamu itu, tersimpan untuk pewarisnya.
Tidaklah harta itu hartamu, selain hari engkau membelanjakannya.

Senangkanlah hati pemuda, yang berpagi hari dia percaya.
Bahwa orang yang membagi-bagikan harta, dia akan memperoleh rezeki daripadanya.

Harta itu terpelihara, tiada yang mengotorkannya.
Dan yang baru itu muka, tiada yang memburukkannya.

Sifat qana'ah itu bagi orang, yang menghalalkan lapangannya.
Tak ada kesusahan, pada naungannya yang menyusahkannya.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”