DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: hakikat fakir dan perbedaan hal-ihwal orang fakir dan nama-namanya

IHYA’ ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: hakikat fakir dan perbedaan hal-ihwal orang fakir dan nama-namanya.


Ketahuilah, bahwa kefakiran (kemiskinan) itu ibarat daripada ketiadaan apa yang dibutuhkan. Adapun ketiadaan apa yang tidak dibutuhkan, maka tidak dinamakan: fakir.
Jikalau yang dibutuhkan itu ada dan disanggupi, nescaya tidaklah orang yang membutuhkan itu orang fakir.
 
Apabila anda telah memahami ini, nescaya anda tidak ragu lagi, bahwa setiap yang maujud, selain dari Allah Ta'ala, maka itu: fakir.

Kerana ia memerlukan kepada kekekalan wujud pada yang kedua keadaan. Dan kekal wujudnya itu diperolehnya dari kurnia dan kemurahan Allah Ta'ala. Maka kalau pada wujud itu ada yang MAUJUD, yang tidak wujudnya dipelolehnya dari yang lain, maka DIA itu kaya mutlak. Dan tidak tergamhar dalam pikiran, bahwa ada MAUJUD yang seperti ini, selain : SATU.
Maka tidak adalah pada wujud, selain  SATU YANG KAYA. Dan setiap yang lainnya, maka mereka memerlukan  kepadaNYA, supaya tertolong wujud mereka kepada kekekalan. Dan kepada hinggaan ini, diisyaratkan dengan firman Allah Ta'ala:

 
(Wal-laahul-ghaniyyu wa-antumul-fuqaraa-u)
Artinya: "Allah itu serba cukup (Kaya) dan kamu mempunyai keperluan (fakir) kepadaNYA. [QS.Muhammad. ayat 38. ]

Ini makna fakir secara mutlak. Akan tetapi, tidaklah kami maksudkan penjelasan fakir secara mutlak. Tetapi: fakir dari harta khususnya. Kalau tidak  demikian, maka kefakiran hamba dengan disandarkan kepada bermacam-macam keperluan, tidaklah terhingga. Kerana hajat keperluannya itu tidak ada hinggaannya. Dan dari jumlah hajat keperluannya itu, apa yang tercapai dengan harta. Yaitu: yang kami maksudkan sekarang menerangkannya saja. Maka kami berkata:
Setiap orang yang ketiadaan harta, maka kita namakan: orang fakir. di sandarkan kepada harta yang tiada dipunyainya, apabila yang ketiadaan itu diperlukannya. Kemudian, tergambarlah bahwa ia mempunyai lima hal ketika fakir. Dan kami membedakannya dan mengkhususkannya setiap hal itu, dengan: suatu nama. Supaya kita sampai dengan pembedaan itu. kepada menyebutkan hukum-hukumnya.

Hal pertama: yaitu: Yang tertinggi. bahwa jikalau ia diberikan harta, nescaya tidak disukainya dan ia menderita denga harta itu. la lari daripada mengambilnya, dengan kemarahan. Dan ia menjaga dirinya dari kejahatan dan gangguan harta itu.
Itulah: zujud namanya. Dan orang yang bersifat demikian, dinamakan: Orang zahid.

Hal kedua: bahwa ia tidak gemar padanya, dengan kegemaran yang menggembirakannya kerana diperolehnya. Dan tidak membencikannya, dengan kebencian yang menyakitkannya. Dan ia zuhud, kalau ia memperolehnya. Orang yang berkeadaan seperti ini, dinamakan: orang yang rela (yang senang dengan yang demikian).

Hal ketiga: bahwa adanya harta itu disukainya, dibandingkan daripada fidak adanya. Kerana kesukaannya pada harta itu. Akan tetapi, tidak sampai kegemarannya itu menggerakkannya untuk mencarinya. Tetapi, jikalau datang kepadanya, dengan bersih, tanpa diminta, nescaya diambilnya. Dan ia gembira dengan yang demikian. Dan kalau memerlukan kepada kepayahan pada mencarinya, nescaya ia tidak berbuat untuk yang demikian. Orang yang mempunyai sifat yang demikian, kami namakan: orang yang mencukupkan apa adanya (qani'). Kerana ia mencukupkan dirinya dengan yang ada. Sehingga ia meninggalkan mencari, serta ada padanya keinginan yang lemah.

Hal ke empat: bahwa ia tidak mencari, lantaran ia lemah. Kalau tidak. maka ia gemar padanya, dengan kegemaran, jikalau ia memperoleh jalan kepada mencarinya, walaupun dengan kepayahan, nescaya dicarinya. Atau ia sibuk dengan mencarinya. Dan orang yang mempunyai keadaan seperti ini, maka kami namakan: orang rakus.

Hal Kelima: bahwa apa yang tidak dipunyainya sangat diperlukannya, seperti: orang yang lapar, yang ketiadaan roti dan orang yang telanjang, yang ketiadaan kain. Orang yang mempunyai keadaan seperti ini, dinamakan: orang yang sangat memerlukan (mudh-thar), bagaimanapun kegemaran pada mencari itu. Adakalanya kegemaran itu Iemah dan adakalanya kuat. Dan sedikitlah terlepas keadaan ini dari kegemaran (keinginan ).

Maka inilah lima hal. Yang paling tinggi daripadanya, ialah: zuhud. Sangat memerlukan kepada sesuatu, jikalau bercampur kepadanya sifat zuhud dan tergambar yang demikian itu, maka adalah darjat zuhud yang teratas, sebagaimana akan datang penjelasannya.

Di balik lima hal ini, ada suatu hal yang lebih tinggi dari zuhud. Yaitu yang sama padanya, ada harta dan tidak adanya. Kalau diperolehnya, ia tidak bergembira dan tidak menderita. Dan kalau tidak diperolehnya maka demikian juga. Akan tetapi, halnya adalah seperti halnya 'Aisyah r.ha. ketika diberikan kepadanya seratus ribu dirham. Maka diambilnya dan dibagi-bagikannya di hari itu juga. Lalu pelayannya mengatakan:
"Apakah engkau tidak sanggup pada apa yang engkau bagi-bagikan pada hari ini, untuk membelikan bagi kami dengan se dirham, akan daging yang akan kami berbuka dengan daging itu?".
'Aisyah La. lalu menjawab: "Kalau engkau mengingatkan aku nescaya aku perbuat". [Dirawikan Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya. bahwa Mu'awiyah pada suatu kali, mengirimkan wang kepada 'Aisyah r.ha. seratus ribu dirham. lalu 'Aisyah membagi-bagikannya di hari itu juga (lttihaf. jilid IX. hal. 267). ]

Orang yang ini halnya, jikalau adalah dunia dengan segala isinya dalam tangannya dan gudang-gudangnya, nescaya tidak mendatangkan melarat baginya, Kerana ia melihat harta-harta itu dalam simpanan Allah Ta'ala. Tidak dalam tangannya sendiri. Maka ia tidak membedakan, di antara adanya harta-harta itu dalam tangannya atau dalam tangan orang lain. Dan seyogialah orang yang mempunyai keadaan seperti ini, dinamakan: orang yang merasa kaya. Kerana ia sama-sama merasa kaya, dengan tidak adanya harta dan dengan adanya.

Dan hendaklah dipahami dari nama ini, akan suatu makna, yang membedakan akan nama kaya mutlak kepada Allah Ta'ala dan kepada orang yang banyak hartanya dari hamba-hambaNYA. Maka orang yang banyak hartanya dari para hamba dan ia bergembira dengan yang demikian, maka orang itu berhajat kepada kekalnya harta dalam tangannya. Dan dia itu kaya, dengan tak usah masuknya harta dalam tangannya. Tidak dari kekalnya harta itu.

jadi, dia itu fakir (memerlukan) dari satu segi. Dan orang ini, kaya dengan tidak memerlukan masuknya harta dalam tangannya, dari kekalnya harta itu dalam tangannya dan juga dari keluarnya harta itu dari tangannya. Ia tidak menderita untuk diperlukannya kepada pengeluarannya. Dan ia tidak bergembira untuk diperlukannya kepada kekalnya harta itu. Dan ia tidak merasa ketiadaan harta, untuk diperlukannya supaya masuk dalam tangannya. Maka kayanya itu lebih cenderung kepada secara umum. Yaitu: lebih mendekati kepada kekayaan yang menjadi sifat Allah Ta'ala. Sesungguhnya hamba itu dekat kepada Allah Ta'ala. ialah: dengan dekat sifat-sifatnya. Tidak dengan dekat tempat.

Akan tetapi, kami tidak menamakan orang yang mempunyai keadaan seperti ini: orang kaya. Akan tetapi: orang yang merasa kaya. Supaya kekallah kaya itu nama bagi YANG KAYA MUTLAK, dari setiap sesuatu. adapun hamba ini, maka jikalau ia merasa kaya dari harta, adanya atau tidaknya harta itu, nescaya ia tidak merasa kaya dari segala sesuatu yang lain dan harta. Ia tidak merasa kaya dari pertolongan taufiq Allah kepadanya, supaya kekal perasaan kekayaannya yang telah dihiaskan oleh Allah akan hatinya. Sesungguhnya hati yang dikaitkan dengan kecintaan harta itu budak. Dan yang merasa kaya dari harta itu merdeka. Dan Allah Ta'ala yang memerdekakannya dari perbudakan ini. Maka ia memerlukan kepada kekalnya kemerdekaan tersebut. Dan hati itu bulak-balik di antara kebudakan dan kemerdekaan, pada waktu-waktu yang berdekatan. Kerana hati itu di antara dua anak jari dari jari-jari Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka kerana itulah, nama kaya tidak dimutlakkan kepada hamba serta kesempurnaan ini, selain secara majaz (tidak hakiki).

Ketahuilah kiranya, bahwa zuhud itu suatu darajat, yang menjadi kesemurnaan orang baik-baik. Dan orang yang mempunyai hal-keadaan ini termasuk orang-orang yang dekat dengan Tuhan (al-muqarrabin). Maka tidak pelak lagi, jadilah zuhud itu suatu kekurangan pada pihaknya. Kerana kebaikan-kebaikan orang baik-baik itu merupakan keburukan bagi orang-orang al-muqarrabin. Dan ini, kerana orang yang benci kepada dunia itu disibukkan dengan dunia. Sebagaimana orang yang gemar kepada dunia itu disibukkan dengan dunia. Dan kesibukkan dengan selain Allah Ta'ala itu hijab (dinding) daripada Allah Ta'ala. Kerana tiada jauh di antara engkau dan Allah Ta 'ala, sehingga adalah jauh itu suatu hijab. Sesungguhnya IA lebih dekat kepada engkau dari urat leher. Dan tidaklah DIA pada suatu tempat, sehingga langit dan bumi itu hijab di antara engkau dan DIA. Maka tiada hijab di an tara engkau dan DIA, selain oleh kesibukan engkau dengan yang lain. Dan kesibukan engkau dengan diri engkau sendiri dan nafsu-syahwat engkau itu adalah kesibukan dengan yang lain. Dan engkau senantiasa sibuk dengan diri engkau sendiri dan dengan nafsu-syahwat engkau. Maka seperti demikianlah engkau senantiasa terpijab daripadaNYA.

Maka orang yang sibuk dengan mencintai dirinya sendiri itu adalah kcsi bukan yang menjauhkannya dari Allah Ta'ala. Dan orang yang sibuk dengan kemarahan dirinya juga kesibukan yang menjauhkannya dari Allah Ta'ala. Bahkan, setiap sesuatu selain Allah, contohnya adalah seperti orang yang mengintip, yang hadlir pada suatu majclis, yang berkumpul padanya orang yang rindu (al- 'asyiq) dan yang dirindukan (aI-ma'syuq). Maka jikalau I'lati si al-'asyiq berpaling kepada ar-raqih (pengintipJ, kepada kemarahannya, keberatannya dan kebencian hadlir nya maka si al- 'asyiq pada ketika kesibukan hatinya dengan kemarahan itu, terpaling dari kelazatan menyaksikan al-ma'syuqnya. Dan kalau kerin-duan itu menenggelamkannya, nescaya ia lupa dari selain al-ma'syuq. Dan ia tidak akan menoleh kepada yang lain.

Sebagaimana memandang kepada yang bukan al-ma'syuq, kerana cintanya ketika hadlirnya al-ma 'syuq, nescaya ia berkongsi pada kerinduan (ke-asyik-an) itu.

Dan menjadi kurang pada yang dirindukan. Maka begitu pula memandang kepada yang tidak dicintai, kerana kemarahannya, nescaya ia berkongsi padanya dan menjadi berkurang. Akan tetapi, salah satu daripada keduanya itu lebih ringan dari yang lain. Bahkan yang sempurna, ialah: tidak berpaling hati kepada yang tidak dicintai, dalam hal marah dan sayang. Sesungguhnya sebagaimana tiada berkumpul dalam hati dua kecintaan, dalam suatu keadaan, maka tiada berkumpul juga marah dan sayang pada suatu keadaan.

Orang yang sibuk dengan kemarahan kepada dunia itu lalai dari Allah, seperti orang yang sibuk dengan kecintaan kepada dunia. Hanya, orang yang sibuk dengan kecintaan kepada dunia itu lalai. Dan dia dalam kela-laiannya itu berjalan pada jalannya hamba. Dan orang yang sibuk dengan kemarahan kepada dunia itu lalai. Dan dia dalam kelalaiannya itu berja Ian pada jalan kedekatan kepada Allah. Kerana diharapkan bahwa berkesudahan keadaannya kepada hilangnya kelalaian itu. Dan berganti dengan penyaksian (asy-syuhwl). Maka kesempurnaan baginya itu dapat dinantikan datangnya. Kerana kemarahan kepada dunia itu alat yang menyampaikan kepada Allah.

Maka orang yang cinta dan yang marah itu seperti dua orang laki-Iaki pada dua jalan ke hajji, yang disibukkan dengan mengenderai unta, umpannya dan menjalankannya. Akan tetapi, yang seorang menghadap Ka'bah dan yang lain membelakangi Ka'bah. Keduanya sarna, dengan dikaitkan kepada keadaannya, tentang masing-masingnya terhijab dari Ka'hah dan sihuk dari Ka'bah. Akan tetapi, keadaan yang menghadap Ka'bah itu terpuji, dengan dihandingkan kepada yang membelakanginya. Kerana diharapkan yang menghadap itu akan sampai kepada Ka'bah. Dan tidak dipujikan, dcngan dibandingkan kepada orang yang beri'tikaf dalam Ka'hah, ~'ang sclalu eti Ka'hah. yang tiada keluar dari Ka'bah, sampai ia memerlukan kepada mengurus kenderaannya untuk sampai ke Ka'bah.

Maka tiada sayogialah anda menyangka, bahwa kemarahan kepada dunia itu dimaksudkan pada kemarahan itu sendiri. Akan tetapi, dunia itu yang menghalangi dari Allah Ta'ala. Dan tiada akan sampai kepadaNYA, selain  dengan menolak penghalang itu. Dan Kerana itulah, Abu Sulaiman Ad-Darani La. bcrkata: "Siapa yang zuhuu di dunia dan menyingkatkan diri kepada zuhud itu, nescaya ia menyegerakan kepada kesenangan (istirehat). Bahkan, sayogialah ia menyihukkan diri dengan akhirat. Maka di antara perjalanan jalan akhirat di belakang zuhud itu seperti perjalanan jalan hajji di belakang membayar kepada orang yang memperhutangkan, yang menghalangi 'dari hajji.

Jadi, jelaslah, bahwa zuhud di dunia, jikalau dimaksudkan tidak keinginan pada wujudnya dunia dan tidak adanya, maka itu penghabisan kesempurnaan. Dan kalau dimaksudkan keinginan pada tidak adanya dunia, maka itu kesempurnaan, dengan dikaitkan kepada darjat orang yang rela (ar-radli), orang yang merasa puas  seadanya (al-qani) dan orang yang rakus (al-harish). Dan kekurangan dengan dikaitkan kepada darjat orang yang merasa kaya. Bahkan kesempurnaan pada segi harta itu, ialah, bahwa bersamaan pada anda antara harta dan air. Dan banyaknya air pada tetangga anda, tidak menyakitkan anda, dengan adanya banyak air, itu di pantai laut. Dan tidak sedikitnya harta itu menyakitkan anda, selain sekadar darurat, serta harta itu diperlukan, sebagaimana air itu diperlukan. Maka tidaklah hati anda itu disibukkan dengan lari dari tetangga yang berair banyak. Dan tidak dengan kemarahan kepada air banyak. Akan tetapi, anda mengatakan: "Aku minum dari air itu sekadar perlu. Dan aku beri minum akan hamba Allah dari air itu sekadar perlu. Aku tiada kikir dengan air itu kepada seseorang".

Maka begitulah sayogianya bahwa adanya harta itu. Kerana roti dan air itu satu dalam keperluan. Perbedaan di antara keduanya, ialah pada sedi kitnya yang satu dan banyaknya yang lain.

Apabila anda mengenal Allah Ta'ala dan anda percaya dengan pengaturanNYA yang diaturNYA alam dengan yang demikian, nescaya anda tahu, bahwa kadar keperluan anda kepada roti sudah pasti akan datang kepada anda, selama anda masih hidup. Sebagaimana datang kepada anda kadar keperluan anda kepada air, menurut apa yang akan datang penjelasannya pada Kitab Tawakkal insya Allah Ta'ala.

Ahmad bin Abil-Hawari berkata: "Aku mengatakan kepada Abi Sulaiman Ad-Darani: "Malik bin Dinar mengatakan kepada AI-Mughirah: "Pergilah ke rumahku! Ambillah tabung, yang engkau hadiahkan kepadaku! Bahwa musuh membisikkan kepadaku, bahwa pencuri telah mengambilnya". Abi Sulaiman menjawab: "Inilah dari kelemahan hati kaum sufi. Dia ditambahkan dalam dunia, oleh apa yang mengerasinya, dari mengambil tabung itu".

Abi Sulaiman menerangkan, bahwa kebencian adanya tabung dalam rumahnya itu, oleh kepalingan hati kepadanya, yang sebabnya oleh kelemahan hati dan kekurangannya.
Kalau anda bertanya: "Apa halnya para nabi dan wali yang lari dari harta dan benci kepadanya dengan seluruhnya".
Aku menjawab: "Sebagaimana mereka lari dari air, dengan arti, bahwa mereka tiada meminum, lebih dari hajat mereka. Lalu mereka meninggalkannya di balik itu. Dan mereka tiada mengumpulkannya dalam tempat-tempat simpanan air dan haiwan-haiwan pengangkut air, yang dibawa mereka bersama. Akan tetapi mereka membiarkannya dalam sungai-sungai, sumur-sumur dan padang-padang pasir, bagi orang-orang yang memerlukannya. Tidak atas pengertian, bahwa hati mereka sibuk dengan mencintainya atau memarahinya. Sesungguhnya telah dibawa gudang-gudang bumi kepada Rasulullah s.a.w., kepada Abubakar r.a. dan kepada Umar r.a. Mereka lalu mengambilnya dan meletakkannya pada tempatnya. Mereka tiada lari dari harta-harta itu. Kerana sama pada mereka, di antara harta, air, emas dan batu. Dan tidak dinuqilkan dari mereka, tidak mau menerimanya [Dirawikan AI-Bukhari dari Anas, bahwa dibawa kepada Nabi s.a.w. harta dari Bahrain. Nabi s.a.w. lalu keluar untuk solat dan tidak menoleh kepada harta itu. Sesudah solat, lalu diberikannya kepada setiap orang yang datang kepadanya.]

Apa yang dinuqilkan dari hal orang yang takut, bahwa jikalau ia mengambilnya, maka harta itu akan memperdayakannya dan hatinya terikat. Lalu harta itu membawanya kepada nafsu-syahwat. Dan ini adalah hal-keadaan orang-orang yang lemah.

Maka tak ragu lagi, bahwa marah kepada harta dan lari daripada harta itu, pada pihak mereka suatu kesempurnaan. Dan ini hukum semua makhluk. Kerana semua mereka itu lemah, selain nabi-nabi dan wali-wali. Adakalanya dinuqilkan yang demikian dari orang yang kuat, yang sampai kepada kesempurnaan. Akan tetapi, ia melahirkan kelarian dan keliaran hati dari harta, kerana turun kepada tingkat orang-orang yang lemah. Supaya orang-orang lemah itu mengikuti jejaknya pada meninggalkan harta. Kerana kalau mereka mengikuti jejaknya pada mengambilkan harta itu, nescaya mereka binasa. Sebagaimana larinya laki-Iaki yang tahu akan akibat sesuatu, dari ular yang ada di hadapan anak-anaknya.

Tidak kerana lemahnya daripada mengambil ular itu. Akan tetapi, kerana ia tahu, bahwa jikalau diambilnya, nescaya anak-anaknya akan mengambil ular tersebut, apabila mereka melihatnya. Maka binasalah mereka. Dan berjalan dengan perjalanan orang-orang yang lemah itu penting bagi nabi-nabi, wali-wali dan ulama-ulama.

Jadi , anda telah mengetahui, bahwa tingkat-tingkat itu enam. Yang tertinggi  ialah tingkat orang yang merasa kaya. Kemudian, orang zuhud. Kemudian, orang yang rela dengan yang ada. Kemudian, orang yang merasa cukup dengan yang ada. Kemudian, orang yang rakus. Dan adapun orang yang sangat memerlukan (al-mudl-thar ), maka tergambarlah pada diri orang itu juga: zuhud, rela dan merasa cukup dengan yang ada (al-qana'ah). Tingkatnya berlainan, menurut berlainannya hal-ehwal itu. Dan nama fakir ditujukan kepada yang lima ini
Adapun menamakan orang yang merasa kaya, dengan nama fakir, maka tiada alasan baginya dengan makna ini. Akan tetapi, kalau ia dinamakan fakir, maka dengan makna yang lain. Yaitu: ma'rifahnya bahwa ia memerlukan kepada Allah Ta'ala pada semua urusannya pada umumnya dan pada keterusan tidak diperlukannya kepada harta pada khususnya. Maka adalah nama fakir baginya, seperti nama hamba bagi orang yang mengenal dirinya dengan kehambaan dan mengakuinya. Maka itu adalah lebih pantas dengan nama hamba dari orang-orang yang lalai. Walaupun nama hamba itu adalah bersifat umum pada makhluk. Maka demikian juga, nama fakir itu umum. Dan siapa yang mengenal dirinya dengan ke fakiran kepada Allah Ta'ala, maka dia Iebih berhak dengan nama fakir. Maka nama fakir itu bersekutu di antara dua makna ini.
Apabila anda mengenal akan kesekutuan ini, nescaya anda memahami, bahwa sabda Rasulullah s.a.w.:

(A'udzu bika minal-faqri).
Ertinya: "Aku berlindung dengan ENGKAU dari kefakiran" [Hadits ini telah diterangkan dulu pada "Bab Dzikir dan Do'a].

Dan sabda Nabi s.a.w.:

    (Kaadal-faqru an yakuuna kufran)  

Artinya: "Mendekatilah kefakiran itu menjadi kufur (ke-kafir-an)"[Hadits ini telah diterangkan pada “Bab Tercelanya Dengki”]

Bahwa sabda-sabda  itu tidak bertentangan dengan sabdanya:

(Ah-yinii miskiinan wa-amitnii miskiinan).

Artinya: "Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin”
  [ Diriwayatkan At-Tirmizi dari Anas. Dan Ibnu Majah dan Al-Hakim dari  Abi Sa’id.]

Kerana kefakiran orang al-mudl-thar itu, yang dimintakan Nabi s.a.w. perlindungan daripadaNYA dan kefakiran yang mengakui dengan kemiskinan dan kehinaan. Dan kefakiran (kehajatan) kepada Allah Ta'ala itulah yang dimohonkannya pada do'anya s.a.w. Kiranya Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera kepada Nabi dan kepada setiap hamba pilihan dari penduduk bumi dan langit.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”