DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: hal-ehwal para sahabat, tabi’in, salaf dan orang-orang soleh tentang sangatnya takut.

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: hal-ehwal para sahabat, tabi’in, salaf dan orang-orang soleh tentang sangatnya takut.

Diriwayatkan, hal ehwal Abu bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata kepada burung:

"Semoga kiranya aku seperti engkau, hai burung, Aku tidak dijadikan sebagai manusia".

Abu Dzarr ra. berkata: "Aku mengingini, jikalau aku ini sepohon kayu yang ditolong orang". Begitu juga, kata Thalhah.

Usman ra. berkata: "Aku mengingini, bahwa aku ini apabila mati. tidak dibangkitkan'. .

'Aisyah ra. berkata: "Aku mengingini. Hah ehwal aku ini dilupakan orang.

Diriwayatkan, bahwa Umar ra. jatuh pingsan dari ketakutan, apabila mendengar suatu ayat dari AI-Quran. Maka ia dikunjungi beberapa hari. Dan pada suatu hari ia mengambil sepotong jerami dari tanah. Lalu mengatakan: "Kiranya aku ini adalah jerami ini' Kiranya tidaklah aku ini sesuatu yang disebutkan orang! Kiranya adalah aku dilupakan orang! kiranya aku ini, tidaklah dilahirkan oleh ibuku".

Adalah pada wajah Umar ra. dua garis hitam dari air mata. Dan beliau r.a. mengalakan: "Siapa yang lakut kepada Allah, nescaya ia tidak merasa sembuh kemarahan Allah kepadanya. Siapa yang bertaqwa kepada Allah, nescaya tidak diperbuatnya, akan apa yang dikehendakinya. Dan jikalau tidak adalah hari kiamat, nescaya adalah Allah lain dari apa yang kamu lihat.”

(Idzasy-syamsu kuwwirat. Wa idzan-nujuumim-kadarat. Wa idzal-jibaalu suyyirat. Wa idzal-'isyaaru-'uth-thilat. Wa idzal-wuhuusyu husyirat. Wa idzal-bihaaru sujjirat. Wa idzan-nufuusu zuwwijat. Wa idzal-mau-uudatu su-ilat. bi-ayyi dzanbin qutilat. Wa idzash-shuhufu nusyirat).

Artinya: "Ketika matahari telah digulung. Dan ketika bintang-bintang jatuh bertaburan. Ketika gunung-gunung telah dihilangkan. Dan ketika unta-unta betina telah ditinggalkan. Dan ketika binatang-binatang liar dikumpulkan. Dan ketika lautan bergelombang besar Dan ketika diri (manusia) dikumpulkan. Dan ketika ditanyai anak perempuan yang dikuburkan hidup-hidup: Karena dosa apakah dia dibunuh. Dan ketika buku-buku (Iembaran) disebarkan". (QS, At-Takwir: 1 – 10), maka Umar ra. itu jatuh tersungkur dengan pingsan.

Pada suatu hari, Umar ra. melintasi rumah seorang insan, yang sedang sholat dan membaca surat At- Thuur, ayat 1. Lalu beliau berhenti dan mendengar. Tatkala sampai kepada fimanNYA Yang Maha AGUNG:

(Inna-'adzaaba rabbika la-waaqi-'un. Maa lahu min daafi-'in).

Artinya: "Sesungguhnya siksaan Tuhan engkau pasti terjadi. Tiada seorang pun dapat menolaknya". (QS. Ath-Thur: 7 8),lalu beliau turun dari keledainya dan bersandar kedinding. Dan berhenti beberapa waktu. Kemudian, beliau kembali ke rumahnya. Lalu sakit sebulan, yang dikunjungi oleh manusia ramai. Dan mereka tidak tahu, apa sakitnya. Ali ra. berkata dan beliau baru saja memberi salam (menyiapkan) dari sholat fajar (sholat Subuh) dan telah meninggi kegundahan hatinya dan beliau membalik-balikkan tangannya: "Aku telah melihat para shahabat Muhammad s.a.w. Maka pada hari ini, aku tiada melihat suatu pun yang menyerupai dengan mereka. Sesunguhnya adalah para shahabat itu berpagi hari, dengan rambut yang kusut, bermuka kuning (pucat) dan berdebu. Diantara mata mereka itu seperti lutut kambing (dari bekas sujud). Mereka pada malam hari bersujud dan menegakkan sholat karena AlIah. Mereka membaca Kitab .. Allah. Mereka membuat giliran, di antara dahi dan tapak-kaki mereka. Maka apabila berpagi hari, maka mereka berdzikir kepada Allah. Mereka bergoncang badannya, seperti bergoncangnya kayu pada hari berangin .. Dan berhamburan matanya dengan air mata. Sehingga basah kain mereka.

Demi Allah! Maka seakan-akan aku dengan kaum itu menjadi orang-orang yang lalai dari berdzikir kepada Allah Ta'ala".

Kemudian, beliau bangun berdiri. Maka sesudah itu, tiada terlihat lagi beliau tertawa, sampai ia dibunuh oleh Ibnu Muljam.

'Imran bin Hushain berkata: "Aku ini ingin bahwa aku ini debu, yang dihembuskan angin pada hari yang berangin kencang".

Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah r.a. berkata: "Aku ingin bahwa aku ini kibasy (biri-biri). Maka aku disembelihkan oleh keluargaku. Mereka memakan dagingku. Dan mereka merasakan kuahku".

Adalah Ali bin AI-Husain ra. apabila mengambil wudhu’, maka kuning (pucat) warnanya. Maka keluarganya bertanya kepadanya: "Apakah ini yang terbiasa pada engkau ketika berwudhu’?".

Beliau menjawab: "Apakah kamu tahu, dihadapanku, siapa yang aku kehendaki untuk berdiri karenaNYA?".

Musa bin Mas'ud berkata: "Adalah kami, apabila kami duduk berhadapan dengan Ats-Tsauri, nescaya seakan-akan api telah mengelilingi kami. Karena kami melihat dari ketakutan dan kegundahannya".

Mudlar AI-Qari' pada suatu hari membaca:

(Haadzaa kitaabunaa yanthiqu 'alaikum bil-haqqi, inna kunnaa nastan-sikhu maa kuntum ta'-maluuna).

Artinya: "Inilah kitab (catatan) Kami, yang mengatakan kepada kamu, menurut keadaan yang sebenarnya. Sesungguhnya Kami menyuruh menuliskan segala apa yang kamu kerjakan". [QS.AI-Jatsiyah, ayat 29.]

Maka Abdul wahid bin Zaid menangis, sehingga pengsan. Maka tatkala telah sembuh, beliau berkata: "Demi keagungan ENGKAU! Aku tiada mendurhakai ENGKAU oleh tenagaku untuk selama-lamanya. Maka tolonglah aku dengan taufiq ENGKAU kepada menta'ati ENGKAU". Adalah AI-Musawwar bin Makhzamah, tidak kuat untuk mendengar sesuatu dari AI-Quran, karena sangat takutnya. Sesungguhnya dibacakan padanya suatu huruf dan ayat, lalu ia memekik dengan suatu pekikan keras. Maka ia tidak dapat berakal (berpikir) beberapa hari. Sehingga datanglah kepadanya seorang laki-Iaki dari Khatsam. Maka orang itu membacakan kepadanya:

(Yauma nah-syurul-muttaqiina ilar-rahmaani wafdaa. Wa nasuuqul-mujrimiina ilaa jahannama wirdaa).

Artinya: "Di hari itu, Kami kumpulkan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sebagai menyambut perutusan. Dan Kami halau orang-orang yang berbuat kesalahan kedalam neraka secara kasar". [QS.Maryam, ayat 85 -86. ]

Lalu AI-Musawwar bin Makhzamah berkata: "Aku termasuk orang-orang yang berbuat kesalahan. Dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang bertaqwa. Ulangilah kepadaku bacaan itu. hai qari'(pembaca)!

Lalu diulanginya, maka pingsanlah AI-Musawwal sehingga ia meninggal dunia (kembali ke akhirat).

Dibacakan pada Yahya AI-Bakka' (Yahya yang banyak menangis):

(Wa lau taraa idz wuqifuu-'alaa rabbihim).

Artinya: "Dan kalau engkau lihat ketika mereka ditegakkan di hadapan Tuhan". [QS. Al-An'aam. ayat 30. ]

Maka Yahya Penangis itu memekik dengan pekikan yang keras, yang dia berhenti dari pekikan itu karena sakit selama empat hulan. la dikunjungi orang dari segala penjuru kota Basrah. .

Malik bin Dinar berkata: "Sewaktu aku berthawaf mengelilingi Baitullah (Ka'bah), tiba-tiba aku dekat seorang anak perempuan yang kuat beribadah. Ia bergantung pada tirai Ka'eah dan berdo'a: "Hai Tuhanku' Banyaklah nafsu keinginan, yang telah hilang kelazatannya dan tinggal ikutannya (akibatnya)! Hai Tuhanku! Apakah tidak ada bagi ENGKAU pelajaran dan siksaan, selain neraka"!. Dan ia menangis. Maka senantia salah yang demikian di tempat berdirinya sehingga terbit fajar".

Malik berkata: "Maka tatkala aku melihat yang demikian, lalu aku letakkan tanganku ke atas kepalaku. Dan dengan menjerit aku berkata:

"Ditiadakan Malik oleh ibunya”.

Diriwayatkan, bahwa AI-Fudlail dilihat orang pada hari Arafah (tanggal sembiIan Zulhijjah) dan orang banyak itu berdo'a. Dan AI-Fudlail itu menangis, sebagai tangisnya wanita yang kehilangan anak, yang menghadapi kebakaran. Sehingga, apabila matahari hampir terbenam, maka AI Fudlail menggenggam janggutnya. Kemudian, mengangkatkan kepalanya ke langit dan berdo'a: "Demi kejahatanku pada ENGKAU! Dan kalau kiranya ENGKAU ampunkan!". Kemudian, ia berbalik bersama manusia ramai.

Ditanyakan Ibnu Abbas ra. dari hal orang-orang yang takut Maka beliau menjawab: "Hati mereka disebabkan takut itu luka dan mata mereka menangis. Mereka mengatakan, bagaimana kami bergembira dan mati itu di belakang kami dan kubur itu di hadapan kami. Hari kiamat itu janjian bagi kami. Di atas neraka jahannam jalanan kami. Dan di hadapan Allah Tuhan kami, tempat perhentian kami".

AI-Hasan AI-Bashari ra. melewati seorang pemuda dan pemuda itu tenggelam dalam tertawa. Dia duduk bersama orang banyak pada suatu majlis. Lalu AI-Hasan berkata kepadanya: "Hai anak muda! Adakah engkau lalui titian?".

Anak muda itu menjawab: "Tidak!".

AI-Hasan bertanya lagi: "Adakah engkau ketahui, engkau berkesudahan ke Syurga atau ke neraka’'.

Anak muda itu menjawab: "Tidak!".

AI-Hasan bertanya pula: "Maka apakah ketawa ini?".

AI-Hasan berkata: "Maka anak muda itu tidak terlihat lagi ketawa sesudah itu".

Adalah Hammad bin Abdurabbih, apabila ia duduk, maka ia duduk dengan tidak tenang di atas kedua tapak kakinya. Lalu ia ditanyakan: "Jikalau anda duduk tenang, ya?".

Maka beliau menjawab: "Itu duduk orang yang merasa aman. Dan aku tidak merasa aman. Karena aku berbuat maksiat kepada Allah Ta'ala".

Umar bin Abdul-aziz La. berkata: "Sesungguhnya Allah menjadikan kelalaian pada hati hambaNYA, sebagai suatu rahmat. Supaya mereka tidak mati dari karena takut kepada Allah Ta'ala".

Malik bin Dinar berkata: "Sesungguhnya aku bercita-cita apabila aku mati, akan aku suruh mereka mengikatkan aku dan merantaikan aku. Kemudian, mereka melepaskan aku kepada Tuhanku, sebagaimana dilepaskan hamba yang lari kepada tuannya".

Hatim al-Ashamm berkata: "Jangan engkau terperdaya dengan tempat yang baik. Maka tiada tempat yang terbaik, selain dari Syurga. Dan nabi Adam a.s. telah menemui dalam Syurga, apa yang telah ditemuinya. Dan engkau jangan terperdaya dengan banyak ibadah! Sesunguhnya Iblis, sesudah lama ia beribadah, maka ditemuinya, akan apa yang telah ditemuinya. Dan jangan engkau terperdaya dengan banyak ilmu! Sesungguhnya Bal'am adalah mengetahui dengan baik akan nama Allah Yang Maha Agung. Maka perhatikanlah, apa yang telah ditemuinya! Dan janganlah engkau terperdaya dengan melihat orang-orang shaleh! Maka tiada seorang pun yang lebih besar tingkatnya di sisi Allah, dari Nabi pilihan Muhammad s.a.w. Dan'tidak dapat diambil manfaat oleh keluarganya dan musuhnya dengan menemuinya".

As-Sirri berkata: "Bahwa aku melihat setiap hari beberapa kali, kepada hal-hal yang menidakkan (hal-hal yang negatif). Karena takut. bahwa ada yang menghitamkan mukaku".

Abu Hafash berkata: "Semenjak empatpuluh tahun yang lampau, itikadku pada diriku, bahwa Allah memandang kepadaku dengan pandangan marah. Dan amal perbuatanku menunjukkan kepada yang demikian". Ibnul-Mubarak pada suatu hari pergi kepada teman-temannya. Lalu mengatakan: "Bahwa aku kemarin memberanikan diri kepada Allah. Aku meminta kepadaNYA akan Syurga".

Ummu Muhammad bin Ka'ab AI-Qaradhi mengatakan kepada puteranya:

"Hai anakku! Aku mengenal engkau anak kecil yang baik dan anak yang sudah besar, yang baik. Dan seakan-akan engkau telah mendatangkan suatu kejadian yang membinasakan. Karena apa, yang aku lihat engkau mengerjakannya, pada malam dan siang engkau bermacam ibadah".

Anak itu menjawab: "Hai ibuku! Aku tidak merasa aman, bahwa Allah Ta'ala melihat kepadaku dan aku di atas sebahagian dosa-dosaku. Maka IA mengutukkan aku. Dan IA berfirman: "Demi kemuliaanKU dan keagunganKU, AKU tiada mengampunkan engkau".

AI-Fudlail berkata: "Bahwa aku tidak iri hati kepada nabi yang menjadi rasul, kepada malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah dan kepada hamba yang sholeh. Bukankah mereka itu menyaksikan akan huru-hara hari kiamat? Sesungguhnya aku iri hati kepada orang yang tidak diciptakan". [Ini sesuai dengan ucapan-ucapan sebelumnya, seolah-olah mereka lebih suka tidak diciptakan menjadi insan. Akan tetapi diciptakan menjadi burung dan sebagainya]

Diriwayatkan, bahwa seorang pemuda anshar, masuk kepadanya perasaan takut kepada neraka. Lalu ia menangis. Sehingga yang demikian itu, menahankannya dalam rumah. Maka datanglah Nabi s.a.w. Lalu beliau masuk ke tempatnya dan berpeluk-pelukkan leher dengan dia. Lalu anak muda itu jatuh tersungkur dalam keadaan meninggal dunia. Maka Nabi S.a.w. bersabda:

(Jahhizuu shaahibakum, fa innal-faraqa minan-naari fattata kabidahu). Artinya: "Uruslah mayat temanmu! Maka sesungguhnya takut dari neraka itu menghancurkan jantungnya" [Dirawikan Ibnu Abid-Dun-ya dari Hudzaifah dan AI-Baihaqi dari Sahal.].

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Maisarah [Ibnu Abi Maisarah, artinya: anak bapak Maisarah. Yaitu Maisarah.], bahwa ia apabila pergi ketempat tidurnya, maka ia mengatakan: "Wahai kiranya ibuku tidak memperanakkan aku!".

Maka ibunya mengatakan kepadanya: "Hai Maisarah! Bahwa Allah Ta'ala telah berbuat baik kepada engkau. DitunjukkanNYA engkau kepada agama Islam".

Maisarah menjawab: "Benar! Akan tetapi, Allah telah menerangkan kepada kita, bahwa kita datang ke neraka. Dan tidak diterangkanNYA kepada kita, bahwa kita keluar dan neraka".

Dikatakan kepada Farqad As-Sabakhi: "Terangkanlah kepada kami, sesuatu yang paling menakjubkan, yang sampai kepada engkau dari kaum Bani Israil (kaum Yahudi)!".

Farqad As Sabakhi menjawab: "Telah sampai berita kepadaku, bahwa telah masuk ke Baitulmaqdis sejumlah limaratus wanita perawan (gadis). Pakaian mereka itu kain bulu (wol) dan tenunan bulu. Lalu mereka berbincang-bincang (mengadakan diskusi) tentang pahala dan siksaan Allah. Maka mereka itu mati semuanya pada satu hari".

Adalah 'Atha' As-Salimi dari orang-orang yang takut. Dia tidak meminta Syurga pada Allah selama-lamanya. Ia meminta pada Allah akan kema'afanNYA. Dan ditanyakan kepadanya dalam sakitnya: "Apakah anda tidak mengingini akan sesuatu?". .

Maka ia menjawab: "Bahwa ketakutan kepada neraka jahannam, tidak meninggalkan tempat dalam hatiku, untuk nafsu keinginan".

Dan orang mengatakan, bahwa 'Atha As-Salimi tidak mengangkatkan kepalanya kelangit dan tidak tertawa, selama empatpuluh tahun. Dan pada suatu hari, ia mengangkatkan kepalanya. Lalu ia terkejut dan jatuh. Maka pecahlah dalam perutnya suatu pecahan. Ia menyentuh badannya pada sebahagian malam, karena takut bahwa badannya itu berobah kepada yang lebih buruk. Adalah, apabila mereka (manusia) kena angin atau kilat atau mahal makanan, maka 'Atha' As-Salimi mengatakan: "Ini dari karenaku, yang menimpa kepada mereka. Jikalau matilah 'Atha', nescaya manusia memperoleh kesenangan".

'Atha' berkata: "Kami keluar bersama 'Atbah AI-Ghulam. Dan dalam rombongan kami itu orang-orang tua dan pemuda-pemuda. Mereka mengerjakan sholat fajar (sholat Subuh) dengan wudhu’ 'Isya. Tapak kaki mereka telah bengkak, lantaran lamanya berdiri. Mata mereka telah masuk dalam kepalanya. Kulit mereka telah melekat pada tulangnya. Dan tinggallah urat-uratnya itu, seolah-olah tali gitar.

Mereka berpagi hari, seolah-olah kulit mereka itu kulit buah mentimun. Dan seolah-olah mereka telah keluar dari kuburan, dimana mereka menerangkan, bagaimana Allah Ta'ala memuliakan orang-orang yang tha'at. Dan bagaimana Allah menghinakan orang-orang yang berbuat maksiat.

Pada waktu mereka itu sedang berjalan kaki, ketika seorang dari mereka itu melewati suatu tempat, lalu jatuh tersungkur dalam keadaan pingsan. Maka duduklah para shahabatnya dikelilingnya menangis pada hari yang sangat dingin. Tepi dahi orang itu bercucuran keringat. Lalu mereka mendatangkan air dan menyapu muka orang itu. Maka orang itu sembuh dari pingsannya. Dan mereka bertanya tentang keadaannya.

Maka orang itu menjawab: "Bahwa aku teringat, aku telah berbuat maksiat kepada Allah pada tempat itu".

Sholeh AI-Marri mengatakan: "Aku bacakan ayat di bawah ini kepada seorang laki-Iaki dari orang-orang yang banyak ibadahnya:

(Yauma tuqallabu wujuuhuhum fin-naari yaquuluuna: yaa laitanaa -atha'- nallaaha wa-atha' -nar-rasuulaa).

Ertinya: "Pada hari dibalik-balik muka mereka dalam neraka, (dan) mereka berkata: Wahai : Alangkah baik kiranya (hendaknya) kami patuh (tha'at) kepada Allah dan patuh kepada Rasul!". [QS.AI-Ahzab, ayat 66.]

Lalu orang itu pingsan. Kemudian, setelah ia sembuh dari pingsannya, lalu berkata: "Tambahkan lagi kepadaku, hai Sholeh! Sesungguhnya aku dapati kesedihan".

Maka aku bacakan:

(Kullamaa-araaduu an yakh-rujuu minhaa min ghammin-u- 'iiduu fiihaa). Artinya: "Setiap mereka hendak keluar dari dalamnya karena kesedihan, lantas mereka dikembalikan lagi ke dalamnya". [QS.AI-Hajj, ayat 22. ]

Lalu laki-Iaki yang banyak ibadahnya itu jatuh tersungkur dan meninggal dunia.

Diriwayatkan, bahwa Zararah bin Abi Aufa mengerjakan sholat Shubuh dengan orang banyak. Maka tatkala beliau membaca ayat:

(Fa-idzaa nuqira fin-naaquuri).

Artinya: "Maka ketika terompet dibunyikan". [QS.AI-Muddats-tsir, ayat 8]. Lalu beliau jatuh tersungkur, dalam keadaan pingsan. Maka beliau dibawakan, sudah meninggal dunia.

Yazid Ar-Raqqasyi masuk ke tempat Umar bin Abul-aziz. Maka Umar bin Abdul-aziz berkata: “Berilah pengajaran kepadaku, hai Yazid!". Yazid menjawab: "Wahai amirul-mu'minin! Ketahuilah bahwa tidaklah engkau khalifah pertama yang mati".

Maka Umar bin Abdul-aziz menangis, kemudian berkata: "Tambahkanlah pengajaran kepadaku!".

Yazid menjawab: "Hai amirul-mu'minin! Tiadalah di antara engkau dan Adam itu bapa, selain orang yang sudah meninggal".

Maka Umar bin Abdul-aziz menangis. Kemudian ia berkata: "Tambahkan lagi, hai Yazid!".

Yazid menjawab: "Hai amirul-mu'minin! Tiadalah di antara engkau dan antara Syurga dan neraka itu tempat".

Lalu Umar bin Abdul-aziz jatuh tersungkur, dalam keadaan pingsan. Maimun bin Mahran berkata: "Tatkala turun ayat ini:

(Wa inna jahannama la-mau-'iduhum aj-ma-'iin).

Artinya: "Dan sesungguhnya neraka jahannam tempal yang telah dijanjikan buat mereka semuanya". [QS.AI-Hijr, ayat 43.] . Maka Salman AI-Farisi memekik dan meletakkan langannya di atas kepalanya. Ia lari keluar dari rumahnya, selama tiga hari, di mana orang-orang tidak sanggup mengejarinya" [Menurut AI-Iraqi. beliau tidak mengetahui asal riwayat ini.]

Dawud Ath-Tha-i melihat seorang wanita menangis pada kepala kuburan anaknya. Wanita itu mengatakan: "Hai anakku' Kiranya aku ketahui pipimu yang mana, yang pertama-tama dimulai oleh ulat".

Maka Dawud pingsan dan jatuh di tempatnya

Dikatakan, bahwa Sufyan Ats-Tsauri sakit. Lalu dibawa oleh penunjuknya kepada seorang tabib dzimmi. Tabib itu mengatakan: "Inilah orang, yang ketakutannya telah memutuskan jantungnya". Kemudian tabib itu datang dan memegang urat-uratnya. Kemudian. tabib itu mengatakan: "Tidak aku tahu, bahwa pada Agama yang benar, ada orang yang seperti Sufyan ini".

Ahmad bin Hanbal rahmatullah alaih. berkata: "Aku memohon kepada Allah 'azza wajalla kiranya IA membuka kepadaku pintu ketakutan. Maka dibukaNYA Lalu aku takut kepada akalku. Maka aku berdo'a: : “Hai Tuhanku' Sekadar apa yang aku sanggupi". Maka tenanglah hatiku".

Abdullah bin Amr bin AI Ash berkata: "Menangislah Maka kalau engkau tidak dapat menangis, maka berbuat tangislah' Demi Tuhan, yang diriku di tanganNYA' Kalau tahulah seorang kamu akan pengetahuan, nescaya ia berteriak, sehingga putuslah suaranya. Dan ia mengerjakan sholat, sehingga pecahlah tulang pinggangnya".

Seakan-akan Abdullah bin 'AmI' bin AI- 'Ash mengisyaratkan kepada makna sabda Nabi s.a.w.:

(Lau ta'lamuuna maa a'-Iamu la-dlahiktum qaliilan wa la-bakaitum katsii-ran).

Artinya: "Jikalau kamu tahu apa yang aku tahu, nescaya kamu tertawa sedikit dan menangis banyak” [Hadits ini sudah diterangkan dahulu pada Kaedah-kaedah I’-tiqad” ]

AI-'Anbari berkata: "Berkumpul para perawi hadits di pintu AI-Fudlail bin 'Ijadl. Maka terlihat kepada mereka dari lobang dinding, AI-Fudlail itu menangis. Dan janggutnya bergoyang-goyang. Lalu AI-Fudlail herkata:

"Haruslah kamu dengan AI-Quran! Haruslah kamu mengerjakan sholat' Berhati-hatilah kamu, tidaklah ini zaman hadits. Sesungguhnya ini zaman menangis, merendahkan diri, ketetapan hati dan do'a. seperti do'anya yang karam. Sesungguhnya ini zaman : peliharalah Iisan engkau, sembunyikanlah tempat engkau, ubatilah hati engkau, ambillah apa yang engkau pandang ma’ruf dan tinggalkanlah apa yang engkau pandang munkar!". Pada suatu hari, orang melihat AI-Fudlail berjalan kaki. Lalu ditanyakan:

"Mau kemana?” .

AI-Fudlail menjawab: “Tidak aku tahu".

Adalah AI-Fudlail berjalan kaki itu, untuk melengahkan dari ketakutan. Dzar bin Umar bertanya kepada bapanya 'Umar bin Dzar: "Apakah keadaan kiranya orang-orang yang ahli ilmu kalam (ilmu tauhid) yang berkata-kata? Maka tiada seorangpun yang menangis. Maka apabila ayah berkata-kata, nescaya aku mendengar tangisan dari setiap sudut". Ayahnya menjawab: "Hai anakku! Tidaklah wanita yang meratap kematian anak, seperti wanita yang meratap, yang disewakan".

Diceriterakan, bahwa suatu kaum (orang banyak) berdiri dengan seorang abid (yang banyak beribadah). Abid itu sedang menangis. Lalu orang banyak itu bertanya: "Apakah yang membawa engkau maka menangis? Kiranya engkau diberi rahmat oleh Allah".

Abid itu menjawab: "Luka yang diperoleh oleh orang-orang yang takut dalam hatinya".

Mereka bertanya: "Apakah luka itu?".

Abid itu menjawab: "Terkejut oleh panggilan untuk datang kepada Allah 'Azza wa lalla".

Adalah Ibrahim AI-Khawwash itu menangis dan mengatakan dalam munajahnya: "Sesungguhnya aku telah tua dan telah lemah' tubuhku untuk berkhidmah kepada ENGKAU. Maka merdekakanlah aku!".

Sholeh AI-Marri berkata: "Datang kepada kami Ibnus-Sammak sekali. Lalu beliau mengatakan: "Perlihatkanlah kepadaku akan sesuatu dari sebahagian keajaiban hamba-hambamu". Lalu aku pergi kepada seorang laki-Iaki pada sebahagian desa, dengan Ibnus-Sammak, pada suatu rumah bambu kepunyaan laki-Iaki itu. Maka kami minta izin pada laki-Iaki itu. Tiba-tiba laki-Iaki itu mengerjakan daun kurma. Maka aku bacakan kepadanya:

(Idzil-agh-Iaalu fii-a '-naaqihim was-salaasilu yus-hubuuna, fil-hamiimi tsumma fin-naari yus-jaruuna).

Artinya: "Pada waktu belenggu dan rantai telah (dipasang) di leher mereka, mereka akan dihela. Kedalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api". [QS.AI-Mu'imin, ayat 71-72. ]

Maka laki-Iaki itu memekik dengan keras dan jatuh tersungkur dalam keadaan pingsan. Lalu kami keluar dari tempat laki-Iaki itu. Dan kami tinggalkan dia dalam keadaannya yang demikian. Dan kami pergi kepada orang lain. Lalu kami masuk ketempatnya. Maka aku baca ayat tadi. Lalu orang itu memekik dengan keras dan jatuh tersungkur dalam keadaan pingsan. Lalu kami pergi dan kami meminta izin kepada orang ketiga. Maka orang ketiga ini, mengatakan: "Masuklah, kalau kamu tidak mengganggu kami dari Tuhan kami". Maka aku bacakan ayat:

(Dzaalika Ii-man khaafa maqaamii wa khaafa wa-'iidi).

Artinya: "Tempat yang demikian itu adalah untuk orang yang takut kepada kebesaranKU dan takut akan janji siksaanKU" [QS. Ibrahim, ayat 14.] Lalu orang itu memekik dengan pekikan keras. Maka nampaklah darah dari dalam lubang hidungnya. Dan ia menghapuskan darahnya, sehingga kering. Lalu kami tinggalkan dia dalam keadaannya yang demikian. Dan kami keluar. Maka aku telah berkeliling pada enam orang. Setiap orang itu, aku keluar daripadanya dan aku tinggalkan dalam keadaan pingsan. Kemudian, aku datangi kepada orang ketujuh. Lalu kami minta izin masuk. Rupanya seorang wanita dari dalam rumah bambu itu berkata:

"Masuklah!". Lalu kami masuk. Maka terlihat seorang tua yang sudah Ianjut usianya, duduk pada tikar mushallanya. Lalu kami memberi salam kepadanya. la tidak mengetahui dengan salam kami itu. Lalu aku berkata dengan suara keras: "Ketahuilah, bahwa di hari besok, makhluk itu mempunyai tempat kedudukan".

Maka orang tua itu menjawab: "Di hadapan siapa? Hati-hatilah engkau!". Kemudian, orang tua itu dalam keheranan, yang terbuka mulutnya, matanya memandang keatas. la memekik dengan suaranya yang lemah: "Oh-oh!'.Sehingga suara itu terputus.

Lalu isterinya berkata: "Keluarlah! Bahwa kamu tidak dapat mengambil manfaat sesa'atpun dengan dia".

Sesudah itu, aku bertanya tentang orang banyak itu. Rupanya tiga orang sudah sembuh. Dan tiga orang sudah kembali kepada Allah Ta'ala (meninggal dunia). Adapun orang tua itu, tiga hari dalam keadaannya yang demikian, ternganga keheranan. Tidak mengerjakan amal yang fardlu. Dan sesudah tiga hari, barulah kembali akal-pikirannya.

Adalah Yazid bin Al-Aswad, kelihatan termasuk golongan wali-wali (aulia). la bersumpah, tidak akan tertawa untuk selama-lamanya. Tidak akan tidur dengan berbaring. Dan tiada akan makan minyak samin untuk selama-Iamanya.

Maka tiadalah ia kelihatan tertawa dan tiada tidur berbaring. Dan tiada makan minyak samin sampai ia meninggal dunia. Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepadanya.

Al-Hajjaj berkata kepada Sa'id bin Jubair: "Sampai kepadaku berita bahwa engkau tiada pernah tertawa!” '

Sa’id bin Jubair menjawab: "Bagaimana aku tertawa dan neraka jahannam itu menyala. Rantai-rantai itu dipasang. Dan neraka zabaniyah itu telah disiapkan .

Seorang laki-laki bertanya kepada AI-Hasan AI-Bashari: "Hai Abu Sa'id! Bagaimana aku berpagi hari?”

AI-Hasan AI-Bashari rahmatullah.a. menjawab: "Dengan penuh kebajikan".

Laki-Iaki itu bertanya lagi: "Bagaimana hal keadaanmu?".

AI-Hasan tersenyum dan menjawab: "Engkau bertanya kepadaku tentang hal-keadaanku. Apa persangkaanmu dengan manusia yang menumpang kapal, sehingga mereka sampai di tengah lautan. Lalu pecahlah kapal mereka. Maka setiap insan dari mereka bergantung dengan sepotong kayu. Bagaimanakah keadaan setiap insan itu?".

Laki-Iaki itu menjawab: "Dalam keadaan yang sangat sulit".

Maka AI-Hasan AI-Bashari berkata: "Hal-keadaanku lebih sulit dari hal keadaan mereka".

Bekas budak wanita Umar bin Abdul-aziz masuk ketempat Umar bin Abdul-aziz. la memberi salam kepada Umar bin Abdul-aziz. Kemudian ia pergi ke mushalla dalam rumah Umar bin Abdul-aziz. Lalu wanita itu mengerjakan sholat dua raka'at. Dan dua matanya keras hendak tidur, lalu ia berbaring dan tertidur. Maka ia tertangis dalam tidumya. Kemudian, ia terbangun. Lalu ia berkata: "Wahai amirul-mu'minin! Sesungguhnya demi Allah, aku bermimpi suatu keajaiban".

Umar bin Abdul-aziz bertanya: "Apakah yang demikian itu?".

Wanita itu menjawab: "Aku bermimpi neraka. Dan neraka itu berkobar-kobar apinya kepada penghuninya. Kemudian dibawa titian (Ash-shira-thal-mustaqim). Lalu diletakkan di atas titian itu, penghuni tadi".

Umar bin Abdul-aziz berkata: "Teruskan!".

Wanita itu menyambung: "Maka dibawa Abdul-malik bin Marwan. Lalu ia dipikulkan di atas penghuni itu. Maka tiada berlalu, selain waktu yang sedikit saja. Sehingga titian itu terbalik. Maka Abdul-malik bin Marwan, jatuh ke dalam neraka jahannam".

Umar bin Abdul-aziz berkata: "Teruskan!".

Wanita itu menyambung: "Kemudian, dibawa AI-Walid bin Abdul-malik. Lalu ia dipikulkan di atas penghuni itu. Maka tiada berlalu, selain waktu yang sedikit saja. Sehingga titian itu terbalik. Maka AI-Walid bin Abdul-malik jatuh dalam neraka jahannam". .

Umar bin Abdul-aziz berkata: "Teruskan!".

Wanita itu menyambung: "Kemudian, dibawa Sulaiman bin Abdul-malik. Maka tiada berlalu selain sebentar saja, sehingga titian itu terbalik. Maka Sulaiman bin Abdul-malik jatuh seperti yang demikian juga".

Umar bin Abdul-aziz berkata: "Teruskan!".

Wanita itu menyambung: "Kemudian, dibawa engkau-demi Allah, wahai Amirul-mu'minin '!".

Lalu Umar bin Abdul-aziz rahmatullah.a. memekik dengan pekikan, yang membawa ia jatuh tersungkur, dalam keadaan pingsan. Lalu wanita itu bangun berdiri datang kepada Umar bin Abdul-aziz. Lalu ia memanggil dengan bisikan pada telinganya: "Hai Amirul-mu'minin! Aku melihat engkau demi Allah terlepas. Aku melihat engkau demi Allah terlepas dari bahaya itu" .

Kata yang punya riwayat: "Wanita itu terus memanggil. Dan Umar bin Abdul-aziz terus memekik dan ia memeriksa dengan kedua kakinya". Diceritakan, bahwa Uwais AI-Qarani rahmatullah.a. datang kepada AI-Qash. Maka ia menangis dari mendengar perkataan AI-Qash. Apabila AI-Qash menyebutkan neraka, maka Uwais memekik. Kemudian Uwais bangun berjalan, lalu diikuti manusia banyak. Mereka mengatakan: "Gila-gila!".

Ma'adz bin Jahal rahmatullah.a. berkata: "Bahwa orang mu'min itu tidak tenang ketakutannya, sebelum meninggalkan titian jahannam di belakangnya". Adalah Thawus bin Kaisan AI-Yamani membentangkan tikar tidur untuk Ma'adz bin Jabal. Maka Ma'adz berbaring dan bergoncang badannya, sebagaimana bergoncangnya biji-bijian dalam kuali penggoreng. Kemudian, ia melompat berdiri. Lalu ia melipatkan badannya dan menghadap kiblat dengan ruku' dan sujud, sampai datang waktu sholat Shubuh. Dan ia mengatakan: "Mengingati neraka jahannam itu menerbangkan tidur orang-orang yang takut".

AI-Hasan AI-Bashari rahmatullah.a. berkata: "Seorang laki-Iaki keluar dari neraka sesudah seribu tahun. Wahai kiranya, akulah laki-Iaki itu!".

Beliau mengatakan yang demikian, kerana takutnya berkekalan dalam neraka dan su-ul-khatimah.

Diriwayatkan, bahwa beliau tiada tertawa selama empat puluh tahun. Dan perawi riwayat ini mengatakan: "Apabila aku melihat AI-Hasan AI-Bashari duduk, maka seakan-akan beliau itu orang tawanan, yang didatangkan, untuk dipenggal lehernya. Apabila beliau berkata-kata, seakan-akan beliau melihat akhirae. Lalu beliau menceriterakan dari hal penglihatannya. Apabila beliau diam, seakan-akan neraka menyala-nyala di hadapannya".

Beliau dicela orang lantaran bersangatan kegundahan dan ketakutannya. Maka beliau berkata: "Aku tidak merasa aman, bahwa Allah telah melihat padaku, atas sebahagian apa yang tidak disenangiNYA. Maka IA mengutukkan aku Lalu IA berfirman: "Pergilah, maka tiada AKU ampunkan engkau! Maka aku berbuat pada tiada tempat berbuat",

Dari Ibnus-Sammak, yang mengatakan: "Aku pada satu hari memberi pengajaran pada suatu majlis. Maka bangun berdiri seorang pemuda dari rombongan itu. Pemuda itu mengatakan: "Hai Abul-Abbas! Engkau pada hari ini telah memberi pengajaran, dengan perkataan, yang tidak kami hiraukan bahwa tiada kami mendengar yang lainnya",

Lalu aku bertanya: "Apakah perkataan itu? Kiranya engkau dicurahkan rahmat oleh Allah!".

Pemuda itu menjawab: "Perkataan engkau: "Hati orang-orang yang takut telah dipotong oleh lamanya orang-orang yang kekal, adakalanya dalam Syurga atau dalam neraka".

Kemudian, pemuda itu menghilang daripadaku. Maka aku mencarinya pada majlis yang lain. Aku tiada melihatnya. Lalu aku tanyakan. Maka diberitakan kepadaku, bahwa pemuda itu sakit yang boleh dikunjungi. Maka aku datang mengunjunginya. Lalu aku mengatakan: "Hai saudaraku! Apakah yang aku Iihat pada engkau?".

Pemuda itu lalu menjawab: "Hai Abul-Abbas! Itu dari perkataan engkau: "Hati orang-orang yang takut telah diputuskan oleh lamanya orang-orang yang kekal, adakalanya dalam Syurga atau dalam neraka". Ibnus-Sammak meneruskan ceriteranya: "Kemudian pemuda itu meninggal dunia. Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepadanya. Lalu aku bermimpi melihatnya dalam tidur. Maka aku bertanya: "Hai saudaraku! Apakah yang diperbuat oleh Allah dengan engkau?".

Pemuda itu menjawab: "Allah mengampunkan dosaku, mengrahmati aku dan memasukkan aku dalam Syurga".

Aku bertanya: "Dengan apa?".

Pemuda itu menjawab: "Dengan perkataan engkau itu!”.

Maka inilah tempat takutnya para nabi, wali, ulama dan orang-orang sholeh. Dan kita lebih layak dengan ketakutan dibandingkan dengan mereka. Akan tetapi, tidaklah takut itu disebahkan banyak dosa, tetapi dengan kebersihan hati dan kesempurnaan ma’rifah. Jikalau tidak, maka tidaklah keamanan kita, kerana sedikitnya dosa kita dan banyaknya tha'at kita. Akan tetapi, dipimpin kita oleh hawa nafsu kita dan dikerasi kita oleh kedurhakaan kita. Dan dicegah kita daripada memperhatikan hal ehwal kita, oleh kelalaian dan kekesatan hati kita. Maka tidaklah mendekatnya keberangkatan (ke akirat) itu, membangunkan kita. Dan tidaklah banyaknya dosa menggerakkan kita. Tidaklah penyaksian hal-keadaan orang-orang yang takut, menakutkan kita. Dan tidaklah bahaya al-khatimah mengejutkan kita. .

Maka kita bermohon kepada Allah Ta'ala, kiranya IA memperdapatkan kembali dengan kurnia dan kemurahanNYA, akan hal-ihwal kita. Lalu diperbaikiNYA kita, jikalau adalah penggerakan lisan dengan semata-mata meminta tanpa persediaan itu bermanfaat bagi kita.

Dan diantara keajaiban-kajaiban, bahwa kita apabila berkehendak kepada harta di dunia, nescaya kita bercocok tanam dan menanam, berniaga, menyeberangi lautan dan padang pasir dan kita menghadang bahaya. Dan kalau kita bermaksud mencari pangkat ilmu pengetahuan, nescaya kita mempelajari ilmu fikih. Dan kita bersusah payah menghafal dan mengulang-ulanginya, Dan kita tidak tidur malam. Kita bersungguh-sungguh mencari rezeki kita. Dan kita tidak percaya akan jaminan Allah kepada kita. Dan kita tidak duduk di rumah kita, lalu kita berdo'a: "Wahai Allah Tuhanku! Berikanlah kami rezeki!".

Kemudian apabila mata kita menatap ke arah Raja Yang Kekal Yang Berketetapan, nescaya kita cukupkan dengan mendo'akan dengan lidah kita: "Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan kasihanilah kami! Tuhan, yang kepadaNYA harapan kami dan dengan DIA kemegahan kami, yang memanggil kami dan berfirman:

(Wa-an laisa lil-insaani illaa maa sa-'aa).

Artinya: "Dan bahwa manusia itu hanya memperoleh apa yang diusahakannya". [QS.An-Najm. ayat 39. ]

Dan firmanNY A:

(Wa laa ya-ghurrannakum bil-Iaahil-gharuuru).

Artinya: "Dan janganlah kepercayaan kamu kepada Allah tertipu oleh yang amat pandai menipu!". [QS.Fathir. ayat 5. ]

Dan firmanNYA:

(Yaa-ayyuhal-insaanu maa gharraka bi-rabbikal-kariimi)

Artinya: "Hai manusia! Apakah yang memperdayakan engkau terhadap Tuhan engkau yang Pemurah?". [QS. AI-Infithar, ayat 6. ]

Kemudian, setiap yang demikian itu tidak memberitahukan kepada kita dan tidak mengeluarkan kita, dari lembah keterperdayaan kita dan angan-angan kita. Maka tidaklah ini, selain bencana yang menghuru-harakan, jikalau tidaklah Allah mengkurniakan kepada kita dengan taubat nashuha, yang memperdapatkan kita dengan taubat itu dan menampalkan kekurangan kita. Maka kita bermohon kepada Allah Ta'ala, kiranya IA mempertaubatkan kita. Bahkan, kita bermohon kepadaNYA, bahwa IA merindukan rahsia hati kita kepada taubat, dan IA tidak menjadikan gerakan lidah, dengan permintaan taubat itu penghabisan keberuntungan kita. Lalu kita termasuk orang yang mengatakan dan tidak mengerjakan. Mendengar dan tidak menerima. Apabila kita mendengar pengajaran, nescaya kita menangis. Dan apabila datang waktu amal, dengan apa yang kita dengar, lalu kita ingkari. Maka tiada tanda kehinaan yang lebih besar dari ini! Maka kita bermohon kepada Allah Ta'ala kiranya IA mencurahkan kepada kita nikmat dengan taufiq dan petunjuk, dengan nikmat dan kurniaNYA!

Marilah kita singkatkan ceritera hal-ihwal orang-orang yang takut, sekadar apa yang telah kita kemukakan itu. Sesungguhnya sedikit dari ini berbetulan dengan hati yang menerima. Maka memadailah. Dan yang banyak daripadanya, jikalau dicurahkan kepada hati yang lalai, maka tidaklah mengayakan.

Sungguh benarlah seorang pendeta yang diceriterakan oleh Isa bin Malik AI-Khaulani. Dan pendeta itu termasuk orang yang beribadah yang pilihan. Bahwa Isa bin Malik. AI-Khaulani melihat pendeta tersebut di pintu Baitul-maqdis berdiri, seperti keadaan orang gundah hati, dan bersangatan bimbang. Dan hampir tidak kering air matanya dari banyaknya menangis.

Maka Isa bin Malik AI-Khaulani berkata: "Tatkala aku melihatnya, maka mendahsyatkan aku memandangnya. Lalu aku berkata: "Hai pendeta! Berikanlah aku wasiat (nasehat) yang akan aku hafal dari engkau!". Pendeta itu menjawab: "Hai saudaraku! Dengan apa aku nasehatkan engkau? Jikalau sangguplah engkau setingkat dengan seorang laki-Iaki, yang dihalau oleh binatang buas dan singa. Orang itu takut, yang berhati-hati. Ia takut lengah, lalu diterkam oleh binatang buas. Atau lupa, lalu ia ditangkap dengan mulut oleh singa. Dia yang berhati kecut, yang takut. Dia pada malamnya dalam ketakutan, walaupun orang-orang yang terperdaya merasa aman. Dan pada siangnya dalam kegundahan, walau pun orang-orang yang tak ada kerja, merasa beruntung".

Kemudian, pendeta itu pergi dan ditinggalkannya aku. Lalu aku mengatakan: "Jikalau engkau tambahkan sedikit lagi kepadaku, nescaya mudah-mudahan bermanfaat kepadaku".

Pendeta itu menjawab: "Orang yang haus, memadailah baginya dari air sesedikitnya" .

Sungguh benar pendeta itu! Bahwa hati yang bersih itu digerakkan oleh sedikitnya ketakutan. Dan hati yang beku, setiap pengajaran tidak disetujuinya.

Apa yang disebutkannya dari kira-kira, bahwa ia dihalau oleh binatang buas dan singa, maka tiada sayogialah disangka, bahwa itu kira-kira. Akan tetapi, itu sungguh-sungguh. Maka jikalau engkau menyaksikan dengan nur mata-hati, akan batin engkau, nescaya engkau lihat penuh dengan berbagai macam binatang buas dan bermacam-macam singa:

Seperti marah, nafsu syahwat, busuk hati, dengki, sombong, mengherani diri('ujub), ria dan lainnya. Dan sifat-sifat ini selalu menerkan engkau dan menangkap engkau dengan mulutnya, jikalau engkau lalai sekejap mata saja. Hanya, terdinding mata engkau daripada melihatnya. Maka apabila tersingkap tutupnya dan engkau telah diletakkan dalam kubur engkau, nescaya engkau melihatnya. Dan telah tergambar bagi engkau dengan rupa dan bentuknya yang bersesuaian dengan maknanya. Maka engkau melihat dengan mata engkau, akan kala-jenking dan ular. Dan ia melekatkan pandangan kepada engkau dalam kubur engkau. Dan itu sesungguhnya adalah sifat-sifat engkau yang ada sekarang, yang telah terbuka kepada engkau bentuk-bentuknya. Jikalau engkau bermaksud membunuhnya dan memaksakannya dan engkau sanggup atas yang demikian, sebelum mati, maka kerjakanlah! Jikalau tidak, maka sediakanlah diri engkau kepada sengatan dan tangkapan mulutnya, bagi jantung hati engkau! Lebih-lebih lagi, dari zahiriyah kulit engkau!

Wassalam!

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”