DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: arti su-ul-khatimah

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: arti su-ul-khatimah

Kalau anda bertanya: bahwa kebanyakan mereka itu, takutnya adalah kepada su-ul-khatimah, maka apa arti su-ul-khatimah itu?

Ketahuilah, bahwa su-ul-khatimah itu ada dua tingkat. Salah satu daripadanya lebih besar dari yang lain.

Adapun tingkat yang besar, yang mendahsyatkan, bahwa mengerasi atas hati, ketika sakaratul-maut dan lahir ke-huru-hara-annya, adakalanya oleh keraguan dan adakalanya oleh keingkaran. Lalu roh (nyawa) diambil dalam keadaan kerasnya keingkaran atau keraguan. Maka ikatan keingkaran yang mengerasi atas hati itu, menjadi dinding (hijab) di antaranya dan Allah Ta'ala untuk selama-Iamanya. Dan yang demikian menghendaki akan kejauhan yang terus-menerus dan siksaan yang berkekalan.

Yang kedua, yaitu: kurang dari yang pertama tadi, bahwa mengerasi atas batinya ketika mati, oleh kecintaan kepada sesuatu dari hal dunia dan keinginan dari keinginan-keinginan dunia. Maka membentuk yang demikian itu dalam batinya dan menenggelamkannya. Sehingga, tidak ada lagi dalam keadaan itu, tempat yang lapang untuk yang lain. Maka berkebetulan pengambilan nyawanya dalam keadaan yang demikian. Maka adalah ketenggelaman batinya dengan yang demikian itu, membalikkan kepalanya ke dunia. Dan memalingkan mukanya ke dunia itu.

Manakala muka telah berpaling dari Allah Ta'ala, niscaya terjadilah hijab. Dan manakala telah terjadi hijab, niscaya turunlah azab. Karena neraka Allah yang menyala-nyala itu, tidak mengambil, selain orang-orang  yang terhijab daripada Allah. Adapun orang mu'min yang sejahtera batinya dari kecintaan kepada dunia, yang terarah cita-citanya kepada Allah Ta'ala, maka neraka mengatakan kepadanya: "Lalulah, hai mu'min! Sinarmu telah memadamkan api-baraku".

Manakala berkebetulan pengambilan nyawa dalam keadaan kerasnya kecintaan kepada dunia, maka keadaan amat berbahaya. Karena manusia itu mati, menurut apa yang ia hidup. Dan tidak mungkin diusahakan sifat yang lain bagi hati, sesudah mati, yang berlawanan dengan sifat yang mengerasi atas dirinya. Karena tidak berlaku pada hati, selain amal-perbuatan anggota badan. Dan anggota badan itu telah batil dengan mati. Maka batillah segala amal perbuatan. Maka tak ada harapan pada amal perbuatan lagi. Dan tak ada harapan untuk kembali ke dunia, untuk memperoleh apa yang hilang. Dan ketika itu, besarlah penyesalan. Hanya, pokok iman dan kecintaan kepada Allah Ta'ala, apabila telah melekat pada hati, maka itu masa yang panjang. Dan yang demikian, bertambah teguh, dengan amal-amal shalih. Maka itu menghapuskan dari hati, akan keadaan tersebut, yang datang bagi hati ketika mati. Kalau ada kekuatan imannya  kepada batas seberat biji sawi, niscaya iman itu mengeluarkannya  dari neraka, pada waktu yang sangat dekat. Dan kalau kurang dari yang demikian, niscaya lamalah berhentinya dalam neraka. Dan kalau tak ada imannya, selain seberat sebutir biji-bijian, maka tak dapat tidak, iman itu akan mengeluarkannya dari neraka, walaupun sesudah ribuan tahun. Kalau anda mengatakan: "Bahwa apa yang telah aku sebutkan itu meng-hendaki, bahwa bersegeralah neraka kepadanya, sesudah matinya. Maka apa artinya dikemudiankan kepada hari kiamat dan ditangguhkan sepanjang masa itu?".

Ketahuilah kiranya, bahwa setiap orang yang mengingkari akan azab kubur, maka orang itu pembuat bid'ah dan ia terdinding dari nur Allah Ta'ala, dari nur AI-Qur-an dan nur iman. Bahkan yang shahlih dari orang-orang yang mempunyai mata hati, ialah apa yang shahih pada hadits-hadits. Yaitu: bahwa kubur itu, adakalanya satu lobang dari lobang-lobang neraka atau suatu taman dari taman-taman syurga. (Dirawikan At-Tirmidzi dari Abi Sa'id katanya: hadits gharib.).

Dan kadang-kadang dibukakan kepada kubur yang diazabkan, tujuh puluh pintu dari neraka jahannam, sebagaimana tersebut pada hadits-hadits. Maka ketika nyawanya bereerai dari si mati, lalu turun padanya bala-bencana, kalau ia celaka dengan su-ul-khatimah. Hanya bermacam-macam jenis azab itu, densan bermacam-macam waktu. Maka adalah pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir ketika diletakkan orang yang mati itu dalam kubur (Telah diterangkan dahulu pada "Kaedah-kaedah I'tikad") dan penyiksaan sesudahnya. (Telah diterangkan dahulu.)

Kemudian perdebatan pada hitungan amal (hisab amal). (Telah diterangkan dahulu). Dan tersiarnya di hadapan orang banyak, yang menyaksikan di hari kiamat. Sesudah itu, bahaya pada titian shiratulmustaqim. Yaitu: malaikat-malaikat penjaga neraka (az-zabaniyah). Sampai kepada penghabisan apa yang tersebut pada hadits-hadits. Maka senantiasalah orang yang celaka itu bulak-balik dalam semua keadaannya, di antara berbagai macam azab-siksaan. Dan diazabkan dalam jumlah hal-keadaan itu, selain orang yang dilindungi oleh Allah dengan rahmatNYA.

Jangan anda menyangka, bahwa tempat iman itu dimakan oleh tanah. Akan tetapi, tanah memakan semua anggota badan dan dihancurkannya, sampai datang waktunya. Maka berkumpullah babagian-babagian badan yang telah cerai-berai. Dan dikembalikan nyawa kepadanya, di mana nyawa itu adalah tempatnya iman. Dan nyawa itu, sejak dari waktu mati. sampai kepada dikembalikan, adakalanya: dalam perut burung hijau, yang tergantung di bawah 'Arasy, jikalau nyawa itu berbabagia. Dan adakalanya dalam keadaan yang berlawanan dengan keadaan di atas, jikalau kita berlindung dengan Allah ada nyawa itu tidak mendapat kebabagiaan. Kalau anda bertanya: "Apa sebabnya yang membawa kepada su-ul-khatimah? Maka ketahuilah, bahwa sebab-sebab keadaan ini, tidak mungkin dihinggakan dengan uraian. Akan tetapi, mungkin diisyaratkan kepada kumpulannya. Adapun kesudahan dengan keraguan dan keingkaran, maka terbatas sebabnya pada dua perkara:

Pertama: tergambar kesudahan itu serta sempurnanya wara' dan zuhud dan sempurnanya kebaikan pada amal-perbuatan, seperti orang yang me-ngerjakan bid'ah, yang zuhud. Maka akibatnya berbahaya sekali. Walau pun amal-perbuatannya shalih. Dan tidaklah aku maksudkan suatu mazbab, lalu aku katakan, bahwa: itu bid'ah. Maka penjelasan yang demikian itu akan panjang pembicaraan padanya. Akan tetapi, aku kehendaki dengan bid'ah, ialah: bahwa seseorang beri'tikad mengenai zat Allah Ta'ala, sifatNya dan afalNya, menyalahi kebenaran. Lalu ia beri'tikad menyalahi apa yang sebenamya. Adakalanya, dengan pendapatnya, dengan yang difikirinya dan pandangannya, yang dengan demikian itu, ia berdebat dengan musuhnya. Kepada yang demikian, ia berpegang. Dan yang demikian itu, ia tertipu. Adakalanya, ia mengambil dengan ikut-ikutan (taqlid) dari orang, yang demikian keadaannya. Maka apabila telah mendekati mati, telah menampak baginya ubun-ubun Malakul-maut dan bergoncangan hati, dengan apa padanya, kadang-kadang terbukalah baginya dalam keadaan sakaratul-maut itu, batalnya apa yang telah dii'tikadkannya, karena kebodohan. Karena keadaan mati itu, ialah: keadaan terbukanya tutup. Dan permulaan sakaratnya itu daripadanya. Maka kadang-kadang terbuka sebabagian perkara. Maka manakala batallah padanya, apa yang telah dii'tikadkannya (diyakininya) dan ia telah berketetapan hati dan yakin pada dirinya, niscaya ia tidak menyangka, bahwa ia bersalah pada i'tikad tersebut khususnya. Karena ia terbawa kepada pendapat yang batil dan akal yang kurang. Bahkan, ia menyangka, bahwa setiap apa yang dii'tikadkannya itu tidak berasal. Karena tak ada padanya, perbedaan antara imannya kepada Allah dan RasulNYA dan aqidah-aqidahnya yang lain yang benar, dengan i'tikad yang salah. Maka tersingkapnya sebabagian aqidahnya dari kebodohan, adalah sebab batalnya aqidah-aqidahnya yang lain. Atau karena keraguannya pada aqidah-aqidah itu.

Kalau kebetulan keluar nyawanya pada kali ini, sebelum ia tetap dan kembali kepada pokok iman, maka berkesudahanlah baginya dengan keadaan buruk (su-ul-kha-timah). Dan keluarlah nyawanya di atas kemusyrikan.Kita berlindung dengan Allah daripada yang demikian. Mereka itulah Yang dimaksud dengan firman Allah Ta'al:

Artinya: "Dan ketika itu, jelas bagi mereka, bahwa apa-apa yang dahulunya mereka tiada kira itu, memang dari Allah". S.Az-Zumar. ayat 47.

Dan dengan firmanNYA:

 

Artinya: "Katakan: Akan Kami beritakankah kepadamu. orang-orang yang paling rugi dalam pekerjaannya? Mereka yang terbuang saja usahanya dalam kehidupan dunia. sedangkan mereka mengira. bahwa mereka melakukan usaha-usaha yang baik". S.AI-Kahf, ayat 103 - 104.

Dan sebagaimana kadang-kadang  terbuka pada sakaratul-maut sebabagian keadaan. Karena kesibukan dunia dan nafsu keinginan badan, itulah yang mencegah hati daripada memperhatikan kepada alam malakut (alam tinggi). Maka ia membaca, apa yang pada Luh Mahfudh, supaya terbuka baginya keadaan yang sebenarnya. Maka adalah contoh hal keadaan ini. menjadi sebab bagi terbuka (al-kasyaf). Dan adalah al-kasyaf itu menjadi sebab keraguan pada i'tikad-i'tikad lainnya.

Setiap orang yang beri'tikad mengenai Allah Ta’ala. mengenai sifat-sifatNYA dan afalNYA. akan sesuatu dibalik yang sebenarnya, maka adakalanya, karena ikut-ikutan (taqlid). Dan adakalanya, karena memperhatikan kerada pendapat dan pemikiran. Maka dia berada dalam bahaya ini. Zuhud dan ke-shalih-an itu tidak mencukupi, untuk menolak bahaya tersebut. Akan tetapi, tiada yang melepaskan daripadanya, selain oleh i'tikad yang benar. Dan orang-orang dungu dapat tersingkirkan dari bahaya ini. Yakni: mereka yang beriman kepada Allah. RasuINYA, dan hari akhirat, dengan iman yang mujmal (tiada terperinci), yang meresap dalam batinya. Seperti: orang Arab dusun, orang-orang hitam dan orang-orang awam lainnya, yang tiada terjun dalam pembahasan dan pemerhatian. Dan mereka tidak masuk dalam ilmu kalam (ilmu ketuhanan) secara bebas. Dan mereka tidak bertekun kepada bermacam-macam jenis orang-orang ahfi ilmu kalam (al-mutakallimin), pada mengikuti pembicaraan mereka itu yang bermacam-macam. Dan karena itulah Nabi s.a.w. bersabda:

 

Artinya: "Kebanyakan isi syurga itu orang-orang dungu". (Dirawikan AI-Bazzar dari Anas dan telah diterangkan dahulu.).

Karena itulah. dilarang oleh ulama salaf, dari pembahasan, pemerhatian dan penerjunan dalam ilmu kalam. Dan pemeriksaan dari urusan-urusan itu. Mereka menyuroh manusia membatasi diri untuk mengimani, dengan apa yang diturunkan oleh Allah 'Azza wa Jalla semuanya. Dan dengan setiap apa yang datang dari secara dhahiriyah saja. Serta beri'tikad akan tidak keserupaan (dalam bentuk apa pun antara KAHLIQ dengan makhluk). Mereka melarang manusia terjun dalam penta'wilan (mencari pengertian yang dapat dipahami pikiran). Karena bahaya pada membahas sifat-sifat Allah itu amat besar, halangan-halangannya menyusahkan dan jalan-jalannya menyulitkan.

Dan akaI manusia untuk mengetahui keagungan Allah Ta'ala itu pendek. Dan petunjuk Allah Ta'ala dengan nurul-yaqin dari hati, dengan apa yang menjadi tabiatnya dari kecintaan kepada dunia itu, terhijab (terdinding). Dan apa yang disebutkan oleh para pembahas, dengan modal akal pikiran mereka itu kacau dan bertentangan. Dan hati, untuk apa yang disampaikan kepadanya pada permulaan kejadian itu merasa jinak. Dan dengannya itu tersangkut. Dan ta'assub (kefanatikan) yang berkobar di antora manusia itu merupakan paku-paku yang teguh bagi kepercayaan-kepercayaan yang diwarisi. Atau yang diambil dengan baik sangka, dari para guru pada permulaan keadaannya. Kemudian, tabiat manusia itu tersangkut dengan kecintaan kepada dunia. Kepada dunia, tabiat itu menghadap. Dan nafsu keinginan dunia itu mencekek lehernya. Dan berpaling dari kesempurnaan berpikir. Maka apabila' pintu pembicaraan mengenai Allah dan sifat-sifatNYA, dengan pendapat dan akal itu dibuka, serta berlebih-kurangnya manusia tentang kecerdasan, berbedanya mereka pada tabiat dan lobanya setiap orang bodoh pada mendakwakan kesempurnaan atau mengetahui akan hakikat kebenaran, niscaya terlepaslah lidah mereka, dengan apa yang terjadi, bagi setiap orang dari mereka. Dan menyangkutlah yang demikian dengan hati orang-orang yang memperhatikan kepada mereka. Dan teguhlah yang demikian, dengan lamanya kejinakan hati pada mereka. Lalu tersumbatlah secara keselurohan, jalan kelepasan kepada mereka. Maka adalah keselamatan makhluk itu, dengan menyibukkan mereka dengan amal shalih (perbuatan yang baik). Dan tidak membawa mereka, kepada apa yang di luar dari batas kesanggupan mereta.

Akan tetapi, sekarang telah menurunlah tali kekang dan telah berkembanglah kesia-siaan. Setiap orang bodoh menempatkan diri yang bersesuaian dengan pembawaannya, dengan sangkaan dan terkaan. Dia berkeyakinan, bahwa yang demikian itu ilmu dan yang meyakinkan. Dan itu iman yang murni. Ia menyangka. bahwa apa yang terjadi pada dirinya, terkaan dan uret-uretan itu ilmul-yaqin dan 'ainuf-yaqin. Dan akan anda ketahui beritanya sesudah seketika. Dan sayogialah dinyanyikan mengenai mereka itu, ketika tersingkapnya tutup:

Engkau baikkan sangkaan.

dengan hari-hari, karena ia berbuat baik.

Dan engkau tidak takut akan keburukan,

apa yang didatangkan oleh taqdir.

Engkau diselamatkan oleh malam-malam,

lalu engkau tertipu dengan demikian.

Dan ketika jernihnya malam-malam,

datanglah kekerohan …….           .

Ketahuilah dengan keyakinan, bahwa setiap orang yang memperbedakan iman yang penuh sangkaan dengan Allah. RasulNYA dan kitab-kitabNYA dan terjun dalam pembahasan, maka sesungguhnya ia menempuh bahaya ini. Contohnya adalah seperti orang yang pecah kapalnya dan dia dalam pukulan ombak. Ia dilemparkan oleh ombak ke ombak. Kadang-kadang  berbetulan, ia dilemparkan ke pantai. Dan yang demikian itu jauh dari ke-jadian. Dan yang banyak terjadi, dia itu binasa.

Setiap orang yang turun kepada suatu' aqidah, yang diperolehnya dari para pembahas, dengan modal akan pikiran mereka, adakalanya bersama dalil-daliI, yang diuraikannya dalam kefanatikan. Atau tanpa dalil-dalil. Maka jikalau dia itu ragu padanya niscaya dia itu perusak Agama. Dan jikalau ia percaya dengan yang demikian, maka dia itu merasa aman dari rencana Allah. Tertipu dengan akalnya yang kurang. Dan setiap orang yang terjun dalam pembahasan. maka ia tidak terlepas dari dua hal ini. Kecuali. apabila ia melampaui batas-batas yang diterima akal pikiran kepada nur mukasyafah yang menjadi tempat  terbitnya matahari pada alam ke-walian dan ke-nabi-an. Dan yang demikian itu adalah belerang merah (Maksudnya: sukar diperoleh. sebabnya belerang itu pada umumnya kuning warnanya. Seperti dalam bahasa kita: gagak putih atau kuda bertanduk. ). Dan di manakah mudah diperoleh? Dan yang selamat daripada bahaya ini ialah: orang dungu dari orang awam. Atau mereka yang disibukkan oleh takutnya kepada neraka, dengan mentha'ati Allah. Maka mereka tidak terjun pada perbuatan yang tidak penting ini.

Maka inilah salah satu sebab yang membahayakan pada su-ul-khatilmah. Adapun sebab kedua. yaitu: kelemahan iman pada pokok. Kemudian, ke-cintaan kepada dunia menguasai hati. Dan manakala lemahlah iman, niscaya lemahlah kecintaan kepada Allah Ta'ala dan kuatlah kecintaan kepada dunia. Lalu jadilah, tidak ada lagi tempat dalam hati untuk mencintai Allah Ta’ala. Selain dari segi: kata hati. Dan tak lahir baginya bekas pada menyalahi hawa-nafsu dan berpaling dari jalan setan. Maka yang demikian itu mewarisi kebinasaan pada mengikuti nafsu-syahwat. Sehingga gelaplah hati kesat dan hitam. Dan bertindis-Iapis kegelapan hawa nafsu ke atas hati. Maka senantiasalah padam nur iman yang ada padanya, di atas kelemahannya itu. Sehingga jadilah yang demikian itu tabiat dan karat. Maka apabila datang sakaratul-maut, niscaya bertambahlah kecintaan itu. Ya'ni: kecintaan kepada Allah itu bertambah lemah, karena apa yang tampak dari perasaan berpisah dengan dunia. Dan dunia itu kecintaan yang merigerasi atas hati. Lalu hati itu merasa pedih dengan perasaan perpisahan dengan dunia. Dan ia melihat yang demikian dari Allah. Maka tergeraklah batinya dengan mengingkari apa yang ditakdirkan kepadanya, dari kematian. Dan tiada menyukai yang demikian, dari segi, bahwa dia itu dari Allah. Maka ditakuti akan berkobar dalam batinnya akan kemarahan kepada Allah, ganti dari kecintaannya. Sebagaimana orang yang mencintai anaknya, dengan kecintaan yang lemah. Apabila anaknya itu mengambil hartanya, yang lebih dikasihinya dari anaknya dan dirusakkannya, niscaya berbaliklah kecintaan yang lemah itu kepada kemarahan. Maka jikalau berbetulan keluar nyawanya pada detik itu, yang terguris padanya gurisan ini, niscaya berkesudahanlah baginya dengan keburukan (su-ul-khatimah). Dan binasalah ia untuk selama-Iamanya. Dan sebab yang membawa kepada kesudahan yang seperti ini, ialah: kerasnya kecintaan kepada dunia, kecenderungan kepadanya dan gembira dengan sebab-sebabnya. Serta kelemahan iman, yang memastikan kelemahan kecintaan kepada Allah Ta'ala. Maka siapa yang memperoleh dalam batinya kecintaan kepada Allah, yang lebih keras dari kecintaan kepada dunia, walaupun ada juga kecintaannya kepada dunia, maka dia itu lebih jauh dari bahaya tersebut. Kecintaan kepada dunia itu kepala (pokok) setiap kesalahan. Dan itu penyakit yang melumpuhkan. Dan telah meratai kepada segala jenis manusia. Dan yang demikian itu semuanya, karena sedikitnya ma'rifah kepada Allah Ta'ala. Karena tiada yang mencintai akan Allah. selain orang yang mengenaliNYA. Dan karena inilah Allah Ta'ala berfirman:

 

Artinya: "Katakan: Kalau bapa-bapamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, perempuan-perempuanmu. kaum keluargamu, kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu kuatiri menanggung rugi dan tempat tinggi yang kamu sukai; kalau semua itu lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjuang di jalan Allah, tunggulah sampai Allah mendatangkan perintahNYA. S.At-Taubah. ayat 24.

Jadi, maka setiap orang yang berpisah nyawanya, pada keadaan detik keingkaran batinya kepada Allah Ta'ala dan lahir kemarahan kepada perbuatan   Allah dengan batinya, pada terpisahnya di antara dia dan isterinya, hartanya dan lan-lain yang dikasihinya, niscaya adalah kematiannya itu merupakan kedatangan kepada yang dimarahi oleh Allah Ta'ala dan berpisah dengan apa yang dikasihinya. Maka ia datang kepada Allah sebagai  datangnya hamba yang dimarahi yang lari dari tuannya apabila ia datang kepada tuannya itu karena terpaksa. Maka tidak tersembunyi lagi apa yang berhak diterimanya dari kehinaan dan hukuman.

Adapun orang yang mati di atas kecintaan kepada Allah, maka orang itu kepada Allah Ta'ala, sebagai datangnya hamba yang berbuat baik, rindu kepada tuannya, yang menanggung kesulitan-kesulitan perbuatan dan kesukaran-kesukaran perjalanan, karena mengharap bertemu dengan tuannya. Maka tidaklah tersembunyi, apa yang dijumpainya dari kesenangan dan kegembiraan, dengan semata-mata bertemu itu. Lebih-Iebih dengan apa yang berhak diterimanya, dari kelemah-Iembutan pemuliaan dan kecemerlangan penikmatan.

Adapun kesudahan kedua (al-khatimah ats-tsaniyah), yang kurang dari yang pertama itu dan tidak menghendaki kepada kekekalan dalam neraka, maka ia mempunyai juga dua sebab. Yang pertama, banyak perbuatan maksiat, walau imannya kuat. Dan yang satu lagi (yang kedua). lemahnya iman, walau pun sedikit perbuatan maksiat.

Yang demikian itu, karena berbuat perbuatan maksiat itu. sebabnya ialah: kerasnya nafsu-syahwat dan melekatnya di hati disebabkan banyaknya ke-jinakan hati dan kebiasaan atas yang demikian. Dan semua yang suka hati manusia kepadanya, dalam umurnya, akan kembali ingatannya kepada batinya ketika ia mati. Kalau kecenderungannya itu lebih banyak kepada perbuatan tha'at, niscaya adalah kebanyakan yang hadir kepada batinya, ingatan tha 'at kepada Allah Ta 'ala. Dan kalau kecenderungannya Iebih banyak kepada perbuatan maksiat, niscaya banyaklah ingatan kepada perbuatan maksiat itu pada batinya, ketika mati. Maka kadang-kadang diambil nyawanya ketika kerasnya nafsu keinginan kepada dunia dan kepada perbuatan maksiat. Lalu terikat batinya kepada yang demikian. Dan ia menjadi terhijab (terdinding) dari Allah Ta’ala. Maka orang yang tiada mengerjakan dosa, selain sekelumit. Sesudah sekelimit, niscaya ia lehih jauh dari bahaya itu. Dan orang yang tiada sekali-kali mengerjakan dosa, maka dia itu jauh sekali dari bahaya itu. Dan orang yang banyak perbuatan maksiatnya dan lebih banyak dari perbuatan tha'atnya dan batinya lebih senang dengan perbuatan maksiat itu dari perbuatan tha'at, maka bahaya itu besar sekali terhadap dirinya.

Akan kami perkenalkan ini dengan suatu contoh. Yaitu: sesungguhnya tiada tersembunyi kepada anda, bahwa manusia itu bermimpi sewaktu tidur, sejumlah hal-keadaan yang diketahuinya sepanjang umurnya. Sehingga dia itu bermimpi, sesuai dengan yang dilihatnya sewaktu ia jaga. Dan sehingga anak yang mendekati dewasa (al-murahiq) yang bermimpi dengan keluar maninya (al-ihtilam), niscaya tidak akan memimpikan bentuk bersetubuh, apabila ia belum pernah bersetubuh dalam jaganya. Dan kalau tetap ia dalam beberapa waktu, seperti yang demikian, niscaya ia tiada akan melihat dalam mimpinya akan bentuk bersetubuh. Kemudian, tiada tersembunyi lagi, bahwa orang yang menghabiskan umurnya mempelajari ilmu fikih, niscaya akan bermimpi hal ihwal yang menyangkut dengan ilmu dan ulama, lebih banyak daripada yang dimimpikan oleh seseorang saudagar, yang menghabiskan umurnya dalam perniagaan. Dan seorang saudagar yang bermimpi tentang hal-ihwal yang menyangkut dengan perniagaan dan sebab-sebabnya itu lebih banyak dari yang dimimpikan oleh seorang dokter dan seorang ahli fikih (al-faqih). Karena, timbul dalam keadaan tidur itu, apa yang telah dihasilkannya, bersesuaian dengan hati, dengan lamanya kejinakan hati atau dengan salah satu sebab-sebab lain.

Mati itu menyerupai tidur. Akan tetapi, diatas dari tidur. Akan tetapi, sakratul-maut dan yang mendahuluinya dari kepingsanan itu mendekati tidur. Maka yang demikian itu, menghendaki teringatnya yang dibiasakan oleh hati. Dan kembalinya kepada hati. Dan salah satu sebab yang menguatkan berhasilnya ingatan itu dalam hati, ialah: lamanya kejinakan hati dahulu kepadanya. Maka lamanya kejinakan hati dengan perbuatan-perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan tha'at juga, menguatkan yang demikian. Dan yang demikian itu berlainan pula antara tidumya orang-orang shalih dan orang-orang fasik. Maka adalah kerasnya kejinakan hati itu menjadi sebab untuk tergambamya bentuk yang keji dalam batinya, dan cenderung jiwanya kepadanya. Lalu kadang-kadang nyawanya diambil  di atas yang demikian. Maka adalah yang demikian itu menjadi sebab ,buruk kesudahannya (su-ul-khatimah). Walau pun pokok iman masih ada, menurut yang diharapkan ke-ikhlas-annya pada yang demikian. Maka adalah yang demikian itu menjadi sebqab buruk kesudahannya(su-ul-khatimah). Walaupun pokok iman masih ada, menurut yang diharapkan keikhlasannya pada yang demikian.

Sebagaimana apa yang terguris di batinya waktu jaga, sesungguhnya itu terguris dengan sebab khas (yang khusus), yang diketahui oleh Allah Ta’ala. Maka seperti demikian juga, bagi masing-masing tidur itu mempunyai sebab-sebab pada sisi Allah Ta'ala.  Sebabagiannya kita ketahui dan 'sebabagiannya tidak kita ketahui. Sebagaimana kita ketahui, bahwa yang terguris di hati itu berpindah dari sesuatu, kepada yang bersesuaian dengan dia. Adakalanya, disebabkan keserupaan. Adakalanya, disebab berlawanan. Dan adakalanya, disebabkan keberbandingan. Dengan adanya telah datang kepada pancaindra dari yang demikian .

Adapun disebabkan keserupaan, maka dengan sebab memandang kepada  yang cantik, lalu teringat kepada yang cantik, yang lain.

Ipun disebabkan keberlawanan, maka dengan melihat kepada yang buruk lalu teringat kepada yang buruk. Dan memperhatikan tentang sangat berlebih-kurangnya diantara keduanya itu.

Adapun disebabkan keberbandingan, maka dengan melihat kepada seekor kuda yang telah dilihatnya sebelumnya, serta seorang insan. Maka ia teringat akan insan itu.

Kadang-kadang yang terguris di hati itu berpindah dari sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dan ia tidak tahu segi kesesuaiannya. Dan adalah yang demikian itu, dengan suatu perantaraan dan dua perantaraan. Seperti ia berpindah dari sesuatu yang pertama, kepada sesuatu yang kedua. Dan daripadanya  kepada sesuatu yang ketiga. Kemudian, ia lupa kepada yang kedua. Dan tak ada kesesuaian antara yang ketiga dan yang pertama. Akan tetapi ada kesesuaian antara yang ketiga dan yang kedua. Dan antara yang kedua dan yang pertama. Maka seperti demikian juga, bagi perpindahan gurisan-gurisan hati dalam tidur itu mempunyai sebab-sebab, dari jenis ini. Dan seperti yang demikian juga, ketika sakaratul-maut.

Maka di atas dasar ini dan ilmu itu pada Allah bahwa orang, yang pekerjaan menjahit adalah terbanyak kesibukannya, maka anda akan melihat, bahwa orang itu menunjukkan kepada kepalanya, seakan-akan ia mengambil jarum penjahit, untuk dia menjahit dengan jarum penjahit itu. Dan ia membasahkan anak jarinya, yang menjadi kebiasaan baginya, dengan sarung jari. Ia mengambil kain sarung dari atasnya. Diukur dan dijengkalinya. Seakan-akan ia akan berbuat menceraikan kain sarung itu. Kemudian, ia memanjangkan tangannya kepada gunting.

Siapa yang menghendaki untuk mencegah gurisan batinya kepada berpindah pada perbuatan maksiat dan nafsu-syahwat, maka tiada jalan baginya, selain ber-mujahadah sepanjar umur, untuk memisahkan dirinya dari yang demjkian. Dan pada mencegah nafsu-syahwatnya dari hati. Maka ini adalah kadar yang masuk di bawah ikhtiar (usaha). Dan selalu rajin kepada kebajikan dan melepaskan diri dari kejahatan adalah alat dan simpanan untuk ketika sakaratul-maut. Sesungguhnya manusia itu akan mati, di atas apa yang ia hidup. Dan akan dibangkitkan di atas apa yang ia mati. Karena itulah, dinukilkan dari keadaan seorang tukang jual buah-buahan, bahwa dia diajarkan (di-talqin-kan) ketika akan mati, dua kalimah syahadah. Lalu tukang jual buah-buahan itu menjawab: lima, enam, empat. Adalah jiwanya sibuk dengan hitungan yang selalu dikerjakannya sebelum mati.

Sebabagian kaum berilmu ma'rifah (orang-orang 'arifin) dari ulama-ulama terdahulu. mengatakan: '''Arasy itu suatu permata yang nurnya gilang-gemilang. Maka tiadalah hamba itu di atas suatu keadaan, melainkan tercaplah sepertinya pada 'Arasy, di atas bentuk yang ada padanya. Maka apabila hamba itu pada sakaratul-maut, niscaya terbukalah bentuknya dari 'Arasy. Kadang-kadang ia melihat dirinya diatas bentuk maksiat. Dan seperti itu juga, terbuka baginya pada hari kiamat. Lalu ia melihat keadaan dirinya. Maka ia mengambil dari malu dan takut, akan sifat yang mulia.

Dan apa yang disebutkan oleh orang arifin tadi itu benar!

Dan sebabnya mimpi yang benar itu mendekati yang demikian. Sesungguhnya orang yang tidur itu mengetahui apa yang akan ada, pada masa mendatang, dari membaca Luh-Mahfudh. Dan itu adalah sebabagian dari nubuwwah (kenabian).

Jadi, su-ul-khatimah itu kembali kepada hal-keadaan hati dan masuknya gurisan-gurisan hati. Dan yang membalik-balikkan hati, ialah: ALLAH. Dan kebetulan-kebetulan yang menghendaki kepada buruknya gurisan-gurisan hati itu tidak masuk di bawah usaha, secara keselurohan. Walau pun ada pembekasan karena lamanya kejinakan hati padanya.

Maka dengan ini, sangatlah takutnya orang-orang arifin kepada su-ul"'atimah. Karena jikalau manusia mengingini, bahwa tidak melihat dalam aUmpinya, selain hal-ihwal orang-orang shalih dan hal-ihwal tha'at dan ibadat, niscaya sukarlah yang demikian kepadanya. Walaupun banyaknya ke-shalih-an dan rajin pada ke-shalih-an itu, termasuk yang membekas padanya. Akan tetapi, kegoncangan-kegoncangan khayalan itu, secanl keselurohan, tidak masuk di bawah kendalian. Walaupun hiasanya ada kesesuaian, apa yang tampak dalam tidur itu, dengan apa yang hiasanya dalarn jaga. Sehingga aku mendengar Syaikh Ahu Ali AI-Fllrimadzi r.a. menyifatkan (menerangkan) kepadaku. wajibnya kebagusan adab seorang murid bagi gurunya (syaikhnya). Dan bahwa tidak ada dalam batinya, penentangan bagi setiap apa yang dikatakan oleh syaikhnya. Dan tidak ada pada lidahnya pertengkaran dengan gurunya. Syaikh Ahu Ali hcrkata: "Aku ceriterakan kepada guruku Abil-Qasim AI-Kirmani akan mimpiku. Aku mengatakan: "Aku bermimpi. bahwa tuan guru mengatakan kepadaku demikian Lalu aku bertanya, mengapa yang demikian itu ?' ..

Syaikh Abu Ali meneruskan ceriteranya: "Lalu guruku Abil-Qasim AI-Kirmani memboikot aku sebulan. Beliau tidak berbicara dengan aku. Dan mengatakan: "Jikalau tidaklah dalam batin engkau, pembolehan penuntutan dan penentangan terhadap apa yang aku katakan kepada engkau, niscaya tidaklah berlaku yang demikian atas Iidah engkau dalam tidur". Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Abil-Qasim AI-Kirmani itu. Karena sedikitlah dimimpikan oleh manusia dalam tidurnya, akan kebaikan dari apa yang biasa waktu jaga pada batinya.

Inilah sekadar yang kami perbolehkan menyebutkannya pada Ilmu Mu’amalah, dari rahasia-rahasia persoalan al-khatimah. Dan dibalik yang demikian itu masuk dalam llmu Mukasyafah.

Dan telah terang bagi anda dengan ini, bahwa merasa aman dari su-ulkhatimah, ialah: dengan anda melihat segala sesuatu itu, menurut yang sebenarnya, tanpa kebodohan. Dan anda halau serba umur dalam ketha’atan kepada Allah, tanpa ada kemaksiatan. Maka jikalau anda tahu, bahwa yang demikian itu mustahil atau sukar, niscaya tidak boleh tidak, bahwa  keraslah di atas anda ketakutan akan apa yang telah keras atas orang 'arifin. Sehingga dengan sebabnya itu, lamalah tangisan anda pekikan anda. Dan terus-meneruslah dengan yang demikian itu, kegundahan anda dan kekacauan pikiran anda. Sebagaimana akan kami ceritakan dari hal-ihwal nabi-nabi dan orang-orang salaf yang shalih. Supaya adalah yang demikian itu salah satu sebab yang mengobarkan api ,ketakutan dari hati anda.

Sesungguhnya anda mengetahui dengan ini, bahwa amal-perbuatan selama umur selurohnya itu lenyap, jikalau tidak selamat pada nafas yang akhir. Waktu keluarnya nyawa. Dan selamatnya itu serta bergoncangnya Ig kegurisan-kegurisan di hati itu sukar sekali. Dan karena itulah, Mathraf bin Abdullah mengatakan: "Sesungguhnya aku tidak heran akan orang yang binasa, bagaimana ia binasa. Akan tetapi, aku heran akan orang yang terlepas dari kebinasaan, bagaimana maka ia terlepas".

Dan karena itulah, Hamid AI-Laffaf berkata: "Apabila naiklah para malaikat dengan membawa roh hamba yang mukmin, yang sudah mati di atas kebajikan dan agama Islam, niscaya heranlah para malaikat dari yang demikian. Dan mereka mengatakan: "Bagaimana terlepasnya si Ini dari dunia, yang telah rusak padanya orang-orang pilihan kita?".

Ats-Tsuri pada suatu hari menangis. Lalu ditanyakan kepadanya: "Atas dasar apa anda menangis?".

Beliau menjawab: "Kami menangis di atas dosa-dosa pada suatu ketika. Maka sekarang, kami menangis di atas Islam".

Kesimpulannya, bahwa orang yang jatuh kapalnya dalam lautan yang dalam dan diserang oleh angin ribut dan dipukul oleh ombak, niscaya kelepasan pada orang ini, adalah lebih jauh, dibandingkan dengan kebinasaan. Dan hati orang mukmin itu, lebih berat pukulannya, dibandingkan dengan kapal. Dan ombak kegurisan-kegurisan dihati itu, lebih besar tamparannya, dari ombak lautan. Dan sesungguhnya yang menakutkan ketika mati itu, ialah kekuatiran su-ul-khatimah saja. Dan itulah yang di-sabdakan Nabi s.a.w.:     

 

Artinya: "Sesungguhnya orang yang beramal dengan amalan penduduk syurga selama limapuluh tahun. Sehingga tidak ada lagi, di antaranya dan syurga, selain masa perhentian di antara dua kali memerah susu unta. Maka berkesudahan bagi orang itu, dengan apa yang telah terdahulu baginya suratan amal".

Masa di antara dua kali memerah susu unta itu, tidak termuat untuk amalan yang mengharuskan ke-tidak-beruntungan. Akan tetapi, itu adalah gurisan-gurisan hati yang kacau-balau. Dan terguris sebagai gurisan kilat yang menyambar,

Sahl berkata: "Aku bermimpi, seakan-akan aku dimasukkan kedalam syurga. Lalu aku melihat tigaratus orang nabi. Maka aku bertanya kepada mereka: "Apakah yang lebih kamu takuti. dari apa-apa yang kamu takuti di dunia?". Para nabi itu menjawab: "Su-ul-khatimah!",

 

Oleh karena bahaya yang besar ini. maka mati syahid itu digemari orang. Dan mati secara tiba-tiba itu tidak disukai. Adapun mati secara tiba-tiba, maka karena mati itu kadang-kadang berkebetulan ketika kerasnya gurisan jahat dan menguasainya pada hati. Dan hati itu terlepas dari hal-hal yang seperti itu. kecuali ditolak dengan kebencian atau dengan nur-ma'rifah. Adapun mati syahid, maka karena mati syahid itu adalah ibarat dari pengambilan nyawa, dalam keadaan yang tak ada lagi dalam hati, selain kecintaan kepada Allah Ta'ala. Dan telah keluar dari hati kecintaan kepada dunia, isteri, harta, anak dan semua nafsu-syahwat. Karena ia tidak menyerbu ke barisan perang, yang menempatkan dirinya pada kematian, selain karena cinta kepada Allah, mencari ke redha-anNYA, menjual dunianya dengan akhiratnya dan redha dengan penjualan  yang diperjual belikan oleh Allah Ta'ala dengan dia. Karena Allah Ta'ala berfirman:

 

Attinya: "Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman, dengan memberikan syurga untuk mereka". S.AI-Taubah. ayat 111.

Penjual itu-sudah pasti- tidak ingin lagi kepada barang yang dijualnya. Telah keluar kecintaannya dari hatinya. Dan semata-mata kecintaan itu sekarang tertuju dalam hatinya kepada harga yang dimaksud.

Keadaan yang seperti ini, kadang-kadang mengerasi pada hati dalam sebabagian hal-ihwal yang lain. Akan tetapi, tiada berbetulan keluar nyawanya pada hal keadaan itu. Maka barisan perang itu sebab bagi keluarnya nyawa, di atas hal-keadaan yang tersebut.

Ini adalah terhadap orang yang tiada bermaksud untuk menang harta rampasan dan bagus suara orang tentang keberaniannya (Hadits yang menerangkan, bahwa orang yang terbunuh dengan maksud tersebut, tidak meperoleh darjat syahid. Dirawikan AL-Bukhari dan Muslim). Maka orang yang ini keadaannya, jikalau ia terbunuh dalam peperangan, niscaya dia itu jauh dari derajat yang seperti ini. sebagaimana telah dibuktikan oleh hadits-hadits.

Ketika telah terang bagi anda. makna su-ul-khatimah dan apa yang menakutkan padanya, maka berbuatlah dengan menyiapkan diri untuknya. Maka rajin berdzikir (mengingati) akan Allah Ta'ala! Keluarkanlah dari hati  akan kecintaan kepada dunia! Jagalah anggota tubuh anda dari perbuatan maksiat dan hati anda daripada berpikir padanya! Dan peliharalah kesungguhan anda daripada menyaksikan perbuatan-perbuatan maksiat dan menyaksikan orang-orangnya! Sesungguhnya yang demikian membekas pada hati anda. Dan memalingkan kepadanya pikiran anda dan gurisan-gurisan hati anda.

Awaslah bahwa anda menyerahkan hal itu kepada masa nanti dan mengatakan: "Aku akan menyiapkan untuk itu, apabila telah datang al-khatimah (kesudahan)". Sesungguhnya setiap nafas engkau itu kesudahan engkau. Karena mungkin padanya akan disambar nyawa engkau. Maka intiplah akan hati engkau pada setiap detik! Awaslah bahwa engkau meIengahkannya, akan sedetik pun! Mungkin detik itu kesudahan engkau. Karena mungkin akan disambar nyawa engkau padanya.

Ini adalah selama engkau dalam jaga. Adapun apabila engkau tidur, maka awaslah bahwa engkau tidur itu, selain di at as kesucian zahir dan batin. Dan jagalah, bahwa tidur itu mengerasi akan engkau, selain sesudah banyaklah dzikir kepada Allah pada hati engkau.

Aku tidak mengatakan pada lidah engkau. Sesungguhnya gerakan Iidah semata-mataitu lemah kesannya (membekasnya). Dan ketahuilah dengan yakin, bahwa tiada yang mengerasi atas hati engkau ketika tidur, selain apa yang biasanya ada sebelum tidur. Sesungguhnya, tiada yang mengerasi pada tidur, selain apa yang biasanya telah mengerasi sebelum tidur. Dan tidak membangkit  dari tidur engkau, selain apa yang mengerasi atas hati engkau pada tidur engkau. Kematian dan kebangkitan itu menyerupai tidur dan jaga. Maka sebagaimana hamba itu tidak tidur, selain di atas apa yang telah mengerasinya pada jaganya dan ia tidak jaga (bangun dari tidur), selain di atas apa, ia berada dalam tidurnya, maka seperti demikianlah, manusia itu tidak akan mati, selain di atas apa yang ia hidup padanya. Dan ia tidak akan dibangkitkan, selain di atas apa, yang ia mati padanya. Yakinilah dengan tegas dan yakin, bahwa kematian dan kebangkitan itu dua keadaan dari hal-hal keadaan engkau. Sebagaimana tidur dan jaga itu dua keadaan dari hal-hal keadaan engkau. Dan percayalah dengan ini. dengan pembenaran dengan i'tikad hati, jikalau engkau tidak  ahli untuk menyaksikan yang demikian, dengan 'ainul-yaqin dan nur penglihatan hati!

Intiplah nafas engkau dan detik-detik engkau! Dan jagalah diri engkau. daripada melupakan kepada Allah sekejap mata pun! Maka sesungguhnya, apabila engkau berbuat setiap yang demikian itu, niscaya engkau berada dalam bahaya besar. Maka bagaimana apabila engkau tidak berbuat? Manusia itu semua dalam kebinasaan, selain orang-orang yang berilmu. Dan orang-orang yang berilmu itu semua dalam kebinasaan. selain orang-orang yang beramal. Dan orang-orang yang beramal itu semua dalam kebinasaan. selain orang-orang yang ikhlas. Dan orang-orang yang ikhlas itu dalam bahaya besar.

Ketahuilah, bahwa yang demikian itu tidak mudah atas engkau. selama engkau tidak merasa cukup dari dunia. sekadar yang penting bagi engkau. Dan yang penting bagi engkau itu, ialah: makanan. pakaian dan tempat tinggal. Dan yang lain dari itu semua adalah hal kelebihan (tidak perlu).

Dan yang penting dari makanan, ialah: yang dapat menegakkan tulang  pinggang engkau dan menyumbat nyawa engkau dari keluar. Maka sayogialah bahwa pengambilan engkau itu, sebagai pengambilan orang yang  sangat memerlukan, yang tidak begitu suka kepadanya. Dan tidak ada keinginan engkau kepadanya,lebih banyak dari keinginan engkau pada membuang air besar engkau (ber-qadha-hajat). Karena, tiada berbeda, antara memasukkan makanan dalam perut dan mengeluarkannya dari perut. Keduanya itu penting pada tabiat kejadian manusia. Dan sebagaimana tidaklah membuang air besar itu termasuk cita-cita engkau yang menyibukkan hati engkau, maka tiada sayogialah bahwa mengambil makanan itu termasuk dari cita-cita engkau. Dan ketahuilah, bahwa jikalau ada cita-cita engkau itu apa yang masuk kedalam perut engkau, maka nilai engkau itu apa yang keluar dari perut engkau.

Apabila tidak ada maksud engkau dari makanan, selain taqwa kepada ibadah kepada Allah Ta'ala, seperti maksud engkau dari membuang air besar engkau, maka tanda yang demikian itu tampak pada tiga hal dari makanan engkau, yaitu: pada waktunya, kadarnya dan jenisnya.

Adapun waktu, maka sekurang-kurangnya bahwa dicukupkan pada sehari semalam, dengan satu kali. Maka dibiasakan berpuasa.

Adapun kadarnya, maka bahwa tidak lebih dari sepertiga perut.

Adapun jenisnya, maka tidak dicari makanan yang enak. Akan tetapi, dicukupkan dengan apa yang kebetulan ada.

Jikalau engkau sanggup di atas tiga keadaan ini dan gugur dari engkau perbelanjaan nafsu keinginan yang enak-enak, niscaya sangguplah engkau sesudah itu, pada meninggalkan harta yang diragukan halalnya (harta syubhat). Dan memungkinkan engkau, bahwa engkau tidak makan, selain dari yang halal. Sesungguhnya yang halal itu sukar dan tidak menyempurnakan semua keinginan nafsu.

Adapun pakaian engkau, maka adalah maksud engkau dari padanya, ialah: menolak panas dan dingin dan menutupi aurat. Maka setiap apa yang menolak kedinginan dari kepala engkau, walau pun dengan peci, yang harganya seperenam dirham, maka engkau mencari yang lain dari itu, merupakan hal yang berkelebihan dari engkau, yang menyia-nyiakan masa engkau. Dan mengharuskan engkau bekerja terus-terusan dan kepayahan pada menghasilkannya. Sekali dengan usaha dan pada kali yang lain dengan harap, dari yang haram dan harta syubhat.

Kiaskanlah dengan ini, akan apa yang dapat engkau tolakkan panas dan dingin dari badan engkau! Maka setiap apa yang dapat menghasilkan maksud pakaian, apabila engkau tidak merasa cukup dengan yang demikian, lantaran buruk mutu dan jenisnya, niscaya tidak adalah bagi engkau tempat berdiri dan kembali sesudahnya. Akan tetapi, adalah engkau itu  orang yang perutnya dipenuhi oleh tanah, demikian pula tempat tinggal. Jikalau engkau merasa cukup dengan maksud dari tempat tinggal itu, niscaya mencukupilah bagi engkau langit itu menjadi atap. Dan bumi itu tempat ketetapan. Jikalau engkau dikerasi oleh panas atau dingin, maka haruslah engkau tinggal di masjid. Jikalau engkau mencari tempat yang khusus, niscaya panjanglah waktu atas engkau. Dan teralihlah kepadanya kebanyakan umur engkau. Dan umur engkau itu adalah harta kekayaan engkau. Kemudian, jikalau mudah bagi engkau, lalu engkau maksudkan dari dinding itu, selain dari untuk mendindingi di antara engkau dan mata orang. Dan dari atap, selain dari untuk menolak hujan. Lalu engkau meninggikan dinding dan menghiaskan atap-atap. Maka engkau terjatuh dalam jurang, yang menjauhkan kemungkinan engkau dapat mendaki daripadanya.

Begitulah semua kepentingan urusan engkau, jikalau engkau singkatkan seperlunya saja, niscaya engkau dapat  mengisikan semua waktu untuk Allah. Dan engkau sanggup menyediakan perbekalan bagi akhirat engkau dan bersiap untuk kesudahan engkau. Dan jikalau engkau lampaui batas yang penting, kepada lembah angan-angan, niscaya kenyanglah angan-angan engkau. Dan Allah tidak memperdulikan pada lembah yang mana, yang membinasakan engkau. Maka terimalah nasehat ini, dari orang yang sangat memerlukan nasehat dari engkau!

Ketahuilah, bahwa lapangan mengatur, mencari perbekalan dan menjaga diri, adalah umur yang singkat ini. Kalau engkau dorong umur ini dari hari ke hari, tentang menyerahkan kepada masa depan atau engkau lengah, niscaya engkau disambar dengan tiba-tiba pada bukan waktu kehendak engkau. Dan tidak berpisah dari engkau, kerugian dan penyesalan engkau. Jikalau engkau tidak sanggup bergantung kepada apa, yang telah aku berikan petunjuk, disebabkan lemahnya takut engkau, karena tidak ada pada urusan kesudahan (al-khatimah) yang telah aku terangkan itu, mencukupi pada menakutkan engkau, maka akan kami bentangkan kepada engkau hal-ihwal orang-orang yang takut, yang kami harap, dapat menghilangkan sebabagian kekesatan hati engkau. Maka sesungguhnya engkau yakini, bahwa akal pikiran nabi-nabi, wali-wali, ulama-ulama, amal mereka dan kedudukan mereka, pada sisi Allah Ta'ala itu, tidaklah kurang dari akal pikiran engkau, amal engkau dan kedudukan engkau. Maka perhatikanlah, serta kaburnya mata penglihatan engkau dan rusaknya mata hati engkau, tentang hal-keadaan mereka! Mengapa bersangatan kepada mereka itu ketakutan? Dan berkepanjangan pada mereka itu kegundahan dan tangisan? Sehingga ada sebabagian mereka itu mati pingsan. Sebabagian mereka itu merasa dahsyat. Sebabagian jatuh dalam keadaan tidak menyadarkan diri. Dan sebabagiannya jatuh tersungkur ke bumi dan meninggal. Dan tidak ragu lagi, jikalau ada yang demikian itu tidak membekas pada hati engkau. Sesungguhnya hati orang-orang yang lalai itu seperti batu atau lebih kesat lagi. Dan sebabagian dari batu itu sesungguhnya tatkala memancar dari padanya sungai-sungai. Dan sebabagian daripadanya tatkala pecah retak, lalu keluar daripadanya air. Dan sebabagian daripadanya, tatkala ia turun dari ketakutan kepada Allah. Dan tidaklah Allah itu lalai dari apa yang kamu kerjakan.

 

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”