Print
PDF

PENJELASAN: Obat, yang dengan obat itu, tertariklah akan keadaan takut.

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: Obat, yang dengan obat itu, tertariklah akan keadaan takut.

Ketahuilah kiranya. bahwa apa yang tclah kami sebutkan. ten tang obat sabar dan telah kami uraikan pada Kitah Sahar Dan Syukur. maka itu mell1adailah pada maksud ini. Karena sahar itu tidak mungkin. sclain st'sudah bcrhasil takut dan harap. Karena permulaan tingkat Agama itu: yakin, yang mcnjadi ibarat dari kuatnya iman kepada Allah Ta’ala. dcngan hari akhirat. syurga dan neraka. Dan yakin ini. dengan mudah. mengobarkan ketakutan dari neraka dan harapan kepada syurga.

Harap dan takut itu menguatkan sabar. Maka sesungguhnya syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tiada disukai. Maka tiada tahan pada menanggung yang tidak disukai itu. selain dengan kuatnya harapan. Dan neraka itu dikelilingi dengan nafsu-syahwat. Maka tiada tahan p'lda mencegahkannya. selain dengan kuatnya ketakutan. Dan karena itulah. Ali r.a. berkata:. "Siapa yang rindu kepada syurga, niscaya ia menyimpang dari segala nafsu-syahwat. Siapa yang sayang kepada dirinya dari neraka. niscaya ia kembali (tidak mengerjakan lagi) dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan ".

Kemudian, dilaksanakan tingkat sabar, yang diambil faedahnya dari takut dan harap, kepada tingkat mujahadah dan menjuruskan diri kepada mengingati Allah Ta'ala (berdzikir kepada Allah Ta'ala) dan bertafakkur kepadaNYA terus menerus.

Oh:h karena terus-menerusnya dzikir, maka itu membawa kepada kejinakan hat-i--darrterus-menerusnya berfikir (bertafakkur) kepada kesempurnaan ma'rifah. Dan oleh kesempurnaan ma'rifah dan kejinakan hati itu membawa kepada kecintaan. Dan diikuti oleh tingkat: ridla, tawakkal dan tingkat-tingkat lainnya.

Maka inilah tertib (cara berturutnya) pada menjalani tingkat-tingkat Agama. Dan tiadalah, sesudah pokok yakin itu, tingkat lagi, selain takut dan harap. Dan tiadalah sesudah keduanya itu tingkat lagi, selain: sabar. Dan dengan sabar itu, mujahadah dan menjuruskan hati kepada Allah pada zahir dan batinnya. Dan tiada tingkat lagi sesudah mujahadah, bagi orang yang terbuka baginya jalan, selain hidayah (petunjuk) dan ma'rifah. Dan tiada tingkat sesudah ma'rifah, selain kasih sayang dan kejinakan hatL Dan dari mudahnya kasih sayang itu, datang ridla dengan perbuatan kekasih dan percaya dengan kesungguhan. Dan itulah: tawakkal.

ladi, pada apa yang telah kami sebutkan tentang pengobatan sabar itu, mencukupilah. Akan tetapi kami, akan sendirikan takut itu dengan pembicaraan secara dipersingkat, maka kami mengatakan:-

Takut itu berhasil, dengan dua jalan yang berlainan. Yang pertama lebih tinggi dari yang lain. Contohnya: bahwa anak kecil. apabila ada ia di rumah, lalu masuk kepadanya binatang buas atau ular, maka kadang-kadang ia tidak takut. Dan kadang-kadang, ia memanjangkan tangannya kepada ular, untuk diambilnya dan bermain-main dengan ular itu.

Akan tetapi, apabila ada bersama anak kecil itu bapaknya dan bapaknya itu berpikiran waras, niscaya ia takut kepada ular. Dan lari daripadanya. Maka apabila anak kecil itu melihat kepada ayahnya dan ayahnya itu gementar sendi-sendinya dan berusaha untuk lari dari ular itu, niscaya anak kecil itu bangun berdiri bersama ayahnya. Dan mengeraslah ketakutan atas anak kecil itu dan ia menyesuaikan diri dengan ayahnya pada lari. Maka takutnya ayah itu adalah dari penglihatan dengan pikiran dan mengetahui sifat ular, racunnya, keistimewaannya, kekerasan binatang buas, keperkasaannya dan kurangnya perhatian binatang buas itu kepada mangsanya.

Adapun takutnya anak, maka karena percaya dengan semata-mata ikut-ikutan. Karena ia membaikkan sangka kepada ayahnya. Dan ia tahu, bahwa ayahnya itu tidak takut, selain dari sebab yang menakutkan pada dirinya. Maka tahulah anak kecil itu, bahwa binatang buas itu menakutkan. Dan ia tidak tahu akan segi ketakutan itu.

Apabila anda tahu akan contoh ini, maka ketahuilah, bahwa takut kepada Allah Ta'ala itu atas dua tingkat:-

Pertama: takut kepada azabNYA.

Kedua: takut kepadaNYA.

Adapun takut kepadaNYA, maka yaitu: takut para ulama dan orang-orang yang mempunyai hati, yang mengetahui dari sifat-sifat Allah Ta’ala, akan apa yang menghendaki kehebatan, ketakutan dan kehati-hatian, yang menengok kepada rahasia firman Allah Ta’ala:-

Artinya: "Allah memperingati kamuakan kewajibanmu kepada Allah sendiri". S. Ali 'Imran, ayat 28.

Dan firman Allah 'Azza wa Jalla:-

Artinya: "Bertaqwalah kamu kepada Allah sebenar-benarnya!". S. Ali 'Imran, ayat 102.

Adapun yang pertama, maka itu takutnya umumnya manusia. Dan itu berhasil dengan pokok iman (percaya) akan syurga dan neraka. Dan adanya syurga dan neraka itu balasan atas tha'at dan maksiat. Dan lemahnya itu disebabkan kelalaian dan sebab lemahnya iman. Dan kelalaian itu hilang dengan: peringatan, pengajaran, selalu berfikir tentang huru-hara hari kiamat dan segala macam azab di akhirat. Dan hilang juga kelalaian itu dengan melihat kepada orang-orang yang takut, duduk-duduk bersama mereka dan menyaksikan hal-ihwal mereka. Maka jikalau tidak ada penyaksian itu, maka dengan mendengar saja, tidak juga terlepas dari membekas.

Adapun yang kedua dan itu yang lebih tinggi. Maka adanya Allah itu yang membawa kepada ketakutan, aku maksudkan, ialah: bahwa ditakutkan akan jauh dan terdinding (hijab) dari Allah. Dan mengharap akan kedekatan kepadaNYA.

Dzun-Nun r.a. berkata: "Ketakutan kepada neraka, pada takutnya berpisah itu adalah seperti setetes air yang menetes pada lautan yang gelap gulita".

Inilah takutnya para ulama, dimana

Allah Ta’ala berfirman:-

Artinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNYA, ialah orang-orang yang berilmu (ulama)". S. Fathir, ayat 28.

Dan bagi umumnya orang mu'min juga mempunyai keuntungan dari ketakutan ini. Akan tetapi, itu dengan semata-mata ikut-ikutan (taqlid). yang menyerupai akan takutnya anak kecil kepada ular. karena ikut-ikutan kepada ayahnya. Dan yang demikian itu tidak disandarkan kepada penglihatan dengan mata-hati. Maka sudah pasti. akan lemah dan hilang dalam waktu dekat. Sehingga anak kecil itu, kadang-kadang melihat akan orang yang berazam. tampil mengambil ular itu. Maka ia memandang kepada orang itu dan ia tertipu dengan yang demikian. Lalu ia berani untuk mengambilnya karena ikut-ikutan kepada orang itu. Sebagaimana ia menjaga diri daripada mengambilnya karena ikut-ikutan kepada ayahnya. Akidah-akidah ikut-ikutan (al-'aqaid at-taqlidiyah) itu pada kebiasaannya lemah. kecuali apabila dikuatkan dengan menyaksikan sebab-sebabnya yang menguatkan akidah-akidah itu terus-menerus. Dan membiasakan menurut yang dikehendakinya pada membanyakkan tha'at dan menjauhkan perbuatan maksiat pada masa yang panjang, secara berkekalan. Jadi, siapa yang mendaki ke tingkat ma'rifah dan mengenal akan Allah Ta'ala. niscaya dengan mudah ia takut kepada Allah.

Maka ia tidak memerlukan kepada pengobatan untuk menarik ketakutan. Sebagaimana orang yang mengenal binatang buas dan melihat dirinya terjatuh dalam cengkamannya, niscaya ia tidak memerlukan kepada pengobatan untuk menarik ketakutan kepada hatinya. Akan tetapi, dengan mudah ia takut kepada binatang buas itu dikehendakinya atau tidak. Dan kerana demikianlah, maka Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud a.s.:

"Takutlah kepadaKU. sebagaimana engkau takut kepada hinatang buas yang menerkam".           .

Dan tiada daya pada menarik ketakutan kepada binatang buas yang menerkam, selain mengenal binatang buas itu. Dan mengetahui jatuhnya dalam cengkamannya. Maka tidak memerlukan kepada daya lainnya. Maka siapa yang mengenal Allah Ta’ala, niscaya ia mengenal bahwa Allah Ta’ala itu berbuat sekehendakNYA dan tidak memperdulikan yang lain.  IA menghukum apa yang dikehendakiNYA. Dan IA tidak takut. IA mendekatkan malaikat tanpa wasilah (perantaraan) yang terdahulu. IA menjauhkan Iblis, tanpa dosa yang terdahulu. Akan tetapi. sifatNYA ialah apa yang diterjemahkan oleh firmanNYA Yang Mahatinggi: "Mereka ini dalam syurga dan AKU tidak perdulikan. Dan mereka itu dalam neraka dan AKU tidak perdulikan'.

Jikalau terguris di hati anda bahwa IA tidak menyiksakan  selain di atas  maksiat dan IA tidak memberi pahala. selain di atas tha’at, maka perhati'kanlah, bahwa IA tidak membantu orang yang tha’at dengan sebab-sebab ketha'atannya, sehingga ia tha’at. Orang itu mau atau tidak. Dan IA tidak menolong orang yang maksiat dengan pengajak-pengajak maksiat  sehingga ia berbuat maksiat. Orang itu, mau atau tidak. Maka sesungguhnya, walau pun IA menjadikan kelalaian nafsu-syahwat dan kemampuan atas melaksanakan nafsu-syahwat itu, adalah perbuatan itu terjadi dengan mudah. Maka jikalau IA menjauhkan orang itu, karena orang itu berbuat maksiat kepadaNYA, maka mengapakah IA membawa orang itu kepada perbuatan maksiat? Adakah yang demikian itu, karena maksiat yang terdahulu, sehingga rantai-berantai kepada tiada berkesudahan? Atau IA berhenti  sudah pasti  pada permulaan, yang tiada alasan bagiNYA dari pihak hamba. Akan tetapi, IA men-qadha-kan (mentaqdirkan) atas hamba itu pada azali.

Dari pengertian ini, diibaratkan oleh Nabi s.a.w., karena beliau bersabda:

"Berhujjah (mengemukakan alasan) Adam a.s. dan Musa a.s. di sisi Tuhan-nya. Maka Adam a.s. mengemukakan alasan kepada Musa a.s., lalu Musa a.s. menjawab: "Engkau Adam, yang dijadikan engkau oleh Allah dengan tanganNYA. IA menghembuskan pada engkau dari RuhNYA. IA menyuruh sujud kepada engkau, akan malaikat-malaikatNYA. Dan ditempatkanNYA engkau dalam syurgaNYA. Kemudian, engkau menurunkan manusia dengan kesalahan engkau, ke bumi. Lalu Adam a.s. menjawab:

"Engkau Musa, yang dipilih engkau oleh Allah, dengan risalahNYA (di-jadikanNYA engkau rasulNYA) dan dengan kalamNYA (berkata-kata denganNYA). DiberikanNYA kepada engkau al-alwah (papan-papan tulis), yang padanya penjelasan setiap sesuatu. IA mendekatkan engkau kepadaNYA, dengan kelepasan dari bahaya. Maka dengan berapa lama, engkau mendapati Allah menulis Taurat, sebelum aku dijadikan?". Musa menjawab: "Dengan empat puluh tahun". Adam bertanya: "Adakah engkau dapati dalam Taurat, bahwa Adam berbuat maksiat kepada TuhanNYA, lalu ia durhaka?". Musa menjawab: "Ada!". Lalu Adam bertanya: "Adakah engkau mencacikan aku, atas perbuatan yang aku perbuat, yang telah dituliskan oleh Allah atasku, sebelum aku memperbuatnya dan sebelum aku dijadikanNYA empat puluh tahun?". Nabi s.a.w. bersabda: "Maka Adam berhujjah dengan Musa". (Dirawikan Muslim dari Abu Hurairah. Dan sepakal AI-Bukhari dan Muslim dengan kala-kala yang lain.).

Maka siapa yang mengetahui sebab pada urusan ini, dengan ma'rifah yang timbul dari nur-hidayah, maka itu dari ke-khusus-an orang-orang 'arifin, yang melihat kepada rahsia qadar. Dan siapa yang mendengar ini, lalu meng-imani-nya dan membenarkan dengan semata-mata mendengar, maka orang itu termasuk umumnya orang mu'min. Dan berhasil bagi setiap satu dari dua golongan itu, ketakutan. Sesungguhnya setiap hamba, maka dia itu jatuh dalam genggaman qudrah, sebagai jatuhnya anak kecil yang lemah dalam cengkaman binatang buas. Dan binatang buas itu, kadang-kadang lengah secara kebetulan. Lalu dilepaskannya anak kedl itu. Dan kadang-kadang binatang buas itu menyerbu atas anak kecil itu, lalu diterkamnya. Dan yang demikian itu, adalah menurut yang kebetulan.

Dan bagi kebetulan itu mempunyai sebab-sebab yang teratur dengan taqdir yang telah dimaklumi. Tetapi, apabila dikaitkan kepada orang yang tidak mengetahuinya, maka dinamakan: kebetulan.Dan kalau dikaitkan kepada ILMU ALLAH, maka tidak boleh dinamakan: kebetulan.

Orang yang jatuh dalam cengkaman binatang buas jikalau sempurnalah ma'rifahnya, niscaya ia tidak takut kepada binatang buas itu. Karena binatang buas tersebut telah diciptakan demikian. Jikalau ia lapar niscaya ia menerkam. Dan jikalau dirinya dikuasai oleh kelalaian  niscaya ia biarkan dan tinggalkan.

Sesungguhnya yang ditakuti, ialah PENCIPTA binatang buas itu dan PENCIPTA sifat-sifatnya. Dan aku tidak mengatakan bahwa contoh takut kepada Allah Ta'ala itu seperti takut kepada binatang buas. Akan tetapi apabila terbukalah tutup, niscaya diketahui bahwa takut kepada binatang buas itu adalah takut itu juga kepada Allah Ta'ala. Karena yang membinasakan dengan perantaraan binatang buas itu, adalah Allah.

Maka ketahuilah, bahwa binatang-binatang buas akhirat itu seperti binatang-binatang buas dunia. Dan Allah Ta'ala yang menciptakan sebab-sebab azab dan sebab-sebab pahala. Dan IA menciptakan bagi setiap suatu itu ada yang punya, yang didorong oleh taqdir yang bercabang dari qadha akan kepastian azali, kepada apa ia diciptakan. IA menciptakan syurga dan diciptakanNYA untuk syurga itu, penduduknya (isinya), dimana mereka itu diciptakan untuk memperoleh sebab-sebab masuk ke syurga. Mereka berkehendak yang demikian atau tidak. Dan IA menciptakan neraka dan diciptakanNYA untuk neraka itu, penduduknya (isinya). di mana mereka itu diciptakan untuk memperoleh sebab-sebab masuk ke neraka. Mereka berkehendak yang demikian atau tidak. Maka tiada seorang pun melihat dirinya dalam pukulan ombak-ombak taqdir itu, selain ia - dengan sendirinya - dikerasi oleh ketakutan.

Maka inilah takutnya orang-orang yang berma'rifah akan rahsia QADAR. Maka siapa yang lalai dari meningkat ke tingkat melihat dengan mata hati, maka jalannya ialah, bahwa ia mengobati dirinya dengan mendengar hadits-hadits dan atsar-atsar. Lalu ia membaca hal-ihwal orang-orang yang takut, yang berma'rifah dan ucapan-ucapan mereka. Dan ia menyamakan akal pikiran dan kedudukannya, dengan kedudukan orang-orang yang mengharap, yang terpedaya. Maka  ia tidak ragu, tentang mengikuti mereka itu adalah lebih utama. Karena mereka itu adalah nabi-nabi, wali-wali dan ulama-ulama.

Adapun orang-orang yang merasa aman, maka mereka itu ialah fir'aun-fir'aun, orang-orang bodoh dan orang-orang dungu.

Dan Rasul kita Muhammad s.a.w., adalah penghulu orang-orang yang dahulu dan orang-orang yang kemudian. (Dirawikan Muslim dari Abu Hurairah.). Dan ia adalah manusia yang paling takut kepada Allah. (Ada duapuluh lima hadits, selain dari ini, di mana Nabi s,a,w, mengatakan, bahwa “aku yang paling takut kepada Allah”). Sehingga, diriwayatkan, bahwa beliau menyembahyangkan kepada jenazah anak kecil. (Dirawikan Ath-Thabrani dari Anas).

Pada suatu riwayat, terdengar dalam do'anya Nabi s.a.w., beliau meng-ucapkan:-

 

Artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Peliharalah dia dari azab kubur dan azab neraka!".

Pada riwayat yang kedua, bahwa Nabi s.a.w. mendengar orang yang mengatakan: "Selamat, bagi engkau seekor dari burung pipit syurga!".

Lalu Nabi s.a.w. marah dan bersabda:-

 

Artinya: "Apakah yang menerangkan kepadamu, bahwa anak itu demikian'! Demi Allah! Sesungguhnya aku utasan Allah dan aku tidak tahu, apa yang diperbuat kepadaku. Sesungguhnya Allah menciptakan syurga. Dan diciptakanNYA bagi syurga itu penduduknya (isinya). Mereka itu tidak ditambahkan dan tidak dikurangi". (Dirawikan Muslim dari 'Aisyah r.a.).

Diriwayatkan, bahwa Nabi s.a.w. mengucapkan pula yang demikian, kepada janazah Utsman bin Madh-'un. Dan Utsman ini tennasuk dari orang-orang muhajirin yang pertama. Tatkala Umma Salmah mengatakan: "Selamat, bagi engkau syurga!". Dan sesudah itu, Umma Salmah mengatakan:

"Demi Allah! Aku tidak mengatakan bersih (dari dosa) seorang pun sesudah Utsman". (Dlrawikan AI-Bukhari dari Ummul-'Ala' AI-Anshariyah.).

Muhammad bin Khaulah AI-Hanafiyah berkata: "Demi Allah!" Tiada seorang pun aku mengatakan bersih (dari dosa) selain Rasulullah s.a.w. Dan tidak juga ayahku yang memperanakkan aku".

Muhammad bin Khaulah AI-Hanafiyah mengatakan, bahwa tatkala telah berkembang aliran Syi'ah, lalu ia turut menyebutkan keutamaan-keutamaan Ali dan sifat-sifat kepujiannya (manaqib-nya).

Diriwayatkan pada hadits yang lain, dari seorang laki-Iaki, dari penghuni Ash-Shaffah (Ash-Shaffah,yaitu tempat Nabi s,a,w, menerima tamu dekat rumahnya, Dan sekarang tak berapa langkah dari maqam Nabi s.a.w"), yang telah meninggal dunia sebagai orang shahid. Lalu ibunya mengatakan: "Selamat. bagi engkau seekor burung pipit syurga. Engkau berhijrah kepada Rasulullah s.a. w. Dan engkau terbunuh pada sabitullah" .

Lalu Nabi s.a.w. bersabda:-

Artinya: "Apakah yang memberitahukan kepada engkau yang demikian'! Mungkin ia mengatakan apa yang tidak bermanfaat baginya. Dan ia mencegah apa yang tidak mendatangkan melarat kepadanya", (Dirawikan Ahu Yu'la dari Anas, sanad dha'if).

Tersebut pada hadits yang lain, bahwa Nabi s.a.w, masuk ke tempat se-bahagian shahabatnya. Dan shahabatnya itu sedang sakit. Lalu beliau mendengar seorang wanita mengatakan: "Selamat bagimu syurga!", Maka Nabi s.a.w. bertanya: "Siapakah yang bersumpah ini kepada Allah Ta'ala?".

Orang sakit itu menjawab: "Ibuku, wahai Rasulullah''',

Nabi s.a.w. lalu bersabda:-

Artinya: "Apakah yang memberitahukan yang demikian, akan engkau, hai ibu? Mungkin si Anu ini. berkata-kata dengan apa yang tidak penting baginya. Dan kikir dengan apa, yang ia perlukan kepadanya". (Dirawikan Abu Yu'la dari An,.s. ,kncan sanad dha’if ). Bagaimana kaum mu'min itu semua tidak takut, pada hal Nabi s.a,w. bersabda:-

Artinya: "Aku dibuat beruban oleh "Surat Hud" dan teman-temannya: "Surat AI-Waqi'ah". "Surat Idzasy-Syansu kuwwirat" dan "Surat 'Amma Yatasaa-aluun". (Dirawikan Al-Tirmidzi dan AI-Hakim' dari Ibnu Abbas dan dipandangnya  shahih).

Para ulama mengatakan, bahwa mungkin yang demikian, karena yang ler-dapat pada Surat Hud, dari hal "menjauhkan", seperti firmanNYA:-

 

Artinya: "lngatlah, jauh (binasalah) 'Ad, kaum Hud itu!". S. Hud. ayat 6O.

FirmanNYA:-

 

Artinya: "Ingatlah, jauhlah Tsamud itu!". S. Hud. ayat 68.

FirmanNYA:-

 

Artinya: "lngatlah, binasalah Mad-yan, sebagaimana Tsanud lelah binasa". S. Hud, ayat 95.

Serta diketahui oleh Nabi s.a.w., bahwa jikalau dikehendaki oleh Allah, niscaya mereka itu tidak menjadi musyrik. Karena, jikalau dikehendakiNYA, niscaya didatangkanNYA kepada setiap jiwa, akan petunjuk.

Dan pada surat AI- Waqi'ah:-

                 

Artinya: "Tiada seorang pun yang dapat mendustakan terjadinya. (Sebahagian) direndahkannya, (dan sebahagian) ditinggikannya". S. AI-Waqi'ah, ayat 2 - 3,

Artinya: "Keringlah pena dengan apa yang ada. Dan sempurnalah yang terdahulu. Sehingga turunlah yang kejadian. Adakalanya, direndahkan suatu golongan, yang mereka itu tinggi di dunia. Dan adakalanya, ditinggikan suatu golongan, yang mereka itu rendah di dunia".

Pada Surat At-Takwir (Wa idzasy-syamsu kuwwirat), disebutkan huruhara hari kiamat dan terbukanya al-khatimah (kesudahan setiap insan).

Yaitu firman Allah Ta'ala:-

 

Artinya: "Dan ketika api neraka dinyalakan. Dan ketika taman (Syurga) didekatkan. (Ketika itu) setiap diri mengetahui, apa yang disediakannya". S. At-Takwir, ayat 12 - 13 - 14.

Pada surat 'Amma Yatasaa-alun:-

                 

Artinya: "Di hari manusia akan melihat apa yang telah dikirimkan terlebih dahulu oleh kedua tangannya dan orang-orang yang tiada beriman, akan mengatakan: "Wahai nasib malangku! Kiranya aku menjadi tanah hendaknya!". S. An-Naba', ayat 40.

Dan firmanNYA:-

                                 

Artinya: "Tiada seorang pun yang berbicara, selain dari siapa yang diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah dan mengatakan apa yang sebenarnya". S. An-Naba', ayat 38.

AI-Qur-an itu, dari permulaannya, sampai kepada penghabisannya, adalah tempat-tempat yang mendatangkan takut, bagi orang yang membaca dengan pemahaman. Dan jikalau tak ada dalam Al-Quran, selain firmanNYA:-

 

Artinya: "Dan sesungguhnya AKU Maha Pengampun kepada siapa yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shalih, kemudian dia itu mengikuti jalan yang benar". S. Thaha, ayat 82--, niscaya adalah memadai. Karena IA menggantungkan ampunan kepada empat syarat, yang lemahlah hambaNYA dari masing-masing syarat itu. Dan yang paling keras daripadanya, ialah firmanNYA:-

 

Artinya: "Adapun orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shalih. maka ia diharapkan akan berada dari orang-orang yang beruntung". S. AI-Qashash. ayat 67.

Dan firmanNYA:-

 

Artinya: "Karena Allah hendak menanyakan kepada orang-orang yang benar. tentang kebenaran mereka". S. AI-Ahzab. ayat 8.

Dan firmanNYA:-

 

Artinya: "KAMI akan bertindak terhadap kamu, hai kedua penduduk dunia (jin dan manusia)!". S. Ar-Rahman, ayat 31.

Dan firmanNYA:-

 

Artinya: "Apakah mereka merasa aman dari rencana Allah? Tak ada yang merasa aman dari rencana Allah. selain kaum yang merugi". S. Al 'Araf. ayat 99.

Dan firmanNYA:-

 

Artinya: "Dan begitulah Tuhan engkau menghukum negeri-negeri yang penduduknya melakukan kesalahan. Sesungguhnya hukuman Tuhan itu pedih dan keras". S. Hud. ayat 102.

Dan firmanNYA:-

 

Artinya: "Di hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang memelihara dirinya (bertaqwa) - dari kejahatan - sebagai menyambut perutusan. Dan Kami halau orang-orang yang bersalah itu ke dalam neraka secara kasar". S. Maryam. ayat 85 - 86.

Dan firmanNYA:-

 

Artinya: "Dan tiada seorang pun di antara kamu yang tiada masuk ke dalamnya itulah keputusan Tuhan engkau yang tak dapat dihindarkan ". S, Maryam. ayat 71.

Dan firmanNYA:-

 

Artiny: "Buatlah apa yang kamu suka, sesungguhnya Tuhan itu tahu betul apa yang kamu kerjakan". S.Fush-shilat. ayat 40.

Dan firmanNYA:-

                 

Artinya: "Siapa yang ingin kepada keuntungan hari akhirat, akan Kami berikan tambahan kepada keuntungannya. Dan siapa yang ingin kepada keuntungan di dunia ini, akan Kami berikan keuntungan itu kepadanya, tetapi dia tiada mempunyai bagian lagi pada hari kemudian". S. Asy-Syura. ayat 20.

Dan firmanNYA:-

Artinya: "Siapa yang mengerjakan perbuatan baik seberat atom akan di-lihatnya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat atom akan di-lihatnya". S. Az-Zilzal. ayat 7 - 8.

Dan firmanNYA:-

Artinya: "Dan Kami (datang) dengan sengaja kepada pekerjaan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan debu yang berterbangan". S. Al-Furqan, ayat 23.

Dan demikian juga firmanNYA:-

               

Artinya: "Demi (perhatian) waktu! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Selain dari orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan mewasiatkan (memesankan) satu sama lain, dengan kebenaran dan mewasiatkan satu sama lain, supaya berhati teguh (sabar)". S. Al-'Ashr, ayat I - 2 - 3.

Maka inilah empat syarat bagi kelepasan dari kerugian!

Sesungguhnya, adalah takutnya para nabi itu, bersama dengan nikmat-nikmat yang melimpah-ruah kepada mereka, adalah dikarenakan mereka itu tidak merasa aman dari rencana Allah Ta'ala. Dan tiada yang merasa aman dari rencana Allah itu, selain orang-orang (kaum) yang merugi. Sehingga diriwayatkan, bahwa Nabi s.a.w. dan Jibril a.s. menangis, karena takut kepada Allah Ta•ala. Maka Allah menurunkan wahyu kepada keduanya: "Mengapakah kamu menangis dan kamu berdua sudah AKU amankan?".

Keduanya lalu menjawab: "Siapakah yang merasa aman dari rencana Eng-kau?"

Keduanya, karena mengetahui, bahwa Allah itu Mahatahu akan segala yang ghaib dan keduanya tidak mengetahui akan kesudahan segala urusan, lalu tidak merasa aman. Dan adalah firmanNYA: "Kamu berdua sudah AKU amankan" itu, seakan-akan percobaan, ujian dan rencana Allah bagi keduanya. Sehingga, jikalau tenanglah ketakutan keduanya, niscaya nampaklah bahwa keduanya telah merasa aman dari rencana Allah dan apa yang dipenuhinya dengan perkataannya.

Sebagaimana nabi Ibrahim a.s. tatkala diletakkan dalam merillm (al-manjaniq). Beliau mengucapkan:-

 

Artinya: "Cukuplah Allah bagiku"

Dan adalah ucapan itu termasuk do'a yang besar. Maka nabi Ibrahim a.s. itu dicoba dan dilawankan dengan Jibril a.s. di udara (sesudah al-man-janiq itu dilepaskan ke udara).

Jibril a.s. bertanya: "Adakah hajat keperluan bagi engkau?". Nabi Ibrahim a.s. menjawab: "Adapun kepada engkau, tidak!".

Maka adalah jawaban itu memenuhi akan hakikat ucapannya: "Cukuplah Allah bagiku".

Allah Ta'ala menerangkan yang demikian itu. dengan firmanNYA:

 

Artinya: 'Dan Ibrahim yang memehuhi (kewajibannya)". S. An-Najm. ayat 37.

Artinya: dengan yang diharuskan oleh ucapannya: "Has-bi-yallah" itu. Dan yang seperti ini, dikhabarkan oleh Allah Ta'ala dari hal nabi Musa a.s. dengan firmanNYA:-

 

Artinya: "Keduanya (nabi Musa a.s. dan nabi Harun a.s.) memohon:

"Wahai Tuhan kami! Kami kuatir, bahwa dia (Fir'un) terlebih dahulu bersedia menentang kami atau dia melakukan kekejaman di luar batas". DIA (Tuhan) berfirman: "Janganlah kamu takut, sesungguhnya AKU bersama kamu berdua. AKU mendengar dan AKU melihat". S. Tha Ha, ayat 45 - 46.

Dan bersama ini, tatkala tukang-tukang sihir itu melemparkan sihirnya. lalu timbul ketakutan pad a diri nabi Musa a.s. Karena ia tidak merasa aman dari rencana Allah. Dan meragukan urusan kepadanya. Sehingga Allah membaharukan akan keamanan kepadanya. Dan dikatakan:-

 

Artinya: "Jangan takut, sesungguhnya engkau lebih tinggi!" S. Tha Ha. ayat 68.

Tatkala lemah kekuatan kaum muslimin pada hari perang Badar, lalu

Nabi s.a.w.berdo'a:-

 

Artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Jikalau binasalah pasukan ini, niscaya tidak tinggal seorang pun di permukaan bumi yang menyembah ENGKAU".

Lalu Abu bakar r.a. berkata: "Biarlah akan pertolongan Tuhan engkau kepada engkau! Sesungguhnya Tuhan itu memenuhi bagi engkau, dengan apa yang dijanjikanNYA". (Dirawikan AI-Bukhari dari Ibnu Abbas).

Maka adalah tempat tegaknya Abubakar Ash-Shiddiq itu tempat tegak kepercayaan, dengan janji Allah. Dan itu lebih sempuma. Karena tidak timbul, selain dari kesempumaan ma'rifah dengan rahasia-rahasia Allah Ta'ala dan kesembunyian af'alNYA dan arti sifat-sifatNYA yang diibaratkan dari sebahagian apa, yang timbul daripadanya rencana itu. Dan tiada seorang pun manusia yang mengetahui hakikat sifat-sifat Allah Ta'ala. Dan orang yang mengetahui akan hakikat ma'rifah dan singkat ma'rifahnya daripada meliputi hakikat segala urusan, niscaya - sudah pasti - sangat ketakutannya. Dan karena itulah, nabi Isa AI-Masih menjawab, tatkala ditanyakan kepadanya:-

Artinya: "Dan ketika Allah berfirman: Hai Isa Anak Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada manusia: "Ambillah aku dan ibuku menjadi dua tuhan, selain dari Allah? '!sa mengatakan: '"Maha Suci ENGKAU! Tiada sepatutnya aku mengatakan, apa yang bukan hakku (menyebutkan). Kalau kiranya aku mengatakan itu. tentulah ENGKAU mengetahuinya:

ENGKAU mengetahui apa yang dalam pikiranku dan aku tidak mengetahui apa yang dalam ilmu ENGKAU", S AI-Maidah, ayat 116,

Dan Allah berfirman:-

Artinya: "Kalau mereka ENGKAU siksa, maka mereka itu hamba-hamba ENGKAU dan kalau mereka ENGKAU ampuni, sesungguhnya ENGKAU Maha Kuasa dan Bijaksana". S. AI-Maidah, ayat 118.

Nabi Isa a.s. menyerahkan urusan itu kepada kehendakNYA. Dan mengeluarkan dirinya secara keseluruhan, dari kejelasan. Karena ia tahu, tiada suatu urusan pun baginya. Dan semua urusan itu terikat dengan kehendak Allah, dengan ikatan, yang keluar dari batas yang dapat diketahui dengan akal dan kebiasaan. Maka tidak mungkin diambil keputusannya dengan qias, tebakan dan kiraan. Lebih-Iebih lagi, dengan pentahkikan dan keyakinan.

Inilah yang meyakinkan hati orang-orang arifin, Karena bahaya besar, ialah: terikatnya urusan engkau, dengan kehendak orang yang tiada perduli kepada engkau, jikalau membinasakan engkau. Maka sesungguhnya telah membinasakan orang-orang yang seperti engkau, yang tidak terhinggakan. Dan senantiasalah lA, di dunia menyiksakan mereka dengan berbagai macam kepedihan dan penyakit. Dan bersama dengan yang demikian, IA mendatangkan penyakit kepada hati mereka, dengan kekufuran dan kemunafikan. Kemudian, IA mengekalkan siksaan atas mereka selama-Iamanya. Kemudian, IA mengkabarkan dari yang demikian dengan firman-

               

Artinya: "Dan kalau KAMI kehendaki, niscaya KAMI berikan petunjuk kepada setiap diri. Akan tetapi, perkataan daripadaKU sebenarnya akan terjadi: sesungguhnya AKU akan memenuhkan neraka jahannam dengan jin dan manusia semuanya". S. As-Sajadah, ayat 13.

Dan firmanNYA:-

               

Artinya: "Perkataan Tuhan engkau sudah tetap: Bahwa AKU akan memenuhkan neraka jahannam dengan jin dan manusia bersama-sama". S. Hud, ayat 119.

Maka bagaimana tidak ditakuti akan perkataan yang benar pada azali? Dan tidak dapat diharapkan dapat mengetahuinya. Dan jikalau urusan itu baru tadi, niscaya adalah harapan-harapan dapat membantu berdaya-upaya kepadanya. Akan tetapi, tak ada, selain menyerah saja. Dan penyelidikan yang tersembunyi bagi yang lalu itu, termasuk sebab-sebab zahiriyah yang terang kepada hati dan anggota badan. Maka siapa yang mudah baginya sebab-sebab kejahatan dan terdinding di antaranya dan  sebab-sebab kebajikan dan kokoh hubungannya dengan dunia, maka seakan-akan - di atas ketahkikannya - telah terbuka baginya, rahasia barang yang lalu, yang telah terdahulu baginya dengan ke-tidak-beruntung-an. Karena masing-masing manusia itu dipermudahkan, untuk apa ia diciptakan. Dan jikalau setiap kebajikan itu dipermudahkan dan hati secara keseluruhan terputus dari dunia dan zahir batinnya menghadap kepada Allah, niscaya adalah ini menghendaki keringanan takut. Jikalau adalah terus-terusan di atas yang demikian itu dapat dipercayakan. Akan tetapi, bahaya al-khatimah dan sukar tetapnya hal itu, menambahkan berkobarnya nyala api ketakutan. Dan tidak mungkin dipadamkan. Bagaimana dirasakan aman perobahan keadaan, sedang hati orang yang beriman itu di antara dua anak jari, dari anak-anak jari Tuhan Yang Maha Pemurah? Dan hati itu lebih keras berbalik-baliknya, dibandingkan dengan kuali dalam gelagaknya. Dan telah berfirman YANG MEMBALIK-BALIK-KAN hati, Yang Maha mulia dan Maha agung:-

Artinya: "Sesungguhnya terhadap siksaan Tuhan itu, tiada seorang pun patut merasa aman". S. AI-Ma'arij, ayat 28.

Maka manusia yang paling bodoh, ialah orang yang merasa aman daripadanya. Dan dia sendiri menyerukan supaya berhati-hati dari amannya itu. Jikalau tidaklah Allah Ta'ala kasih-sayang kepada hamba-hambaNYA yang berma'rifah, karena disemangatkanNYA hati mereka, dengan semangat harap, niscaya terbakarlah hati mereka dengan api ketakutan. Maka sebab-sebabnya harap itu adalah rahmat, bagi orang-orang yang telah dikhususkan oleh Allah. Dan sebab-sebab kelalaian itu adalah rahmat kepada makhluk (manusia) yang awam, dari suatu segi. Karena jikalau terbukalah tutup, niscaya binasalah diri dan terpotong-potonglah hati dari ketakutan kepada YANG MEMBALIK-BALIKKAN hati. Setengah 'arifin berkata: "Jikalau terdinding oleh suatu tiang, di antara aku dan orang yang telah aku kenal bertauhid selama limapuluh tahun, lalu orang itu mati, niscaya tidak aku yakin dengan tauhidnya. Karena aku tidak tahu apa yang lahir baginya, dari kebulak-balikan hati".

Setengah mereka mengatakan: "Jikalau mati syahid itu di pintu rumah dan mati dalam Islam itu pada pintu kamar, niscaya aku pilih mati dalam Islam. Karena aku tidak tahu, apa yang datang bagi hatiku, di antara pintu kamar dan pintu rumah".

Abud-Darda' bersumpah dengan nama Allah, bahwa seseorang yang merasa aman kepada imannya, dari dicabut ketika mati, niscaya dicabut. Dan Sahl berkata: "Takutnya orang-orang shiddiq dari buruk kesudahan (su-ulkhatimah) itu pada setiap langkah dan pada setiap gerak. Dan mereka itu ialah orang-orang yang disifatkan oleh Allah Ta'ala dengan firmanNYA:-

Artinya: "Dan hati mereka itu takut". S. AI-Mu'minun, ayat 60. Tatkala Sufyan Ats- Tsauri hampir meninggal, beliau menangis dan gundah. Lalu dikatakan kepadanya: "Hai Abu Abdillah, engkau hams harap! Se-sungguhnya kema'afan Allah itu lebih besar dari dosa engkau".

Maka beliau menjawab: "Adakah atas kedosaanku aku menangis? Tikalau aku tahu, bahwa aku akan mati di atas tauhid, niscaya aku tidak perduli, bahwa aku bertemu dengan Allah, dengan kesalahan seperti gunung". Diceriterakan dari setengah orang-orang yang takut kepada Allah, bahwa ia mewasiatkan kepada sebahagian saudaranya, sebagai berikut: "Apabila aku akan meninggal, maka dud ukiah di sisi kepalaku! Kalau engkau me-lihat aku mati di atas tauhid, maka ambillah semua milikku! Dan belilah dengan hartaku itu buah lauz (semacam buah-buahan) dan gula! Dan bagibagikanlah kepada anak-anak dari penduduk negeri ini! Dan katakanlah:

"Ini pesta perkawinan orang yang terlepas dari bahaya". Dan kalau aku mati tidak di atas tauhid, maka beri-tahukanlah kepada manusia dengan yang demikian! Sehingga mereka itu tidak tertipu dengan menghadiri janazahku. Supaya hadir pad a janazahku, orang yang menyukainya dengan mengetahui betul. Supaya tidak melekat padaku ria, sesudah meninggal. Temannya lala bertanya: "Dengan apa aku tahu yang demikian?". Orang itu lalu menyebutkan tandanya.

Maka temannya itu melihat tanda tauhid, ketika matinya. Lalu ternan itu membeli gula dan buah lauz. Dan dibagi-bagikannya.

Sahl berkata: "Murid (orang yang menghendaki jalan Allah) itu takut, bahwa mendapat percobaan dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Dan orang 'arif (yang berilmu ma'rifah) itu takut, bahwa dicoba dengan ke-kufuran".

Abu Yazid berkata: "Apabila aku menuju ke masjid, seolah-olah pada pinggangku ikat pinggang. Aku takut,. dibawanya aku ke gereja dan rumah api (tempat ibadah orang Majusi). Sampai aku masuk ke masjid, maka terputuslah daripadaku ikat pinggang itu. Maka ini bagiku, pada setiap hati lima kali".

Diriwayatkan dari Isa AI-Masih a.s., bahwa ia berkata: "Hai jama'ah sahabatku! Kamu takut akan perbuatan-perbuatan maksiat. Dan kami para nabi takut akan kekufuran".

Diriwayatkan pada berita nabi-nabi, bahwa seorang nabi mengadukan kepada Allah Ta'ala, akan lapar, kudis dan tidak berpakaian bertahun-tahun. Dan adalah pakaiannya bulu domba. Maka Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepadanya: "Hai hambaKU! Apakah engkau tidak senang AKU pelihara hati engkau, daripada engkau kufur kepadaKU, sehingga engkau meminta pada KU dunia?".

Nabi itu lalu mengambil tanah. Dan diletakkannya di atas kepalanya. Dan dia berkata: "Ya, aku senang wahai Tuhanku! Maka peliharakanlah aku dari kekufuran!".

Apabila adalah ketakutan orang-orang 'arifin itu, serta teguhnya tapak kaki mereka dan kuatnya iman mereka, kepada buruknya kesudahan (suul-khatimah), maka bagaimana pula tidak ditakuti oleh orang-orang yang lemah imannya?

Bagi su-ul-khatimah itu mempunyai sebab-sebab yang mendahului dari kematian. Seperti: perbuatan bid'ah. nifaq, takbur dan sejumlah sifat-sifat yang tercela. Dan karena itulah, para shahabat sangat takut kepada nifaq (kemunafikan). Sehingga AI-Hasan AI-Bashari berkata: "Jikalau aku tahu. bahwa aku terlepas dari nifaq. niscaya itu lebih aku suka. danpaoa terbitnya matahari".

Dan tidaklah mereka maksudkan dengan nifaq itu. lawan dari pokok iman. Akan tetapi. yang dimaksudkan, ialah: apa yang berkumpul serta pokok iman itu. Lalu orang itu menjadi muslim, yang munafiq. Tanda-tanda nifaq itu banyak. Nabi s.a.w. bersabda:-

 

Artinya: "Empat perkara, siapa yang ada padanya empat perkara itu. maka dia munafiq betul, walau pun ia mengerjakan shalat, berpuasa dan mendakwakan dirinya muslim. Dan kalau ada padanya satu perkara dari yang empat itu, maka pada dirinya suatu cabang dari nifaq. Sehingga di• tinggalkannya yang satu perkara tersebut. Empat perkara itu. yaitu: siapa. yang bila berbicara, ia berdusta, apabila berjanji, menyalahi ianji, apabila diserahkan suatu amanah, lalu berkhianat dan apabila bermusuhan, lalu berbuat kezaliman". Dan pada kata yang lain: "apabila membuat perjanjian, lalu meninggalkannya": (Dirawikan AI-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin 'Amr).

Para shahabat dan tabi'in menafsirkan nifaq, dengan beberapa tafsir. yang tidak terlepas sedikit pun dari nifaq itu. selain dari orang shiddiq. Karena AI-Hasan AI-Bashari rahmatullah.a. berkata: "Sesungguhnya termasuk nifaq, ialah berlainan antara rahsia dan yang terang, berlainan antara Iisan dan hati dan berlainan antara yang masuk dan yang keluar’'. Siapakah yang terlepas dari pengertian-pengertian ini? Bahkan, segala hal tersebut, menjadi kesukaan yang biasa di antara manusia. Dan manusia itu lupa, bahwa secara keseluruhan itu adalah hal munkar. Bahkan, telah berlaku yang demikian, pada masa yang dekat dengan masa kenabian Muhammad s.a.w. Maka bagaimana sangkaan dengan masa kita sekarang? Sehingga Hudzaifah r.a. berkata: "Ada orang yang mengatakan dengan kalimat tertentu pada masa Rasulullah s.a.w. lalu ia menjadi munafik. Dan sekarang aku mendengarnya dari seseorang kamu dalam sehari sepuluh kali". (DIrawitan Ahmad dari Hudzaifah ).

Adalah para shahabat Rasulullah s.a.w. berkata: "Sesungguhnya kamu berbuat perbuatan-perbuatan yang lebih halus pada mata kamu dari sehelai rambut. Kami menghitungkannya pada masa Rasulullah s.a.w. termasuk dosa besar". (Dirawikan Al-Bukhari dari Anas, Ahmad dan AI-Bazzar dari Abi Sa'id.).

Sebahagian mereka mengatakan: "Tiada munafik. bahwa engkau tidak suka dari orang lain, akan perbuatan yang engkau kerjakan seperti perbuatan itu. Bahwa engkau sukai sesuatu dari kezaliman. Dan engkau marah kepada sesuatu dari kebenaran".

Ada yang mengatakan: termasuk nifaq. bahwa apabila dipujikan sesuatu yang tak ada padanya apa-apa, lalu mena'jubkannya yang demikian. Seorang laki-Iaki berkata kepada Ibnu Umar r.a.: "Bahwa kami masuk ke tempat amir-amir itu. Lalu kami benarkan mereka pada apa yang dikatakannya. Maka apabila kami keluar, niscaya kami perkatakan tentang mereka" .

Ibnu 'Umar r.a. lalu menjawab: "Kami menghitungkan itu nifaq pada masa Rasulullah s.a.w . (Ahmad dan Ath-Thabrani).

Diriwayatkan, bahwa Ibnu 'Umar r.a. mendengar seorang laki-Iaki mencaci AI-Hajjaj dan menuduhnya. Lalu Ibnu Umar r.a. berkata: "Jikalau Al-Hajjaj itu hadir di sini apakah kamu mengatakan, dengan apa yang telah kamu perkatakan itu?".

Orang itu menjawab: "Tidak!".

Maka Ibnu Umar berkata: "Kami menghitung ini suatu nifaq pada masa Rasulullan s.a.w. (Hadits ini telah disebutkan dulu pada "Kitab ‘Aqidah". Tetapi menurut AI-Iraqi. beliau tidak menjumpai padanya nama AI-Hajjaj).

Yang lebih berat dari itu, apa yang diriwayatkan, bahwa: suatu jama'ah duduk di pintu Hudzaifah, yang menunggu kedatangannya. Mereka itu memperkatakan tentang sesuatu dari keadaannya. Tatkala Hudzaifah telah keluar menemui mereka. maka mereka itu diam, karena malu daripadanya.

Hudzaifah lalu mengatakan: "Berbicaralah mengenai yang telah kamu katakan itu!".

Mereka itu diam. Lalu Hudzaifah berkata: "Kami menghitung ini perbuatan nifaq pada masa Rasulullah s.a.w .

Inilah Hudzaifah, yang telah dikhususkan dengan mengetahui orang-orang munafik dan sebab-sebab kemunafikan. Ia mengatakan: "Akan datang kepada hati, suatu sa'at, yang penuh dengan iman. Sehingga tidak ada bagi nifaq tempat tusukan jarum penjahit pada hati itu. Dan akan datang kepada hati, suatu sa'at yang penuh dengan nifaq. Sehingga tidak ada pada hati itu tempat tususkan jarum penjahit".

Sesungguhnya anda telah mengetahui dengan ini, bahwa takutnya orang-orang 'arifin itu dari buruknya kesudahan (su-ul-khatimah). Dan sebabnya takut itu adalah hal-hal yang mendahuluinya. Di antaranya: perbuatan-perbuatan bid'ah. Di antaranya: perbuatan-perbuatan maksiat. Dan di antaranya: nifaq. Dan kapankah hamba itu terlepas dari sesuatu dari jumlah yang demikian? Kalau ada orang yang menyangka, bahwa dia terlepas dari yang demikian, maka itu adalah nifaq. Karena dikatakan: siapa yang merasa aman dari nifaq, maka dia itu orang munafik.

Sebahagian mereka mengatakan kepada sebahagian orang-orang arifin:

"Aku takut kepada diriku akan nifaq". Lalu beliau menyambung: "Jikalau aku munafiq, niscaya aku tidak takut kepada kemunafikan".

Maka senantiasalah orang arifin (yang berilmu ma'rifah) di antara menoleh kepada yang lalu dan yang kesudahan itu, dalam ketakutan. Dan karena itulah, Nabi s.a. w. bersabda:-

 

Artinya: "Hamba yang beriman itu di antara dua ketakutan: antara waktu yang telah lalu, yang tidak diketahuinya: apa yang diperbuat oleh Allah padanya. Dan di antara waktu yang masih ada, yang tidak diketahuinya: apa yang dikehendaki (ditetapkan) oleh Allah padanya. Maka demi Allah, yang jiwaku di TanganNYA! Tidaklah sesudah mati itu tempat kepayahan dan tidak adalah kampung sesudah dunia itu, selain syurga atau neraka': (Dirawikan AI-Baihaqi dari riwayat AI-Hasan, dari seorang sahabat Nabi s.a.w. dan telah disebutkan dahulu pada "Tercelanya Dunia"). Pada Allah tempat memohonkan pertolongan!

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”