DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: bahwa yang lebih utama, ialah: kerasnya ketakutan atau kerasnya harapan atau keduanya sedang

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: bahwa yang lebih utama, ialah: kerasnya ketakutan atau kerasnya harapan atau keduanya sedang.

Ketahuilah kiranya, bahwa hadits-hadits tentang kelebihan takut dan harap itu sungguh banyak. Kadang-kadang yang memperhatikan, memandang kepada keduanya. lalu diliputi oleh keraguan, tentang yang mana yang lebih utama daripada keduanya. Kata yang mengatakan, takutkah yang lebih utama atau harap, itu pertanyaan yang tidak betul. Menyerupai dengan kata yang mengatakan: Rotikah yang lebih utama atau air. Jawabnya, bahwa dikatakan: Roti lebih utama bagi orang yang lapar. Dan air lebih utama bagi orang yang haus. Kalau keduanya berkumpul, niscaya dilihat kepada yang lebih keras. Maka jikalau lapar yang lebih keras, maka roti yang lebih utama. Dan jikalau haus yang lebih keras, maka air yang lebih utama. Dan kalau keduanya sarna, maka keduanya pun sarna. Dan ini, karena setiap apa yang dimaksudkan bagi sesuatu maksud, maka kelebihannya itu jelas, dengan dikaitkan kepada maksudnya. Tidak kepada dirinya.

Takut dan harap itu dua macam obat, yang dengan kedua-nya itu, diobati hati. Maka kelebihan keduanya itu menurut penyakit yang ada. Jikalau yang keras atas hati itu penyakit aman dari siksaan Allah Ta'ala dan tertipu diri, maka takutlah yang lebih utama. Dan jikalau yang lebih keras, ialah putus asa dan hilang harapan dari rahmat Allah, maka haraplah yang lebih utama. Dan seperti yang demikian, jikalau adalah yang keras atas hamba itu kemaksiatan, maka takutlah yang lebih utama. Dan bolehlah dikatakan secara mutlak, bahwa takut itu yang lebih utama, atas penta'wilan yang dikatakan padanya: bahwa roti itu lebih utama dari sakanjabin. Karena diobati dengan roti itu penyakit lapar. Dan diobati dengan sakanjiban, penyakit kuning. Dan penyakit lapar itu lebih keras dan lebih banyak. Maka keperluan kepada roti itu lebih banyak. Maka rotilah yang lebih utama.

Maka dengan ibarat ini, kekerasan takut itu lebih utama. Karena perbuatan maksiat dan tertipu diri di atas manusia itu, lebih keras.

Dan jikalau ditilik kepada tempat terbitnya takut dan harap, maka harap itu lebih utama. Karena, ia mendapat siraman dari lautan rahmat. Dan siraman takut itu dari lautan marah. Dan siapa yang memperhatikan dari sifat-sifat Allah Ta'ala, akan apa yang menghendaki kasih sayang dan rahmat, niscaya kasih-sayang ke atas dirinya adalah lebih keras. Dan tiadalah di sebalik kasih sayang itu tingkat.

Adapun takut, maka tempat sandarannya, ialah menoleh kepada sifat-sifat yang menghendaki kekerasan. Maka ia tidak dicampuri oleh kasih sayang, sebagaimana turut-campurnya bagi harap.

Kesimpulannya, maka apa yang dikehendaki bagi yang lain, sayogialah bahwa dipakaikan padanya, perkataan "lebih patut". Tidak perkataan "lebih utama". Maka kami katakan, bahwa kebanyakan manusia, takut bagi mereka, lebih patut dari harap. Dan yang demikian itu, karena banyaknya perbuatan-perbuatan maksiat.

Adapun orang yang taqwa yang meninggalkan dosa zahir dan batinnya. dosa yang tersembunyi dan terangnya, maka yang lebih benar, bahwa sedanglah takutnya dan harapnya. Dan karena demikianlah, dikatakan: "Jikalau ditimbang ketakutan orang mu'min dan harapannya, niscaya keduanya seimbang. Dan diriwayatkan, bahwa Ali r.a. mengatakan kepada sebahagian anaknya: "Hai anakku! Takutlah akan Allah, dengan takut, bahwa engkau melihat, jikalau engkau bawa kepada Allah segala kebaikan penduduk bumi, niscaya tidak diterimaNYA dari engkau. Dan haraplah kepada Allah, dengan harapan yang engkau lihat, bahwa jikalau engkau bawa kepada Allah, segala kejahatan penduduk bumi, niscaya diampunkanNYA akan engkau".

Dan karena itulah, Umar r.a. berkata: "Jikalau diserukan untuk masuk neraka, semua manusia selain seorang laki-laki, niscaya aku mengharap, bahwa akulah laki-Iaki itu. Dan jikalau diserukan untuk masuk syurga semua manusia, selain seorang laki-laki, niscaya aku takut, bahwa akulah laki-laki itu".

Dan ini adalah ibarat dari bersangatan takut dan harap dan kesedangan keduanya serta kebanyakan dan kekerasan. Akan tetapi, di atas jalan ber-lawanan dan bersamaan. Maka seperti Umar r.a. sayogialah bahwa ber-samaan takutnya dan harapnya.

Adapun orang yang berbuat maksiat, apabila ia menyangka, bahwa dia itu laki-laki yang dikecualikan dari orang-orang yang disuruh masuk neraka, niscaya adalah yang demikian itu dalil atas ketipuannya.

Jikalau anda mengatakan, bahwa seperti Umar r.a. itu, tiada sayogialah bahwa bersamaan takutnya dan harapnya. Akan tetapi, sayogialah bahwa keras harapannya, sebagaimana telah terdahulu, pada awal "Kitab Harap". Dan kekuatannya, sayogialah bahwa ada, menurut kekuatan sebab-sebabnya. Sebagaimana dicontohkan, dengan tanam-tanaman dan bibit. Dan dimaklumi, bahwa orang yang menaburkan bibit yang sehat pada bumi yang bersih dan ia rajin mengusahakannya dan ia penuhi semua persyaratan bercocok tanam, niscaya mengeraslah pada hatinya, akan harapan memperoleh hasilnya. Dan tidaklah takutnya itu bersamaan bagi harapnya. Maka begitulah sayogianya bahwa adalah yang demikian itu hal-keadaan orang-orang yang taqwa (al-muttaqin).

Maka ketahuilah, bahwa siapa yang mengambil ilmu-pengetahuan dari kata-kata dan contoh-contoh, niscaya banyaklah tergelincirnya. Dan yang demikian itu, walau pun kami telah mengemukakan contoh, maka tidaklah itu menyerupai dari setiap segi, dengan apa yang sedang kami bicarakan. Karena sebab kerasnya harapan itu adalah ilmu yang diperoleh dengan percobaan (pengalaman). Karena ia tahu dengan pengalaman itu. sehatnya bumi dan bersihnya, sehatnya bibit dan sehatnya udara. Dan sedikitnya halilintar yang membinasakan pada tempat-tempat itu dan lainnya.

Sesungguhnya contoh permasalahan kita adalah bibit yang belum dicoba yang sejenisnya. Dan telah ditaburkan pada bumi yang ganjil, yang belum diketahui oleh penanam dan belum dicobainya. Dan tanah itu pada negeri. yang tidak diketahui, adakah banyak halilintar padanya atau tidak. Maka contoh penanam ini, walau pun ia laksanakan dengan sehabis tenaganya dan didatangkannya dengan setiap kemampuannya, maka tidaklah harapannya itu dapat mengalahkan ketakutannya. Dan bibit pada permasalahan kita ialah: iman. Dan syarat-syarat sahnya iman itu halus. Dan bumi itu hati. Dan yang tersembunyi dari kekejian dan kebersihannya itu dari syirik yang tersembunyi, nifaq (kemunafikan) dan ria. Dan kesembunyian budi-pekerti padanya itu kabul dan bahaya-bahayanya, ialah: nafsu-syahwat, keelokan-keelokan dunia dan berpalingnya hati kepadanya pada masa mendatang. Walau pun ia selamat sekarang. Dan yang demikian itu, tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat diketahui dengan pengalaman. Karena kadang-kadang datang dari sebab-sebab, akan apa yang tidak disanggupi melawannya. Dan tidak pernah dicobakan (dialami) yang seperti demikian.

Dan halilintar-halilintar itu, ialah: huru-hara sakaratul-maut dan bergoncangnya i'tikad (keimanan) padanya. Dan yang demikian, adalah dari apa yang tidak pernah dicobakan yang seperti yang demikian. Kemudian, mengetam  dan mengetahui ketika berpindah dari kiamat ke syurga. Dan yang  demikian  itu belum pernah dicoba (dialami).

Maka siapa yang mengetahui akan hakikat urusan ini, jikalau ia lemah hati, penakut pada dirinya, niscaya - sudah pasti - ketakutannya mengalahkan akan harapannya. Sebagaimana akan diceriterakan tentang keadaan orang-orang yang takut, dari para shahabat dan tabi'in. Dan jikalau ia kuat hati, tetap hati dan sempurna ma'rifah, niscaya samalah takutnya dan harapnya. Adapun bahwa harapnya mengalahkan takutnya, maka tidaklah demikian.

Sesungguhnya adalah Umar r.a. bersangatan menyelidiki hatinya. Sehingga ia bertanya kepada Hudzaifah r.a.: adakah Hudhaifah mengetahui pada Umar, sesuatu daripada bekas-bekas kemunafikan. Karena Hudzaifah itu telah dikhususkan oleh Rasulullah s.a.w. dengan mengetahui orang-orang yang munafik. (I) Dirawikan Muslim dari Hudzaifah. bahwa Nabi s.a.w. bersabda: "Dalam kalangan shahabatku. ada dua belas orang munafik. yang tidak akan masuk syurga. sehingga masuklah unta dalam lobang penjahit (jarum)".

Maka siapakah yang sanggup mengatakan sucinya hati seseorang, daripada kesembunyian nifaq dan syirik yang tersembunyi? Dan jikalau seseorang meyakini akan bersih hatinya dari yang demikian, maka dari mana, ia dapat merasa aman akan taqdir tidak baik daripada Allah Ta'ala, dengan penyerupaan halnya atas demikian dan penyembunyian kekurangannya dari yang demikian? Dan jikalau ia mempercayai dengan yang demikian, maka dari mana ia dapat mempercayai dengan ketetapannya di atas yang demikian, sampai kepada kesempurnaan baiknya al-khatimah?

Nabi s.a.w. bersabda:-

Artinya: "Sesungguhnya ada orang yang berbuat, sebagai perbuatan isi syurga, selama lima puluh tahun. Sehingga, tidak ada lagi, di antaranya dan syurga, selain sejauh se jengkal - pada suatu riwayat - ,selain sekadar masa berhenti di antara dua kali perahan susu unta (untuk menunggu banyaknya susu). Maka terdahululah kepada orang itu, oleh suratan amal. Lalu dicapkan (disetempelkan) baginya, dengan amal-perbuatan isi neraka".  ( Dirawikan Muslim dari Abu Hurairah. )

Dan kadar masa berhenti di antara dua kali perahan susu unta itu, tidak mungkin adanya amal perbuatan dengan anggota-anggota badan. Dan itu adalah sekadar gurisan yang masuk dalam hati ketika menghadapi mati. Lalu itu menghendaki buruk kesudahan (su-ul-khatimah). Maka bagaimana ia merasa aman yang demikian?

Jadi, yang paling jauh tujuan orang mu'min, ialah, bahwa sedanglah takut dan harapnya. Dan kerasnya harap pada kebanyakan manusia itu, adalah bersandar bagi ketipuan diri dan sedikitnya ma'rifah. Dan karena demikianlah, Allah Ta'ala mengumpulkan di antara harap dan takut itu pada sifat orang yang dipujiNYA. IA berfirman:-

Artinya: "Mereka berdo'a kepada Tuhannya, dengan perasaan yang penuh ketakutan dan pengharapan". S .. As-Sajadah. ayat 16.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:-

Artinya: "Dan mereka berdo'a kepada KAMI dengan pengharapan dan perasaan takut". S. AI-Anbiya', ayat 90.

Dan manakah contoh Umar r.a. itu?

Maka manusia yang berada pada masa ini semuanya, lebih patut bagi mereka itu kekerasan takut. Dengan syarat. bahwa tidak membawa mereka kepada putus asa, meninggalkan pekerjaan dan putus harapan dari ampunan Allah (al-magh-firah). Maka adalah yang demikian itu. menjadi sebab untuk bermalas-malasan bekerja. Dan membawa kepada terjerumus dalam perbuatan maksiat. Maka yang demikian itu putus asa, bukan takul Sesungguhnya takut, ialah: yang menggerakkan kepada bekerja. mengeruhkan semua nafsu-syahwat, mengejutkan hati dari kecenderungan kepada dunia dan membawanya kepada berjalan. dengan menjauhkan diri dari negeri terpedaya (dunia). Maka itulah takut yang terpuji. Tidaklah bisikan hati yang tidak membekas pada pencegahan dari perbuatan huruk dan penggerakan kepada  amal tha'at. Dan tidaklah keputus-asaan yang mengharuskan kepada patahnya hati.

Yahya bin Ma'adz berkata: "Siapa yang menyembah (beribadah) kepada Allah Ta'ala dengan semata-mata takut, niscaya ia tenggelam dalam lautan fikir. Dan siapa yang menyembahNYA dengan semata-mata harap. niscaya ia berjalan dalam padang pasir ketipuan. Dan siapa yang menyembahNYA dengan takut dan harap, niscaya ia berjalan lurus pada tempat beralasannya dzikir".

Makhul Ad-Dimasyqi berkata: "Siapa yang menyembah (beribadah) kepada Allah, dengan takut, maka dia itu orang merdeka. Siapa yang menyembah Allah dengan harapan, maka dia itu orang yang mengharap . . Siapa yang menyembah Allah dengan cinta-kasih, maka dia itu orang zindiq. Dan siapa yang menyembah Allah dengan takut, harap dan cinta-kasih, maka dia itu orang bertauhid (meng-esakan Tuhan)".

-Jadi, tak boleh tidak, daripada mengumpulkan di antara hal-hal tersebut.

Dan kerasnya takut, itulah yang lebih patut. Akan tetapi, sebelum mendekati kepada mati. Ada pun ketika akan mati, maka yang lebih patut. ialah: kerasnya harapan dan baiknya sangka. Karena takut itu berlaku. sebagai berlakunya cemeti yang membangkitkan kepada bekerja. Dan telah lewat waktu bekerja itu. Maka orang yang hampir akan mati. tidaklah sanggup bekerja. Kemudian, ia tidak sanggup akan sebab-sebab ketakutan. Maka yang demikian itu, memutuskan gantungan hatinya. Dan menolong kepada kesegeraan matinya. Ada pun semangat harapan. maka sesungguhnya menguatkan hatinya dan mencintakan dia akan Tuhannya. yang kepadaNYA-lah harapannya.

Dan tiada sayogialah bagi seseorang itu bercerai' dengan dunia, selain ia mencintai Allah Ta'ala. Supaya adalah ia mencintai bertemu dengan Allah Ta'ala. Maka sesungguhnya siapa yang menyukai bertemu dengan Allah. niscaya AIIah menyukai bertemu dengan dia. Dan harapan itu disertai oleh kecintaan. Maka siapa yang mengharap akan kurnia Allah, maka Allah itu dicintainya. Dan yang dimaksudkan dari ilmu dan amal itu seluruhnya, ialah: ma'rifah Allah Ta'ala. Sehingga ma'rifah itu membuahkan kecintaan. Sesungguhnya tempat kembali, ialah kepadaNYA. Dan datang dengan kematian itu kepadaNYA. Dan siapa yang datang kepada yang dikasihinya, niscaya besarlah kegembiraannya, menurut kadar kecintaannya. Dan siapa yang bercerai dengan kecintaannya, niscaya bersangatanlah cobaan dan azabnya.

Maka manakala adalah hati, yang mengeras kepadanya ketika mati itu, kecintaan kepada isteri, kepada anak, harta, tempat tinggal, sawah-Iadang. teman dan shahabat, maka inilah laki-Iaki yang seluruh kecintaannya pada dunia. Maka dunialah syurganya. Karena syurga itu, adalah ibarat dari suatu tempat yang mengumpulkan semua kekasih. Maka matinya itu, ialah keluar dari syurga dan dinding di antaranya dan apa yang dirinduinya. Apabila ia tidak mempunyai kekasih, selain Allah Ta'ala, selain dzikir kepadaNYA, ma'rifah dan fikir padaNYA, sedang dunia dan segala sangkut-pautnya itu menggangguinya dari yang dikasihi, jadi, maka dunia itu penjara baginya. Karena penjara itu ibarat dari tempat yang mencegah si terpenjara, untuk bersenang-senang kepada yang dikasihinya. Maka matinya itu adalah kedatangan kepada kekasihnya dan kelepasan dari penjara. Dan tidaklah tersembunyi, keadaan orang yang terlepas dari penjara. Dan dibiarkan ia dengan kekasihnya, dengan tidak ada yang melarang dan yang mengeruhkan.

Maka inilah permulaan yang ditemui oleh setiap orang yang berpisah dengan dunia, sesudah matinya, dari pahala dan siksa. Lebih-Iebih dari apa yang disediakan oleh AIIah kepada hamba-hambaNYAyang shalih, dari apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pemah didengar oleh telinga dan tidak terguris di hati manusia. Lebih-Iebih, dari apa yang disediakan oleh Allah Ta'ala, bagi mereka yang mencintai kehidupan dunia-wi dari akhirat. Senang dengan kehidupan duniawi dan merasa tenang kepada kehidupan duniawi, dari belenggu, rantai, pasung dan berbagai macam kehinaan dan yang menakutkan. Maka kita mohon kepada Allah Ta'ala, kiranya IA mematikan kita sebagai orang muslim dan menghubungkan kita dengan orang-orang shalih.

Dan tiada harapan pada penerimaan do'a ini, selain dengan mengusahakan kasih-sayang Allah Ta'ala. Dan tiada jalan kepada yang demikian. selain dengan mengeluarkan kasih sayang kepada yang lain daripada Allah, dan hati. Dan memutuskan segala hubungan dari setiap apa yang selain Allah Ta'ala, dari kemegahan, harta dan tempat tinggal. Maka yang lebih utama, ialah, bahwa kita berdo'a, dengan apa yang dido'akan oleh Nabi kita s.a.w.:-

Artinya: "Ya Allah, Tuhanku! Anugerahkanlah kepadaku mencintaiMU. mencintai orang yang mencintaiMU, mencintai apa yang mendekatkan aku kepada mencintaiMU! Dan jadilah kecintaan kepadaMU, yang lebih mencintai kepadaku, daripada air dingin". (Dirawikan Al-Tirmidzi dari Ma’adz).

Dan maksudnya, ialah: bahwa kekerasan harap ketika akan mati itu lebih patut. Karena harap itu lebih menghela kepada kasih-sayang .... Dan kekerasan takut sebelum mati itu lebih patut. Karena takut itu lebih membakar bagi api nafsu-syahwat dan lebih mencegah lagi kecintaan dunia dari hati. Dan karena itulah,

Nabi s.a.w. bersabda:-

Artinya: “Tiada mati seseorang kamu, selain ia membaikkan sangka dengan  Tuhannya”. (Dirawikan Muslim dari Jabir.)

Allah Ta'ala berfirman: "AKU pada sangkaan hambaKU dengan AKU. Maka hendaklah ia menyangka kepadaKU, akan apa yang dikehendakinya".

Tatkala Sulaiman At-Taimi hampir wafat, maka ia mengatakan kepada anaknya: "Hai anakku! Berbicaralah dengan aku akan hal-hal yang mudah! Dan sebutkanlah bagiku akan harapan! Sehingga aku bertemu dengan Allah atas baiknya sangkaan kepadaNYA".

Begitu pula tatkala Ats-Tsauri hampir wafat dan bersangatan gundahnya. lalu beliau mengumpulkan para ulama di kelilingnya, di mana mereka memberi harapan kepadanya. Ahmad bin Hanbal r.a. mengatakan kepada puteranya. tatkala akan wafat: "Sebutkanlah bagiku hadits-hadits, yang padanya harapan dan baik sangka".

Dan yang dimaksud dari itu semua, ialah: bahwa seseorang mempercintakan Allah Ta'ala kepada dirinya. Dan karena itulah, Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi Dawud a.s.: "Bahwa engkau memperkasihkan AKU kepada hamba-hambaKU!".

Nabi Dawud a.s. lalu bertanya: "Dengan apa?'.

Allah Ta'ala berfirman: "Dengan engkau peringatkan akan mereka, segala rahmat dan nikmatKU".

Jadi, penghabisan kebahagiaan, ialah: bahwa mati dengan mencintai Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya kecintaan itu berhasil, dengan ma'rifah dan dengan mengeluarkan kecintaan dunia dari hati. Sehingga jadilah dunia itu seluruhnya, seperti penjara yang mencegah dari kekasih. Dan karena itulah. sebahagian orang-orang shalih, memimpikan Abu Sulaiman AdDarani, hahwa beliau itu terbang. Lalu yang bermimpi itu bertanya kepada Abu Sulaiman Ad-Darani. Abu Sulaiman lalu menjawah: "Sekarang aku terlepas".

Tatkala pagi hari, lalu yang bermimpi itu menanyakan akan keadaan Abu Sulaiman. Maka orang mengatakan kepadanva. bahwa Abu Sulaiman  AdDarani, telah meninggal kemarin.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”