Print
PDF

PENJELASAN: Keutamaan takut dan penggalakan kepada takut

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: keutamaan takut dan penggalakan kepada takut.

Ketahuilah, bahwa kelebihan takut itu, sekali diketahui, dengan pemer-hatian dan i'tibar. Dan pad a kali yang lain, dengan ayat-ayat dan hadits-hadits.

Adapun i'tibar, maka jalannya, ialah bahwa: keutamaan sesuatu itu me-nurut kadar kesanggupannya membawa kepada kebahagiaan bertemu dengan Allah Ta'ala di akhirat. Karena .tiadalah yang dimaksudkan, selain kebahagiaan itu. Dan tiada kebahagiaan bagi hamba, sdain pada me-nemui Tuhannya dan berdekatan kepadaNYA. Maka setiap apa yang menolong kepada yang demikian, maka baginya keutamaan, Dan keuta-maannya itu menurut kadar tujuannya. Dan telah jelas, bahwa tiada sam-pai kepada kebahagiaan bertemu dengan Allah di akhirat. selain dengan memperoleh kasih-sayangNYA. Dan jinak hati kepadaNYA di dunia, Dan kasih-sayang itu tiada akan berhasil, selain dengan ma'rifah. Dan ma'rifah itu tiada akan berhasil, selain dengan terus-menerus berfikir (tafakkur). Dan kejinakan hati itu, tiada akan berhasil, selain dengan kasih-sayang dan keterus-menerusan berdzikir. Dan tiada mudah kerajinan kepada dzikir dan fikir, selain dengan memutuskan kecintaan dunia dari hati. Dan yang demikian itu tiada akan terputus, selain dengan me-ninggalkan kelazatan dunia dan hawa-nafsunya.

Dan tidak mungkin me-ninggalkan yang menjadi hawa-nafsu itu, selain dengan mencegah nasfu-syahwat. Dan nafsu-syahwat itu tidak tercegah dengan sesuatu, seperti tidak tercegahnya dengan api ketakutan. Maka takut itu, ialah: api yang membakar nafsu-syahwat. Maka keutamaannya takut itu, menurut kadar yang membakarkan nafsu-syahwat. Dan menurut kadar yang mencegah perbuatan-perbuatan maksiat dan yang menggerakkan kepada perbuatan-perbuatan tha'at. Dan yang demikian itu berbeda, dengan berbedanya tingkat-tingkat takut, sebagaimana telah diterangkan dahulu. Dan bagai-mana takut itu tidak mempunyai keutamaan? Dengan takut itu, berhasil 'iffah, wara', taqwa dan mujahadah. Dan itu adalah amal-perbuatan yang terpuji, yang mendekatkan kepada Allah Ta'ala.

Adapun dengan jalan pengutipan dari ayat-ayat dan hadits-hadits, maka apa yang datang tentang keutamaan itu, di luar dari hinggaan. Dan cukup-lah bagi anda menjadi dalil tentang keutamaannya, bahwa Allah Ta'ala mengumpulkan bagi orang-orang yang takut, akan: petunjuk, rahmat. ilmu dan ridha. Dan itu adalah kumpulan tingkat-tingkat isi sorga,

 

Allah Ta'ala berfirman:-

 

 

Artinya: "Petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya". S. AI-A'raaf, ayat 154.

 

Allah Ta'ala berfirman:-

 

 

 

Artinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-NYA ialah: orang-orang yang berilmu (ulama)". S. Faathir, ayat 28. Allah menyifatkan mereka dengan ilmu, bagi ke-takutan mereka.

 

Allah 'Azza wa lalla berfirman:-

 


 

Artinya: "Allah ridha (senang) kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Itu adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya". S. AI-Bay-yinah, ayat 8.

 

Setiap apa yang menunjukkan kepada keutamaan ilmu itu menunjukkan kepada keutamaan takut. Karena takut itu buah ilmu. Dan karena itulah, tersebut pada ucapan Musa a.s.: "Adapun orang-orang yang takut, maka bagi mereka itu, Ternan Yang Mahatinggi (Ar-Rafiqul-a'ala), yang tiada bersekutu mereka dengan orang lain". (1).

Maka perhatikanlah, bagaimana Musa a.s. menyendirikan mereka dengan penemanan Ar-Rafiqul-a'ala? Dan yang demikian itu, karena mereka itu orang-orang yang berilmu (ulama). Dan ulama itu mempunyai tingkat penemanan dengan nabi-nabi. Karena para ulama itu pewaris nabi-nabi. Dan penemanan Ar-Rafiqul-a'ala itu bagi para nabi dan orang-orang yang berhubungan (mengikuti) dengan mereka.

Dan karena itulah, tatkala Rasulullah s.a.w. disuruh pilih pada waktu sakitnya yang membawa kepada wafatnya, antara tetap di dunia dan datang kepada Allah Ta'ala, adalah ia bersabda:-

 

 

Artinya: "Aku bermohon akan Engkau, wahai Ar-Rafiqul-a'la". (2). Jadi, kalau dilihat kepada yang membuahkan takut itu, maka yaitu: ilmu.

 

(1) Ar-Rafiqul-a'-Ia, ialah: Allah Subhanahu wa Ta'ala,

(2) Dirawikan AI•Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah, Menurut 'Aisyah, bahwa sewaktu kepala nabi s.a,w, dalam pangkuannya, maka beliau melihat ke atap rumah, kemudian bersabda: "Allaahummar-rafiiqal-a'laa", Maka aku tahu bahwa beliau tidak memilih kita",

 

 

Dan kalau dilihat kepada buahnya, maka yaitu: wara' dan taqwa. Dan tiada tersembunyi, apa yang telah datang pada hadits, tentang keutamaan keduanya. Sehingga al-'aqibah (kesudahan yang baik) itu menjadi dinama-kan, dengan: taqwa, yang dikhususkan dengan taqwa itu. Sebagaimana jadinya al-hamdu itu, dikhususkan dengan Allah Ta'ala dan selawat kepada Rasulullah s.a.w. Sehingga dikatakan:-

 

Artinya: "Segala pujian (al-hamdu) bagi Allah Tuhan semesta alam. Dan akibat kesudahan yang baik (al-'aqibah) bagi orang-orang yang taqwa dan selawat (ash-shalaatu) kepada penghulu kita Muhammad s.a.w. dan ke-pad a keluarganya sekalian".

 

Allah Ta'ala telah mengkhususkan taqwa dikaitkan kepada diriNYA. IA berfirman

 


 

Artinya: "Tidak akan sampai daging dan darahnya itu kepada Allah. Akan tetapi, yang sampai kepadaNYA. ialah: taqwa daripada kamu". S. AI-Hajj, ayat 37.

 

Sesungguhnya taqwa itu ibarat daripada pencegahan dari perbuatan yang tidak baik. menurut yang dikehendaki oleh takut, sebagaimana telah di-terangkan dahulu. Dan karena itulah, Allah Ta'ala berfirman:-

 

 

Artinya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu pada sisi Allah, ialah yang lebih bertaqwa dari kamu". S. AI-Hujurat, ayat 13.

 

Dan karena itulah. Allah Ta'ala mewasiatkan (memerintahkan) kepada orang-orang yang dahulu dan orang-orang yang kemudian, dengan: taqwa. Allah Ta'ala berfirman:-

 

 

Artinya: "Dan sesungguhnya telah KAMI wasiatkan (perintahkan) kepada orang-orang yang telah diberi Kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu, supaya kamu bertaqwa kepada Allah". S. An-Nisa', ayat 131. Allah 'Azza wa lalla berfirman

 

Artinya: "Dan takutilah kepadaKU. kalau kamu betul orang-orang yang beriman". S. Ali 'Imran, ayat 175.

Maka Allah menyuruhkan dengan: takut, mewajibkannya dan mensyaratkannya pada: iman. Maka karena itulah, tiada tergambar, bahwa orang mu'min itu terlepas dari: takut, walaupun lemah. Dan adalah kelemahan takutnya itu menurut kelemahan ma'rifahnya dan imannya.

 

Rasulullah s.a.w. bersabda tentang keutamaan taqwa: "Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang dahulu dan orang-orang yang kemudian pada suatu tempat di hari yang dima'lumi, maka tiba-tiba mereka mendengar suara, yang dapat memperdengarkan kepada yang paling jauh dari mereka, sebagaimana dapat memperdengarkan kepada yang paling dekat dari mereka. Maka SUARA itu berkata: "Hai manusia! Sesungguhnya AKU telah AKU diam bagimu, semenjak AKU jadikan kamu, sampai kepada harimu ini. Maka diamlah kepadaKU hari ini! Sesungguhnya amal kamu dikembalikan kepada kamu. Hai manusia! Sesungguhnya AKU telah menciptakan bangsa (nasab) dan kamu telah menciptakan bangsa. Maka kamu rendahkan nasabKU dan kamu tinggikan nasabmu. AKU berfirman: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu pada sisi Allah, ialah yang lebih bertaqwa dari kamu". Dan kamu enggan, selain mengatakan: "Anu anak si Anu, Si Anu lebih kaya dari si Anu". Maka pada hari ini, AKU rendahkan nasabmu dan AKU tinggikan nasabKU. Mana orang-orang yang bertaqwa? Maka diangkatkan bendera bagi suatu kaum, lalu kaum (golongan) itu membawa benderanya ke tempatnya. Maka mereka itu masuk sorga, tanpa hisab (perhitungan amal)". (1).

 

Nabi s.a. w. bersabda:-


Artinya: "Puncak hikmah itu takut kepada Allah". (2).

 

Nabi s.a.w. berkata kepada Ibnu Mas'ud:-

 

Artinya: "Kalau engkau bermaksud bertemu dengan aku, maka banyak-kanlah takut sesudahku". (3).

 

(I) Dirawikan Ath-Thabrani dengan sanad dla-'if.

(2) Dirawikan Abubakar bin Lal dan AI-Baihaqi dari Ibnu Mas'ud. hadits dla'if.

(3) Menurut AI-Iraqi. ia tidak menjumpai hadits ini.

 

 

AI-Fudlail berkata: "Siapa yang takut akan Allah, niscaya ketakutan itu

menunjukkannya atas setiap kebajikan".

Asy-Syibli r.a. berkata: "Pada suatu hari aku takut akan Allah, lalu aku melihat bagi ketakutan itu suatu pintu dari hikmah dan ibarat, yang tidak pemah sekali-kali aku melihatnya.

Yahya bin Ma'adz berkata: "Seorang mu'min yang mengerjakan kejahat-an itu, akan dihubungi oleh dua kebaikan: takut siksaan dan harap ke-roa'afan, seperti: serigala di antara dua ekor singa".

Tersebut pada ucapan Musa a.s.: "Adapun orang-orang wara': maka sesungguhnya tiada tinggal seorang pun, melainkan aku bertengkar dengan dia tentang hitungan amalnya dan aku periksakan apa yang dalam dua tangannya, selain orang-orang yang wara'. Maka sesungguhnya aku malu kepada mereka. Dan aku muliakan mereka, bahwa aku suruh mereka berhenti untuk hitungan amalnya (hisab)".

Wara' dan taqwa itu nama-nama yang dipetik dari beberapa arti, yang persyaratannya itu: takut. Maka jikalau kosong dari takut, niscaya tidak dinamakan dengan nama-nama tersebut.

Begitu juga apa yang tersehut tentang keutamaan dzikir itu tidak tersem-bunyi. Dan sesungguhnya telah diciptakan oleh Allah akan dzikir itu, di-khususkan kepada orang-orang yang takut.

 

Allah Ta'ala berfirman:-

 

Artinya: "Nanti peringatan (dzikir) itu, akan diterima oleh orang yang takut (kepada Allah)". S. AI-A'-Ia, ayat 10.

 

 

Allah Ta'ala berfirman:-

 

Artinya: "Dan siapa yang takut terhadap waktu berdiri di hadapan Tuhan-nya, dia mempunyai dua sorga (taman)". S. Ar-Rahman, ayat 46.

 

Nabi s.a.w. bersabda: "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Demi kemuliaan-KU! Tiada AKU kumpulkan atas hambaKU dua ketakutan. Dan tiada AKU kumpulkan baginya dua keamanan. Maka jikalau ia merasa aman kepadaKU di dunia, niscaya AKU pertakutkannya pada hari kiamat. Dan jikalau ia takut kepadaKU di dunia, niscaya AKU amankan dia di hari kiamat". (1).

 

Nabi s.a.w. bersabda: "Siapa yang takut kepada Allah Ta'ala, niscaya tiap sesuatu akan takut kepadanya. Dan siapa yang takut akan selain Allah, niscaya ia dipertakutkan oleh Allah dari setiap sesuatu". (2).

Nabi s.a.w. bersabda: "Yang paling sempuma akal dari kamu, ialah yang sangat takut kepada Allah Ta'ala daripada kamu, yang paling baik pan-dangannya dari kamu, pada apa yang disuruh oleh Allah Ta'ala dan yang dilarangnya". (3).

Yahya bin Ma'adz r.a. berkata: "Kasihan anak Adam! Jikalau ia takut akan neraka, sebagaimana ia takut akan kemiskinan, niscaya ia masuk sorga".

Dzun-Nun La. berkata: "Siapa yang takut ,kepada Allah Ta'ala, niscaya halus hatinya, bersangatan cintanya kepada Allah dan benar akalnya". Dzun-Nun La. berkata pula: "Sayogialah takut itu lebih keras dari harap. Apabila harap yang keras, niscaya kacaulah hati".

Abul-Husain Adl-Dlurair berkata: "Tanda kebahagiaan itu takut kecela-kaan. Karena takut itu kekang di antara Allah Ta'ala dan hambaNYA. Maka jikalau kekang itu terputus, niscaya hamba itu binasa bersama orang-orang yang binasa".

Ditanyakan kepada Yahya bin Ma'adz: "Siapakah di antara makhluk yang paling aman besok?".

Yahya bin Ma'adz menjawab: "Yang paling takut di antara mereka pada hari ini".

Sahl r.a. berkata: "Engkau tidak memperoleh takut, sebelum engkau makan yang halal".

Ditanyakan kepada AI-Hasan: "Hai Abu Sa'id! Apa yang kami perbuat? Kami duduk-duduk dengan golongan-golongan yang mempertakutkan kami, sehingga hampir hati kami terbang".

AI-Hasan menjawab: "Demi Allah! Sesungguhnya jikalau engkau ber-campur-baur dengan golongan-golongan yang mempertakutkan engkau, sehingga engkau memperoleh aman, adalah lebih baik bagi engkau dari-pada engkau berteman dengan golongan-golongan yang memperamankan engkau, sehingga engkau memperoleh ketakutan".

Abu Sulaiman Ad-Darani r.a. berkata: "Tiadalah takut itu bercerai dari hati, melainkan hati itu roboh".

'Aisyah r.a. berkata: "Aku bertanya, wahai Rasulullah:-

 

(Wal-ladziina yu'-tuuna maa-atau, wa quluubuhum wajilatun).

. Artinya: "Dan orang-orang yang memberikan pemberiannya, dengan hati-nya yang takut (kepada Tuhan)". S. AI-Mu'minun, ayat 60, itukah orang yang mencuri dan berzina?"

 

(I) Dirawikan Ibnu Hibban dan AI-Baihaqi daTi Abu Hurairah.

(2) Dirawikan Abusy-Syaikh. Ibnu Hibban dari Abi Amamah, dengan sanad dla-•if. (3) Kata AI-Iraqi. beliau tidak menjumpai had its ini.

 

Nabi s.a.w. menjawab:-

Artinya: "Tidak! Akan tetapi, orang yang berpuasa, mengerjakan shalat, bersedekah dan takut bahwa tidak diterima daripadanya". (1).

 

Pengerasan-pengerasan yang datang dari hadits mengenai keamanan dari cobaan dan azab Allah itu tiada terhingga banyaknya. Dan setiap yang demikian itu adalah pujian kepada takut. Karena celaan akan sesuatu itu adalah pujian akan lawannya, yang menidakkannya. Dan lawan takut itu aman. Sebagaimana lawan harap itu putus asa. Dan sebagaimana ditunjukkan oleh celaan akan putus asa, kepada kelebihan harap, maka seperti demikian juga, celaan akan aman itu menunjukkan kepada kelebihan takut yang berlawanan dengan dia. Bahkan,kami mengatakan, bahwa: setiap apa yang datang dari hadits, tentang kelebihan harap, maka itu menunjukkan atas kelebihan takut. Karena keduanya itu harus-mengharus-kan. Maka sesungguhnya setiap orang yang mengharap akan kekasihnya, maka tak boleh tidak, bahwa ia takut akan hilangnya. Maka jikalau ia tidak takut akan hilangnya, niscaya ia tidak mencintainya. Maka ia tidak mengharap untuk menungguinya.

Maka takut dan harap itu harus mengharuskan. Mustahil terlepas salah satu daripada keduanya dari lainnya. Ya, boleh bahwa yang satu dari keduanya itu mengalahkan yang lain. Dan keduanya itu berkumpul. Dan boleh bahwa hati sibuk dengan salah satu dari keduanya. Dan hati itu tidak menoleh kepada yang lain seketika. Karena kelengahannya dari-padanya. Dan ini, karena di antara persyaratan harap dan takut itu, me-nyangkut keduanya, dengan apa yang diragukan padanya. Karena yang diketahui itu tidak diharapkan dan tidak ditakutkan.

Jadi, yang dicintai - sudah pasti - yang boleh adanya itu, boleh tiadanya. Maka mentakdirkan adanya itu menyenangkan akan hati Dan itulah: harap. Dan mentakdirkan tiadanya itu menyakitkan hatL Dan itulah: takut. Dua pentakdiran yang berlawanan - sudah pasti - apabila keadaan yang ditunggukan itu diragukan. Ya, salah satu dari dua tepi keraguan itu kadang-kadang lebih kuat dari lainnya, dengan adanya sebahagian sebab-sebab. Dan yang demikian itu, dinamakan: sangkaan (dhann). Maka adalah yang demikian itu sebab menangnya yang satu dari keduanya atas lainnya. Maka apabila telah keras sangkaan akan adanya yang dicintai, niscaya kuatlah harap dan tersembunyilah takut, dengan dikaitkan kepadanya. Dan begitu pula sebaliknya. Dan di atas setiap keadaan, maka keduanya itu harus-mengharuskan.

 

 

(1) Dirawikan At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan AI-Hakim dan katanya: shahih isnad.

 

 

Dan karena itulah Allah Ta'ala berfirman:-

 

Artinya: "Dan mereka berdo'a kepada KAMI dengan pengharapan dan perasaan takut". S. Al-Anbiya', ayat 90.

 

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:-

 

Artinya: "Mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan perasaan yang penuh ketakutan dan pengharapan". S. As-Sajadah, ayat 16.

Dan karena itulah, orang Arab meng-ibaratkan dengan takut itu: harap.

 

Allah Ta'ala berfirman:-

 

Artinya: "Mengapa kamu tidak mengharapkan kebesaran Allah?", artinya: kamu tidak takut. S. Nuh, ayat 13.

Dan kebanyakan apa yang terse but dalam AI-Qur-an, bahwa harap itu, dengan arti: takut. Dan yang demikian, karena antara keduanya harus-mengharuskan. Karena kebiasaan orang Arab itu mengibaratkan dari sesuatu, dengan apa yang ada harus-mengharuskan daripadanya.

Bahkan, aku mengatakan, bahwa setiap apa yang datang dalam hadits, tentang keutamaan menangis dari karena ketakutan kepada Allah, maka itu menglahirkan bagi keutamaan takut. Maka sesungguhnya tangis itu buah. ketakutan.

 

Allah Ta'ala berfirman:

               

Artinya: "Maka hendaklah mereka itu tertawa sedikit dan hendaklah me-nangis banyak!". S. At-Taubah, ayat 82.

 

Dan Allah Berfirman:

 

Artinya: "Mereka itu menangis dan AI-Qur-an itu menambahkan ke-khusyu-an hati mereka". S. AI-Isra', ayat 109.

 

Allah 'Azza wa Jalla, berfirman:-

Artinya: "Apakah kamu merasa heran terhadap bacaan ini? Dan kamu akan tertawa dan tiada menangis? Dan kamu tiada memperhatikannya?". S. An-Najm, ayat 59 - 60 - 61.

               

Nabi s.a.w. bersabda:-

Artinya: ''Tiadalah dari hamba yang beriman, yang keluar dari dua mata-nya akan air mata, walau pun seperti kepala lalar, dari karena takut ke-pada Allah Ta'ala, kemudian air mata itu mengenai sesuatu dari panas mukanya, selain ia diharamkan oleh Allah dari api neraka". (1).

 

Nabi s.a.w. bersabda:-

Artinya: "Apabila gementar hati orang mu'min dari karena takut kepada Allah, niscaya berguguran daripadanya dosanya, sebagaimana berguguran dari pohon kayu daunnya".(2).

 

Nabi s.a.w. bersabda:

 

(Laa yalijun-naara ahadun bakaa min khasy-yatil-Iaahi ta-'aalaa, hattaa ya-'uudal-Iabanu fidl-dlar-'i),

Artinya: 'Tiada akan masu\i. neraka, seseorang yang menangis dari karena takut kepada Allah Ta'ala, schingga kembalilah air susu dalam tempatnya semula". (3).

 

 

(1) Dirawikan Ath-Thabrani dan AI-Baihaqi dari Ibnu Mas'ud. sanad dha'if.

(2) Dirawikan Ath-Thabrani dan AI-Baihaqi dari AI-Abbas, sanad dha’if.

(3) Dirawikari At-TirmidzI, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.

 

 

Uqbah bin 'Amir hertanya: "Apa itu kelepasan. ya Rasulullah?".

Nabi s.a.w. menjawab: 'Tahanlah Iidahmu atas dirimu! Dan hendaklah melapangkan akan kamu oleh rumahmu! Dan menangislah atas kesalahan-mu!". (2).

'Aisyah r.a. berkata: "Aku hertanya: ya Rasulullah! Adakah seseorang dari ummatmu itu masuk sorga tanpa hisab (perhitungan amal)?".

Nabi s.a.w. menjawah: "Ada. yaitu: SIapa yang mengingati akan dosanya, lalu ia menangis". (3).

Nabi s.a.w. bersabda: "Tiada satu tetes pun yang Iebih disukai oleh Allah Ta'ala. daripada setetes air mata dari karena takut kepada Allah Ta 'ala atau setetes darah yang ditumpahkan pada sabilillah Subhanahu wa Ta’ala". (4).

 

Nabi s.a,w. berdo'a:-

 

Artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Anugerahkanlah aku dua mat a yang bercucuran airnya. yang menyembuhkan hati, dengan mengalirnya air mata, sebelum air mata itu menjadi darah dan gigi gerham itu menjadi bara-api", (5).

 

Nabi s.a.w bersabda:-

 

Artinya: "Tujuh macam manusia akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tiada Iindungan selain IindunganNYA", (6).

Lalu Rasulullah s.a,w. menyebutkan dari mereka itu seorang laki-laki yang mengingati (berdzikir) kepada Allah pada tempat yang sunyi. Lalu bercucuranlah kedua matanya dengan air mata.

Abu bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata: "Barangsiapa sanggup menangis maka hendaklah ia menangis! Dan barang siapa yang tiada sanggup, maka hendaklah ia membuat-buat menangis!".

 

 

(2) Dirawikan Ibnu Abid-Dun'ya, At-Tirmidzi dan dipandangnya hadits baik.

(3) Menurut AI-Iraqi, bahwa ia tidak menjumpai hadits ini.

(4) Dirawikan At-Tirmidzi dan Abi Amamah dan katanya: hadits hasan gharib.

(5) Dirawikan Ath-Thabrani dan Abu Na-'im dari Ibnu Umar, isnad hasan.

(6) Dirawikan AI-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah: Hadits ini sudah diterangkan dahulu beberapa kali,

 

               

Adalah Muhammad bin AI-Munkadir r.a. apabila ia menangis, niscaya ia menyapu mukanya dan janggutnya dengan air-matanya. Dan mengatakan:

"Sampai kepadaku berita, bahwa neraka tidak akan memakan tempat, yang disentuh oleh air-mata".

Abdullah bin 'Amr bin AI-'Ash La. berkata: "Menangislah! Maka jikalau engkau tidak menangis, maka buat-buatlah menangis itu! Maka demi Allah yang nyawaku di TanganNYA, jikalau tahulah seseorang kamu dengan sebenar-benamya tahu, niscaya ia memekik, sehingga habis suaranya. Dan ia mengerjakan shalat, sehingga pecah tulang pinggangnya".

Abu Sulaiman Ad-Darani r.a. berkata: "Tiadalah pulang-pergi mata itu dengan airnya, melainkan tiada akan menganiaya muka yang punya mata itu, oleh kesempitan dan kehinaan, pad a hari kiamat. Maka jikalau meng-alir air matanya, niscaya dipadamkan oleh Allah dengan tetesan yang per-tama daripadanya, akan uap dari api neraka. Dan jikalau seorang Iaki-Iaki menangis pada suatu ummat, niscaya tiada akan diazabkan umat itu". Abu Sulaiman berkata: "Menangis itu dari takut., Harap dan sukacita itu dari kerinduan".

Ka'bul-Ahbar r.a. berkata: "Demi Allah yang nyawaku di TanganNYA! Aku menangis dari karena takut kepada Allah, sehingga mengalirnya air mataku, atas pipiku, adalah Iebih aku sukai, daripada aku bersedekah dengan sebuah bukit dari emas".

Abdullah bin Umar La. berkata: "Bahwa aku mengeluarkan air mata, dari karena takut kepada Allah adalah Iebih aku sukai, daripada aku bersedekah dengan seribu dinar".

Diriwayatkan dari Handhalah, yang mengatakan: "Adalah kami di sisi Rasulullah s.a. w. Lalu beliau memberi pengajaran kepada kami, dengan pengajaran yang menghaluskan hati, mencurahkan air mata dan memperkenalkan akan kami diri kami. Lalu, aku kembali kepada keluargaku. Maka mendekatilah kepadaku seorang wanita. Dan berlakulah di antara kami pembicaraan dunia. Maka aku lupa, apa yang kami berada padanya, di sisi Rasulullah s.a.w. Dan kami masuk dalam urusan duniawi. Kemudi-an, aku teringat apa yang kami berada padanya.

Maka aku mengatakan pada diriku: "Aku telah menjadi munafik, di mana menyeleweng daripadaku, apa yang aku berada padanya, dari ketakutan dan kehalusan hati. Maka aku keluar, Ialu aku serukan: Telah menjadi munafik Handhalahl Lalu Abubakar Ash-Shiddiq berhadapan dengan aku, maka beliau menga-takan: "Tidak! Tidaklah Handhalah itu munafik!".

Maka aku masuk ke tempat Rasulullah s.a.w. dan aku mengatakan: Telah menjadi munafik Handhalah. Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: "Tidak! Tidaklah Handhalah itu munafik". Maka aku menjawab: "Ya Rasulullah! Kami berada di sisi engkau. Lalu engkau memberi pengajaran kepada kami, suatu pengajaran yang menakutkan hati, mencucurkan air mata dan kami mengenal akan diri kami. Lalu aku kembali kepada keluargaku. Maka aku masuk membicarakan hal dunia. Dan aku lupa, apa yang ada kami padanya, di sisi engkau".

Maka Nabi s.a.w. menjawab: "Hai Handhalah! Jikalau adalah kamu selalu di atas keadaan yang demikian, niscaya akan berpegang tangan dengan kamu, para malaikat di jalan-jalan dan di atas tempat tidurmu. Akan te-tapi, hai Handhalah, se sa'at dan sesa'at". (1).

Jadi, setiap apa yang telah datang pada hadits, tentang kelebihan harap dan menangis, kelebihan taqwa dan wara', kelebihan ilmu dan celaan aman, maka itu menunjukkan kepada kelebihan takut. Karena sejumlah yang demikian itu menyangkut dengan takut. Adakalanya sangkutan sebab, atau sangkutan musabbab (akibat dari sebab).

 

(1)    Dirawikan Muslim dengan disingkatkan.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”