DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: Bahagian-bahagian takut, dengan dikaitkan kepada apa yang ditakutkan

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: Bahagian-bahagian takut, dengan dikaitkan kepada apa yang ditakutkan.

Ketahuilah kiranya, bahwa takut itu tidak dapat diyakini, selain dengan menunggu yang tiada disukai. Dan yang tidak disukai itu, adakalanya dia itu tidak disukai pada dirinya sendiri (zatnya), seperti: api. Dan adakalanya dia itu tidak disukai, karena membawa kepada yang tidak disukai. Seperti perbuatan-perbuatan maksiat itu tidak disukai, karena ia membawa kepada yang tidak disukai di akhirat. Sebagaimana orang sakit tidak menyukai buah-buahan yang mendatangkan melarat, karena dibawanya kepada mati.

Maka tidak boleh tidak, bagi setiap orang yang takut, bahwa mencontohkan pada dirinya, yang tidak disukai itu dari salah satu dua bahagian. Dan menguatkan penungguannya pada hatinya. Sehingga membakarkan hatinya, disebabkan dirasainya yang tidak disukainya itu.

Tingkat orang-orang yang takut itu berlainan, pada apa yang mengerasi atas hatinya, dari hal-hal yang tidak disukai, yang ditakuti. Maka orang-orang yang mengerasi atas hatinya, apa yang tidak dibencikan bagi zatnya, akan tetapi bagi lainnya, adalah seperti orang-orang yang mengerasi atas mereka, ketakutan kepada mati sebelum tobat. Atau ketakutan runtuhnya tobat dan mungkirnya janji. Atau ketakutan lemahnya kekuatan daripada menepati dengan kesempurnaan hak-hak Allah Ta'ala. Atauketakutan hilangnya kehalusan hati dan bergantian dengan kekasaran. Atau ketakutan kepada kecenderungan dari istiqamah (kelurus~n dan ketetapan pendirian). Atau ketakutan berkuasanya adat kebiasaan pada mengikuti nafsu syahwat yang dibinasakan. Atau ketakutan, bahwa ia dilesukan oleh Allah Ta'ala pada kebaikan-kebaikan, yang ia berpegang padanya dan yang menyukarkan pada hamba-hamba Allah. Atau ketakutan kepada kesombongan, disebabkan banyaknya nikmat Allah kepadanya. Atau ketakutan kepada kesibukan jauh dari Allah, dengan yang lain dari Allah. Atau ketakutan terperosok ke jalan yang salah, disebabkan berturut-turutnya kedatangan nikmat. Atau ketakutan tersingkapnya yang membahayakan ketha'atannya, di mana nampak baginya dari Allah Ta'ala, apa yang tidak disangkakannya. Atau ketakutan terikutnya manusia padanya tentang umpatan, khianatan, tipuan dan menyembunyikan yang buruk. Atau ketakutan kepada apa yang tidak diketahuinya, bahwa itu akan datang pada sisa-sisa umurnya. Atau ketakutan tersegeranya siksaan di dunia dan tersiarntasebelum mati. Atau ketakutan tertipu dengan keelokan-keclokan dunia. Atau kctakutan dilihat oleh Allah Ta'ala atas rahasianya pada kc-adaan kelalaiannya. Atau ketakutan kepada kcsudahannya ketika mati. dengan kesudahan yang buruk (su-ul-khatimah). Atau ketakutan kepada yang mendahului baginya, yang telah dahulu pada azali.

Maka ini semuanya adalah tempat takutnya orang-orang 'arifin. Dan bagi setiap sesuatu itu mempunyai faedah khusus, Yaitu: menempuh jalan berhati-hati, dari apa yang membawa kepada yang menakutkannya.

Maka siapa yang takut dikuasai oleh adat-kebiasaan, maka hendaklah ia membiasakan berpisah dari adat-kebiasaan. Dan orang yang takut dilihat oleh Allah Ta'ala akan rahasia batinnya itu, hendaknya bekerja mcnsucikan hatinya daripada waswas (bisikan setan). Dan bagitulah pada bahagian-bahagian yang lain.

Yang lebih keras segala ketakutan ini atas keyakinan, ialah: ketakutan buruk kesudahan (su-ul-khatimah). Sesungguhnya urusan padanya itu amat membahayakan. Yang paling tinggi dan yang paling menunjukkan dari bahagian-bahagian itu kepada kesempurnaan ma'rifah, ialah': ketakutan bagi yang mendahului. Karena yang menyudahi (al-khatimah) itu mengikuti akan yang mendahului (as-sabiqah), Dan cabang yang bercabang dari yang mendahului itu diselang-selangi ban yak sebab. Maka a/-kharimah itu menampakkan apa yang telah terdahulu qadha’ (ketetapan Tuhan) dalam ummul-kitab (luh-mahfudh). Dan orang yang takut kepada al-khatimah, dikaitkan kepada orang yang takut kepada as-sabiqah. adalah seperti dua orang laki-laki, yang telah ditanda-tangani oleh raja terhadap dirinya. Mungkin bahwa pada tanda-tangan Itu dipotong Iehernya dan mungkin bahwa diserahkan kementerian kepadanya Dan tanda tangan ilU belum sampai kepada keduanya kemudian. Maka terikatlah hati salah seorang daripada keduanya. dengan keadaan sampainya dan tersiarnya tanda tangan itu. Dan sesllngguhnya apa yang akan lahir? Dan yang seorang lagi, hatinya terikat dengan keadaan tanda tangan raja dan caranya. Dan apa yang terguris bagi raja, pada keadaan tanda tangan itu, belas kasihan atau kemarahan. Dan ini adalah penolehan kepada sebab. Maka itu adalah lebih tinggi daripada penolehan kepada apa, yang menjadi cabang.

Maka seperti demikianlah penolehan kepada ketetapan azali yang berlaku dengan ditanda-tanganinya AI-Qalam (pada Luh-mahfudh) itu lebih tinggi daripada penolehan kepada apa yang lahir pada yang abadi. Dan kepada itulah, diisyaratkan oleh Nabi s.a.w., di mana beliau berada di atas mimbar. Lalu beliau menggenggam tapak tangannya yang kanan. Kemudian, beliau bersabda: "Ini Kitab Allah yang dituliskan padanya akan penduduk sorga dengan nama-nama mereka dan nama-nama bapak mereka. Tidak ditambahkan pada mereka dan tidak dikurangkan".

Kemudian, beliau menggenggamkan tapak tangannya yang kiri dan bersabda: "Ini Kitab Allah, yang dituliskan padanya akan penduduk neraka, dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka. Tidak ditambahkan pada mereka dan tidak dikurangkan. Dan hendaklah diperbuat oleh orang yang memperoleh kebahagiaan, dengan perbuatan orang yang memperoleh kecelakaan. Sehingga dikatakan, seakan-akan orang yang memperoleh kebahagiaan itu adalah dari orang-orang yang memperoleh keeelakaan. Bahkan mereka (orang-orang yang memperoleh kebahagiaan) itu, adalah mereka (orang-orang yang memperoleh keeclakaan). Kemudian, mereka itu dilepaskan oleh Allah, scbelum mati. walau pun lamanya, selama istirahat di antara dua kali perahan susu unta. (I). Dan hendaklah diperbuat oleh orang yang memperoleh kecelakaan, dengan perbuatan orang yang memperoleh kebahagiaan. Sehingga dikatakan, scakan-akan orang yang mernperoleh keeelakaan itu adalah dari orang-orang yang memperoleh kcbahagiaan. Bahkan rnercka (orang-orang yang rnempcroleh keeelakaan) itu, adalah rncreka (orang-orang yang mcmpcroleh kebahagiaan). Kemudian, mereka dikelliarkan oleh Allah sebelum mati, walau pun lamanya, selama istirahat di antara dua kali perahan susu unta. Orang yang berbahagia, ialah orang yang berbahagia dengan qadha’ (ketetapan) Allah. Dan orang yang celaka, ialah orang yang celaka dengan qadha’ Allah. Dan semua amal-perbuatan itu dipandang kepada kesudahan (alkhatimah)nya". (2).

Dan ini adalah seperti terbaginya orang-orang yang takut, kepada: orang yang takut akan perbuatan maksiatnya dan penganiayaannya. Dan kepada: orang yang takut akan Allah Ta'ala sendiri, karena sifatNY A dan ke-AgunganNYA. Dan sifat-sifatNYA - sudah pasti - yang menghendaki akan ketakutan dari hambaNYA.

Maka inilah tingkat yang tertinggi. Dan karena itulah, berkekalan takut kepadaNYA, walau pun adanya pada ketha'atan orang-orang shiddiqin.

(I) Maksudnya: lama masanya sebelum ia mali selama masa di anlara dua kali perahan susu. Berapakah lamanya masa dari masa perahan kesatu kepada lainnya. (Peny.)

(2) Dirawikan AI-Tirmidzi dari Abdullah bin 'Amir bin AI-‘Ash. hasan gharib.

 

Adapun yang lain (takut kepada perbuatan maksiat), maka takut itu dalam halaman keterpedayaan dan keamanan, jika ia rajin mengerjakan amalan tha’at. Maka takut dari perbuatan maksiat itu takut orang-orang shalih. Dan takut kepada Allah itu takllt orang-orang yang bertauhid (almuwalthidin) dan orang-orang shiddiqin. Dan itu adalah buah ma'rifah kepada Allah Ta 'ala.

Setiap orang yang mengenal Allah dan mengenal sifat-sifatNYA, niscaya ia tahu dari sifat-sifatNY A, akan apa yang layak untuk ditakutkan, tanpa penganiayaan kepada diri. Bahkan orang yang berbuat maksiat, jikalau ia henar-hcnar mcngenal Allah, niscaya ia takut kepada Allah, Dan ia tidak takut akan perhuatan maksiat kepadaNYA. Jikalau tidaklah DIA itu mempertakutkan kepada diriNYA. niscaya tidak dijadikanNYA akan hambaNYA berbuat maksiat. DipermudahkanNYA jalan maksiat kepada hamha itu. DisediakanNYA sebab-sebab maksiat. Maka sesungguhnya pemudahan sehab-schah maksiat itu penjauhan daripadaNYA. Dan tidak terdahulu daripada sebelum maksiat itu, akan suatu kemaksiatan, yang berhak untllk dipermudahkan hagi kemaksiatan. Dan berlaku atasnya sebab-sebab maksiat. Dan tiada terdahulu sebelum amal tha'at itu, jalan, yang menjadi jalan dengan tha'at itu hagi orang. yang akan memudahkan bagiNYA ketha'atan. Dan menyediakan haginya jalan kedekatan kepada Allah Ta’ala. Maka orang yang maksiat itu telah ditakdirkan qadha’ Tuhan atas dirinya ia mau atau tidak. Dan begitu pula orang yang mengerjakan tha’at.

Maka yang mengangkatkan Muhammad s.a.w. ke tingkat yang paling tinggi (a 'Ia- 'illiyyin). tanpa jalan perantaraan (wasilah l. yang mendahului daripadanya, sebelum adanya dan yang merendahkan Abu Jahal pada tingkat yang paling rendah, tanpa penganiayaan yang mendahului daripadanya, sehelum adanya itu, layak untuk ditakutkan kepadaNYA, karena sifat keagunganNYA. Maka sesungguhnya siapa yang mentha'ati Allah. niscaya ia mentha'ati, dengan berkuasa ke atas dirinya iradah (kehendak) tha 'at. Dan IA mendatangkan kepadanya akan kesanggupan (qudrah). Dan sesudah penciptaan iradah (kehendak) yang mantap dan qudrah (kesanggupan) yang sempurna. niscaya jadilah perbuatan itu mudah. Dan orang yang berbuat maksiat itu berbuat maksiat. karena telah dikerasi atas dirinya. kehendak yang kuat dan mantap. Dan didatangkan kepadanya sebab-sebab  dan kemampuan. Maka adalah perbuatan, sesudah iradah dan qudrah itu mudah. Maka demi kiranya, apakah yang mengharuskan pemuliaan ini dan peng-khusus-an-nya, dengan penguasaan kehendak tha 'at atas dirinya? Dan apakah yang mengharuskan penghinaan akan yang lain dan pen-jauhannya, disebabkan dengan penguasaan pengajak-pengajak kemaksiat-an ke atas dirinya? Dan bagaimana diperlakukan yang demikian atas hamba? Dan apabila perlakuan itu kembali keqadha-azali, tanpa peng-aniayaan dan wasilah, maka ketakutan kepada Yang Meng-qadha’kan dengan apa kehendakNYA dan menghukum dengan apa kemauanNYA itu, adalah suatu kekokohan pikiran pada setiap orang yang berakal. Dan di sebalik arti ini adalah rahasia qadar (taqdir), yang tidak diperbolehkan pe-nyiarannya.

Dan tidak mungkin memahami takut itu mengenai sifat-sifat Allah Jalla Jalaluh, selain dengan contoh. Jikalau tidaklah keizinan syara', niscaya tidaklah berani orang yang mempunyai mata-hati menyebutkannya. Se-sungguhnya telah datang pada hadits, bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi Dawud a.s.: "Hai Dawud! Takutlah kepadaKU, se-bagaimana engkau takut kepada binatang buas, yang ganas". (1). Contoh ini, memberi pemahaman kepada engkau, akan hasil pengertiannya. Walaupun tidak memberi pengertian kepada engkau akan sebabnya. Sesungguhnya pengertian atas sebabnya itu adalah pengertian akan rahasia qadar (taqdir). Dan tidak tersingkap yang demikian, selain bagi ahlinya. Walhasil, bahwa binatang buas itu ditakuti, tidak karena penganiayaan yang telah mendahului kepada engkau daripadanya. Akan tetapi, karena sifatnya, serangannya, kekerasannya, kesombongannya dan kehebatannya. Dan karena ia berbuat, akan apa yang diperbuatnya. Dan ia tidak ambil pusing. Jikalau ia membunuh engkau, niscaya hatinya tidak menaruh kasihan. Dan ia tidak merasa pedih, dengan membunuh engkau itu. Dan jikalau ia melepaskan engkau, maka tidak dilepaskannya engkau karena kasih sayang kepada engkau. Dan karena mengekalkan nyawa engkau. Akan engkau pada sisi binatang buas itu lebih keji, daripada ia menoleh kepada engkau. Hidup engkau atau mati. Bahkan, pembinasaan seribu orang seperti engkau dan pembinasaan seekor semut pada binatang buas itu, adalah sama saja. Karena tidak mencederakan yang demikian itu pada alam kebuasannya dan apa yang ia disifatkan, dari kemampuan dan kekerasannya.

Dan bagi Allah itu contoh yang tertinggi (al-matsa-Iul-a'-Iaa). Akan tetapi, siapa yang mengenal akan Allah, niscaya ia mengenal dengan penyaksian batiniyah, yang lebih kuat,lebih terpercaya dan yang lebih jelas, daripada penyaksian zahiriyah. Sesungguhnya IA Maha Benar pada firmanNYA:

"Mereka itu ke sorga dan AKU tiada perdulikan. Dan mereka itu ke neraka dan AKU tiada perdulikan".

Dan memadailah bagi engkau, daripada yang mengwajibkan kehebatan dan ketakutan, ialah: ma'rifah, dengan al-istigh-na' (Allah tidak memerlukan kepada makhluk) dan tidak memperdulikan.

(I) Menurut AI-Iraqi. beliau tidak pernah menjumpai hadits ini

 

TlNGKAT KEDUA dari orang-orang yang takut, ialah. bahwa: ia mencontohkan pada dirinya, akan apa yang tidak disukai. Dan yang demikian itu, seperti: sakaratul-maut dan kesangatannya. Atau pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Atau azab kubur. Atau huru-hara hari kebangkitan dari kubur. Atau kehebatan tempat perhentian di hadapan Allah Ta’ala, malu terbuka yang tertutup, pertanyaan di tempat perhentian itu dari hal yang sedikit dan yang halus. Atau takut dan titian (ash-shiratul-mustaqim), ketajamannya dan bagaimana melaluinya. Atau takut dari neraka, belenggunya dan ke-huru-hara-annya. Atau takut dari tidak memperoleh sorga negeri kenikmatan dan kerajaan tempat tinggal dan dari kekurangan tingkat-tingkatnya. Atau takut dari terdinding (terhijab) dari Allah Ta'ala. Semua sebab-sebab tersebut itu tidak disukai pada sebab-sebab itu sendiri. Maka dia itu - sudah pasti - menakutkan. Dan berbeda hal-keadaan orang-orang yang takut padanya. Dan tingkat yang paling tinggi dari sebab-sebab takut itu, ialah: takut terpisah dan terhijab daripada Allah Ta'ala. Yaitu: takut orang-orang ‘arifin. Dan sebelumnya itu, ialah: takut orang-orang yang berbuat amal ('amilin), orang-orang shalih, orang-orang zahid dan alam selengkapnya. Dan siapa yang tidak sempurna ma'rifahnya dan tidak terbuka mata-hatinya, niscaya ia tidak merasakan kelazatan hubungan (dengan Allah Ta'ala). Dan tidak merasakan kepedihan jauh dan berpisah. Dan apabila disebutkan kepada orang tadi, bahwa orang yang berma'rifah itu (orang 'arifin), tidak takut kepada neraka dan yang ia takut sesungguhnya, hijab (terdinding), niscaya orang tadi mendapatkan yang demikian itu pada batinnya melawan. Dan ia merasa heran yang demikian pada dirinya. Kadang-kadang ia ingkari akan kelazatan memandang kepada Wajah Allah Yang Maha Pemurah. Dan jikalau tidaklah ia dilarang Agama mengingkarinya, maka adalah pengakuannya dengan lidah itu dari karena paksaan taklid (ikut-ikutan). Kalau tidak, maka batinnya tidak membenarkannya. Karena ia tidak mengenal, selain kelazatan perut, kemaluan dan mata. dengan memandang kepada warna-warni dan muka-muka yang cantik.

Kesimpulannya, bahwa setiap kelazatan itu berkongsi padanya binatang-binatang. Adapun kelazatan orang-orang 'arifin, maka tidak didapati, selain oleh mereka. Penguraian dan pembentangan yang demikian itu tidak diperbolehkan kepada orang yang bukan ahlinya. Dan orang yang menjadi ahlinya, ia dapat melihat sendiri dan tidak memerlukan diuraikan oleh orang lain.

Maka kepada bahagian-bahagian inilah, kembalinya ketakutan orang-orang yang takut. Kita bermohon kepada Allah Ta'ala akan baiknya taufiq dengan kemurahanNYA.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”