Print
PDF

PENJELASAN: Tingkat-tingkat takut dan perbedaannya tentang kuat dan lemahnya

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: tingkat-tingkat takut dan perbedaannya tentang kuat dan lemahnya.

Ketahuilah kiranya, bahwa takut itu terpuji. Kadang-kadang disangka orang, bahwa setiap apa yang dinamakan takut itu: terpuji. Maka setiap apa yang ada lebih kuat dan lebih banyak, nescaya adalah: lebih terpuji. Dan itu salah. Akan tetapi, takut itu cemeti Allah, yang dengan cemeti ini dibawaNYA hamba-hambaNYA kepada kerajinan kepada ilmu dan amaI. Supaya mereka mencapai dengan ilmu dan amal itu tingkat kedekatan dengan Allah Ta'ala.

Dan yang lebih baik bagi binatang ternak, bahwa ia tiada terlepas dari cemeti. Dan demikian juga anak kecil. (1). Akan tetapi, yang demikian itu tidak menunjukkan, bahwa bersangatan pada pemukulan itu terpuji. Demikian juga, takut itu mempunyai kesingkatan, mempunyai kesangatan dan mempunyai kesedangan. Dan yang terpuji, ialah: kesedangan dan pertengahan.

Adapun yang singkat dari ketakutan itu, maka ialah yang berlaku sebagai berlakunya kehalusan wanita, yang mana ketakutan itu terguris di hati, ketika mendengar suatu ayat dari AI-Quran. Lalu mendatangkan tangisan dan meneteskan air mata. Dan seperti yang demikian juga, ketika menyaksikan suatu sebab yang menggemparkan. Maka apabila sebab tersebut lenyap dari perasaan, nescaya kembalilah hati kepada kelupaan.

Maka inilah ketakutan yang singkat, yang sedikit faedahnya, yang lemah manfaatnya. Dan itu adalah seperti ranting yang kedl, yang dipukul binatang kenderaan yang kuat, dengan ranting itu. Yang tidak menyakitkannya dengan kesakitan yang menyakitkan. Lalu dapat membawakannya kepada yang dimaksud. Dan tiada baik bagi latihannya.

(1) Cara yang demikian terpakai dahulu. Tapi sekarang, tentu yang bersesuaian dengan zamannya. zaman metodik pendidikan modem. (Peny.)

Begitulah takutnya semua manusia, selain orang-orang 'arifin (yang ber-ma'rifah) dan para ulama. Dan tidaklah aku maksudkan dengan ulama itu, orang-orang rasmi, dengan kerasmian ulama dan yang dinamakan dengan nama ulama. Maka sesungguhnya mereka itu adalah manusia yang terjauh dari ketakutan. Akan tetapi, yang aku maksudkan, ialah: para ulama pada jalan Allah, mengetahui hari-hariNYA dan af’alNYA. Dan yang demikian itu, sesungguhnya sukar didapati sekarang. Dan karena itulah, AI-Fudlail bin 'Iyadl berkata: "Apabila ditanyakan kepada engkau: "Adakah engkau takut kepada Allah?", maka diamlah! Maka sesungguhnya jikalau engkau menjawab: tidak, nescaya engkau kufur. Dan jikalau engkau menjawab: ya, nescaya engkau dusta".

Beliau mengisyaratkan dengan yang demikian, bahwa takut, ialah yang mencegah anggota-anggota badan dari perbuatan-perbuatan maksiat. Dan mengikatkannya dengan amalan-amalan tha'at. Dan apa yang tidak membekaskan pada anggota badan, maka itu kata hati dan gerakan gurisan di hati. Tidak berhak untuk dinamakan: takut.

Adapun yang bersangatan, maka yaitu: yang kuat dan melampaui batas kesedangan. Sehingga ia keluar kepada putus asa dan hilang harapan. Dan itu tercela pula. Karena ia mencegah dari amal.

Kadang-kadang takut itu keluar pula kepada kesakitan dan kelemahan. Kepada kebimbangan, keheranan dan kehilangan akal'

Maka yang dimaksudkan dari takut, ialah: apa yang dimaksudkan dari cemeti. Yaitu: membawa kepada amal-perbuatan. Dan jikalau tidak membawa yang demikian, nescaya tidaklah takut itu sempurna. Karena dia itu kurang dengan hakikatnya. Karena tempat terjadinya itu kebodohan dan kelemahan.

Adapun kebodohan, maka ia tidak tahu akan akibat pekerjaannya. Jikalau ia tahu, nescaya ia tidak takut. Karena yang menakutkannya, ialah: yang diragukan padanya.

Adapun kelemahan, maka yaitu ia mendatangkan kepada yang ditakuti, yang tidak sanggup ia menolaknya. Jadi, takut itu terpuji, dengan dikaitkan kepada kekurangan anak Adam (manusia). Dan yang terpuji pada dirinya dan zatnya, ialah: ilmu, qudrah (kemampuan) dan setiap apa yang boleh disifatkan Allah Ta'ala dengan dia.

Dan yang tidak boleh disifatkan Allah Ta'ala dengan dia, maka tidak dia itu sempurna pada zatnya. Dan sesungguhnya jadi ia terpuji, dengan dikaitkan kepada kekurangan, yang lebih besar daripadanya. Sebagaimana adanya penanggungan kepedihan obat itu terpuji. Karena dia itu lebih ringan dari kepedihan sakit dan mati. Maka apa yang keluar kepada ke-putus-asa-an, maka itu tercela.

Kadang-kadang takut itu keluar pula kepada kesakitan dan kelemahan. Kepada kebimbangan, kehetanan dan kehilangan aka!' Kadang-kadang ia keluar kepada mati. Dan setiap yang demikian itu tercela. Dan itu adalah seperti pukulan, yang membunuh anak kecil. Dan cemeti yang membinasakan binatang kenderaan atau menyakitkannya. Atau memecahkan salah satu anggota tubuhnya.

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah menyebutkan sebab-sebab harapan dan kebanyakan daripadanya, supaya dapat mengobatkan serangan takut yang bersangatan, yang membawa kepada ke-putus-asa-an atau salah satu dari hal-hal itu.

Maka setiap apa yang dimaksudkan karena sesuatu hal, maka yang terpuji daripadanya, ialah: apa yang membawakan kepada yang dikehendaki dan yang dimaksudkan daripadanya. Dan apa yang menyingkatkan dari yang demikian atau melampauinya, maka itu tercela.

Faedah takut, ialah: hati-hati, taqwa, mujahadah, ibadah, fikir, dzikir dan sebab-sebab yang lain, yang menyampaikan kepada Allah Ta'ala. Dan setiap yang demikian, membawa kehidupan serta kesehatan badan dan kesejahteraan akal. Maka setiap apa yang mencederakan pada sebab-sebab tersebut, maka itu tercela.

Maka jikalau anda mengatakan: siapa yang takut, lalu ia mati dari ketakutannya, maka orang itu syahid. Maka bagaimana ada keadaannya itu tercela?

Maka ketahuilah, bahwa arti adanya ia syahid, ialah, bahwa: ia mempunyai tingkat, disebabkan kematiannya dari ketakutan. Ia tidak akan mencapai tingkat itu, jikalau ia mati pada waktu itu. tidak disebabkan ketakutan. Maka itu dikaitkan kepada yang demikian, adalah keutamaan. Adapun dengan dikaitkan kepada ditakdirkan masih adanya dan panjang umurnya pada mentha'ati Allah dan menempuh jalan-jalanNYA, maka tidaklah itu keutamaan. Bahkan, bagi orang yang berjalan kepada Allah Ta'ala dengan jalan fikir (tafakkur), mujahadah dan mendaki pada tingkat-tingkat ma'rifah, pada setiap detik itu, mempunyai pangkat syahid dan syuhada'. Dan jikalau tidaklah ini, nescaya adalah pangkat anak kecil yang terbunuh atau orang gila yang diterkam binatang buas itu, lebih tinggi dari pangkat nabi atau wali yang meninggal begitu saja. Dan itu adalah mustahil. Maka tiada sayogialah disangkakan itu. Akan tetapi, kebahagiaan yang paling utama, ialah panjang umur pada mentha'ati Allah Ta'ala. Maka setiap apa yang merosakkan umur atau akal atau kesehatan, yang menjadi kosong umur dengan pengrosakan itu, maka itu kerugian dan kekurangan, dengan dikaitkan kepada beberapa hal. Walau pun ada setengah bahagiannya itu keutamaan, dengan dikaitkan kepada hal-hal yang lain. Seperti naik saksi itu suatu keutamaan, dengan dikaitkan kepada yang kurang daripadanya. Tidak, dengan dikaitkan kepada darajat orang-orang muttaqin dan shiddiqin.

Jadi, takut itu, jikalau tiada membekaskan pada amal, maka adanya itu seperti tidak adanya. Seperti cemeti yang tidak menambahkan pada gerak-oya binatang kenderaan. Dan jikalau membekas, maka baginya tingkat-tingkat menurut lahirnya keberkasannya.

Jikalau takut itu tidak membawa, selain kepada 'iffah, yaitu: mencegah daripada yang dikehendaki nafsu-syahwat, maka ia mempunyai tingkat. Maka apabila wara' itu berbuah, nescaya itu lebih tinggi. Dan yang terjauh tingkatnya, ialah, bahwa membuahkan tingkat-tingkat orang shiddiqin. Yaitu, bahwa: tercabut zahir dan batin daripada selain Allah Ta'ala. Sehingga, tiada tinggal bagi selain Allah Ta'ala, kelapangan padanya. Maka inilah yang terjauh (tingkat yang tertinggi) apa yang terpuji daripadanya. Dan yang demikian itu serta tetapnya sehat dan akal.

 

Maka jikalau ini melampaui kepada hilangnya akal dan kesehatan, maka itu penyakit yang harus diobati, jikalau ia mampu. Dan jikalau itu terpuji, nescaya tidak wajib mengobatinya dengan sebab-sebab harapan dan lain-nya. Sehingga hilang.

 

Dan karena itulah, Sahl r.a. mengatakan kepada murid-murid yang selalu melaparkan diri pada hari-hari yang banyak jumlahnya: "Jagalah akal-pikiranmu! Sesungguhnya Allah Ta'ala tiada mempunyai wali, yang kurang akal"

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”