Print
PDF

PENJELASAN: hakikat takut

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: PENJELASAN: hakikat takut

BAHAGIAN KE DUA: dari Kitab: tentang takut.

Pada bahagian ini: penjelasan hakikat takut, penjelasan tingkat-tingkatnya, penjelasan berbagai macam ketakutan, penjelasan keutamaan takut, penjelasan yang terutama dari takut dan harap, penjelasan obat takut, penjelasan erti buruk kesudahan (su-ul-khatimah) dan penjelasan hal ehwal nabi-nabi a.s. yang takut dan orang-orang shalih-kiranya rahmat Allah kepada mereka.  Kita bermohon kepada Allah akan kebaikan taufiq.

PENJELASAN: hakikat takut.

Ketahuilah kiranya, bahwa takut itu ibarat dari kepedihan dan kebakaran hati, disebabkan terjadinya yang tidak disukai pada masa depan. Dan telah jelas ini pada: penjelasan hakikat harap. Orang yang jinak hatinya kepada Allah, kebenaran memiliki hatinya dan ia menjadi putera zamannya, yang menyaksikan keelokan kebenaran secara terus-menerus, nescaya tidak ada baginya penolehan kepada masa depan. Maka tidak ada baginya takut dan harap. Akan tetapi, jadilah keadaannya lebih tinggi dari takut dan harap. Maka sesungguhnya takut dan harap itu dua kekang yang mencegah diri dari keluar kepada ketetapan keadaannya. Dan kepada inilah, diisyaratkan oleh AI-Wasithi, di mana ia berkata: "Takut itu dinding (hijab) di antara Allah dan hamba".

AI-Wasithi mengatakan pula: "Apabila lahirlah kebenaran kepada rahasia, nescaya

tidak ada lagi padanya keutamaan bagi harap dan takut". Kesimpulannya, bahwa orang yang mencintai, apabila hatinya sibuk menyaksikan yang dicintainya, dengan takut berpisah, nescaya adalah yang demikian itu kekurangan pada penyaksian kepada Allah. Dan sesungguhnya keterus-menerusan penyaksian itu maqam (tingkat) yang penghabisan. Akan tetapi, kita sekarang akan memperkatakan, mengenai tingkat permulaan (awa-ilul-maqamat). Maka kami katakan: bahwa hal-ehwal takut itu teratur juga dari: ilmu, hat keadaan dan amal.

Adapun ilmu, maka ilmu dengan sebab yang membawa kepada yang tiada disukai. Dan yang demikian itu, seperti: orang yang berbuat aniaya atas raja. Kemudian, ia jatuh dalam tangan raja. Maka ia takut akan pembunuhan umpamanya. Dan memungkinkan juga kema'afan dan kelepasan. Akan tetapi, adalah kepedihan hatinya, disebabkan takut, menurut kekuatan pengetahuannya dengan sebab-sebab yang membawa kepada pem-bunuhannya. Dan itu kekejian penganiayaannya. Dan keadaan raja itu dengki pada dirinya, marah dan pembalas dendam. Dan keadaan dirinya dikelilingi, dengan orang yang membangkitkan kepada pembalasan dendam. Kosong dari orang yang memberi bantuan kepada pihaknya. Dan adalah orang yang takut ini kosong dari setiap jalan dan kebaikan, yang menghapuskan bekas penganiayaannya pada raja.

Maka mengetahui dengan jelasnya sebab-sebab itu adalah sebab kuatnya ketakutan dan sangatnya kepedihan hati. Dan menurut lemahnya sebab-sebab itu melemahkan takut. Dan kadang-kadang adalah takut itu, tidak dari sebab penganiayaan yang diperbuat oleh orang yang takut. Akan tetapi, dari sifat pihak yang menakutkan. Seperti orang yang jatuh dalam cengkeraman binatang buas. Maka dia itu takut, kerana sifat binatang buas. Yaitu: lobanya dan ganasnya - biasanya - atas mangsanya. Walaupun mangsanya itu dengan pilihannya.

Kadang-kadang adalah takut itu, dari sifat tabiat bagi yang ditakuti. Seperti takutnya orang yang jatuh dalam aliran banjir atau dekat benda yang terbakar. Maka sesungguhnya air itu ditakuti, kerana menurut tabiatnya mcmbawa kepada mengalir dan tenggelam. Dan begitu pula api, kepada membakar. Maka ilmu dengan sebab-sebab yang tidak disukai itu, menjadi sebab yang menggerakkan, yang membangkitkan kepada terbakarnya hati dan merasa kepedihan.

Dan kebakaran itu, ialah: takut.

Maka seperti itu pula takut kepada Allah Ta'ala. Sekali adalah kerana ma'rifah kepada Allah Ta'ala dan ma'rifah sifat-sifatNYA. Dan jikalau Allah membinasakan alam semesta, nescaya ia tiada memperdulikan dan tiada pencegah: yang mencegahkan. Dan sekali adalah takut itu, kerana banyaknya penganiayaan hamba, dengan mengerjakan perbuatan-perbuat-an maksiat. Dan menurut tahunya akan kekurangan dirinya dan ma'rifahnya akan keagungan Allah Ta'ala dan Allah tidak memerlukan kepadanya. Dan sesungguhnya Allah tidak ditanyakan dari apa yang diperbuatNYA dan mereka itu ditanyakan. Dan adalah ma'rifah itu di atas ketakutannya.

Maka manusia yang paling takut kepada Tuhannya, ialah mereka yang lebih mengenal akan dirinya dan Tuhannya. Dan kerana itulah Nabi s.a.w. bersabda:-

 

Ertinya: "Aku yang lebih takut kepada Allah daripada kamu": (I)

Demikian pula, Allah Ta'ala berfirman:-

 

Ertinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNYA, ialah: orang-orang yang berilmu (ulama)". S. Fathir, ayat 28, Kemudian, apabila ma'rifah telah sempurna, nescaya mengwariskan keagungan takut dan terbakarnya hati. Kemudian, melimpahkan bekas kebakaran dari hati kepada badan, kepada anggota-anggota badan dan kepada sifat-sifat.

(1) Dirawikan AI-Bukhari dari Anas.

Adapun pada badan, maka dengan kurus, kuning warna, pingsan, jeritan dan tangisan. Dan kadang-kadang terhisap kepahitan, lalu membawa kepada mati. Atau naik ke otak, lalu merosakkan akal. Atau menguat, lalu mengwarisi patah hati dan putus asa.

Adapun pada anggota-anggota badan, maka dengan mencegahkannya dari perbuatan-perbuatan maksiat dan mengikatkannya dengan amalan tha'at, untuk mendapatkan bagi yang telah telanjur dan menyiapkan bagi masa mendatang.

Dan kerana itulah, dikatakan: tidaklah orang yang takut itu orang yang menangis dan menyapu dua matanya. Akan tetapi, orang yang meninggalkan apa yang ia takutkan, bahwa ia akan disiksa dengan perbuatan itu. Abdul-Qasim AI-Hakim berkata: "Siapa yang takut akan sesuatu, nescaya ia lari daripadanya. Dan siapa yang takut akan Allah, nescaya ia lari ke-pada Allah".

Ditanyakan kepada Dzin-Nun: "Kapan hamba itu takut?"

Dzin-Nun menjawab: "Apabila ia menempatkan dirinya pada tempat orang yang sakit yang menjaga diri, kerana takut berkepanjangan sakit", Adapun pada sifat-sifat, maka dengan mencegah dari nafsu-syahwat dan mengeruhkan segala kesenangan. Lalu perbuatan-perbuatan maksiat yang disukai itu, menjadi tidak disukainya. Sebagaimana air madu menjadi tidak disukai, pada orang yang mengingininya, apabila ia tahu, bahwa pada air madu itu ada racun. Maka terbakarlah nafsu-syahwat dengan takut, Dan menjadi beradablah semua anggota badan. Dan berhasillah dalam hati itu kelayuan, ke-khusu'-an, kehinaan diri dan ketenangan. Dan berpisahlah dengan dia, kesombongan, kebusukan hati dan kedengkian. Akan tetapi, jadilah dia yang melengkapi kesusahan hati, dengan takutnya dan perhatian pada bahaya akibatnya.

Maka ia tidak mengosongkan waktunya bagi yang lain. Dan tiada baginya kesibukan selain: muraqabah (mengintip kekurangan diri), muhasabah (memperhitungkan amal perbuatan sendiri), mujahadah,kikir dengan nafas dan perhatian, penyiksaan diri dengan segala gurisan, langkah dan kata-kata. Dan adalah keadaannya itu keadaan orang yang jatuh dalam cengkeraman binatang buas, yang mendatangkan melarat, Ia tidak tahu, bahwa binatang buas itu akan lengah daripadanya, lalu ia terlepas. Atau binatang buas itu menyerangnya, lalu ia binasa. Maka adalah zahiriyahnya dan batiniyahnya sibuk dengan apa yang ia takutkan. Tiada peluang padanya untuk yang lain.

Inilah keadaan orang, yang dikerasi oleh ketakutan dan yang menguasainya, Dan begitulah keadaan sekumpulan dari para shahabat dan orang-orang tabi'in. Dan kuatnya muraqabah, muhasabah dan mujahadah itu, menurut kuatnya takut yang menjadi kepedihan dan terbakarnya hati. Dan kuatnya takut itu, menurut kuatnya ma'rifah dengan keagungan Allah, sifat-sifatNYA dan af’alNYA. Dan mengetahui dengan kekurangan diri dan apa yang dihadapinya, dari marabahaya dan huru-hara. Dan yang paling sedikit dari darjat takut, dari apa yang menampak bekasnya pada amal-perbuatan, ialah, bahwa mencegah dari perbuatan-perbuatan yang terlarang. Dan dinamakan cegahan yang berhasil dari perbuatan-perbuatan terlarang itu: wara'.

Maka jikalau bertambah kuatnya, nescaya ia mencegah daripada apa yang berjalan kepadanya, kemungkinan melakukan yang diharamkan. Maka bagaimana pula, daripada apa yang tidak diyakini pengharamannya. Dan dinamakan yang demikian itu: taqwa . Kerana taqwa, ialah, bahwa: ditinggalkan apa yang meragukannya, kepada apa yang tidak meragukannya. Dan kadang-kadang membawanya, kepada meninggalkan apa yang tiada mengapa padanya. Kerana takut akan apa, yang ada padanya apa-apa. Dan itulah: kebenaran pada taqwa.

Maka apabila bercampur kepadanya ke-semata-mata-an kepada pelayanan, maka jadilah ia tidak membangun akan apa yang tiada akan ditempatinya. Dan ia tidak mengumpulkan, apa yang tiada akan dimakannya. Dan ia tidak berpaling kepada dunia, yang diketahuinya, bahwa dunia itu akan bercerai dengan dia. Dan ia tidak menyerahkan suatu nafaspun dari nafas-nafasnya. kepada selain Allah Ta'ala. Maka itulah: kebenaran. Dan yang mempunyai sifat ini, pantaslah dinamakan: shiddiq. Dan masuk dalam kebenaran ini: taqwa. Dan masuk dalam taqwa itu: wara'. Dan masuk dalam wara' itu: 'iffah (terpelihara diri dari segala yang tidak baik). Maka 'iffah itu ibarat, daripada mencegah diri dari yang dikehendaki nafsu-syahwat khususnya.

Jadi, takut itu membekas pada seluruh anggota badan, dengan pencegahan dan penampilan. Dan terus membaru baginya, dengan sebab pencegahan itu: nama 'iffah. Yaitu: pencegahan dari kehendak nafsy-syahwat. Dan yang paling tinggi daripadanya, ialah: wara'. Maka wara' itu lebih umum, kerana ia mencegah dari setiap yang dilarang. Dan yang lebih tinggi daripadanya, ialah: taqwa. Maka taqwa itu nama bagi pencegahan dari semua yang dilarang dan subahat. Dan di belakangnya: nama shiddiq dan muqarrab (orang yang dekat dengan Tuhan). Dan berlakulah tingkat yang akhir daripada yang sebelumnya, sebagai berlakunya: yang lebih khusus daripada yang lebih umum. Maka apabila anda menyebutkan yang lebih khusus, maka sesungguhnya anda telah menyebutkan: semua. Sebagaimana anda mengatakan: manusia, adakalanya orang Arab dan adakalanya orang 'Ajam (di luar Arab). Dan orang Arab itu, adakalanya orang Quraisy atau bukan Quraisy. Dan orang Quraisy itu, adakalanya Hasyimi (keturunan Hasyim) atau bukan Hasyimi. Dan Hasyimi itu, adakalanya 'Alawi (keturunan AU) atau bukan 'Alawi. Dan 'Alawi itu adakalanya Hasani (keturunan Hasan) atau Husaini (keturunan Husain).

Maka apabila anda menyebutkan, bahwa dia itu Hasani-umpamanya, maka anda telah menyifatkan dengan: keseluruhan (al-jamU'). Dan jikalau anda menyifatkan, bahwa orang itu: 'Alawi, maka anda telah menyifatkannya, dengan yang di atasnya, dari apa, yang lebih umum lagi. Maka demikian pula, apabila anda mengatakan: shiddiq, maka sesungguhnya, anda sudah mengatakan, bahwa orang itu: taqwa, wara' dan 'iffah. Maka tiada sayogialah bahwa anda menyangka, bahwa kebanyakan nama-nama ini menunjukkan erti-erti yang banyak, yang berlain-lainan. Lalu bercampur-aduk kepada anda, sebagaimana bercampur-aduknya pada orang yang mencari erti dari kata-kata. Dan ia tidak mengikutkan kata-kata itu dengan erti.       .

Maka inilah isyarat kepada kumpulan erti takut dan apa yang meliputinya, dari segi ketinggian, seperti ma'rifah yang mewajibkannya. Dan dari segi kebawahan, seperti amal-perbuatan yang terbit daripadanya, sebagai cegahan dan penampilan.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”