Print
PDF

PENJELASAN: KEUTAMAAN HARAP DAN MENGGALAKKAN PADA HARAP

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4  Penjelasan: KEUTAMAAN HARAP DAN MENGGALAKKAN PADA HARAP

Ketahuilah kiranya, bahwa amal atas Harap itu lebih tinggi daripada atas takut. Karena hamba yang paling dekat kepada Allah Ta 'ala itu yang paling mencintaiNYA. Dan cinta itu dikerasi dengan harap. Ambillah ibarat yang demikian itu dengan dua orang raja. Yang seorang dilayani, karena takut dari siksaannya. Dan yang seorang lagi, karena mengharap dari balasannya. Dan karena itulah datang pada Harap dan haik sangka, beberapa penggalakan. Lebih-Iebih pada waktu mati.

Allah Ta'ala berfirman:-


Artinya: "Janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah'" S. AzZumar, ayat 53.

 

Ia mengharamkan asal putus asa. Dan pada ceritera-ceritera nabi Ya'qub a.s .. bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepadanya: "Tahukah engkau, mengapa AKU ceraikan di antara engkau dan YuSUf") Kerana engkau mengatakan: "Aku takllt hahwa Yusuf itu dimakan serigala dan kamu lengah daripadanya". (1). Mengapakah engkau takut kepada serigala dan engkau tidak mengharap kepadaKU? Dan mengapakah engkau mcmandang kepada kelengahan saudara-saudaranya dan engkall tidak me mandang kepada penjagaanKU baginya'?"

Keterangan:

(1) Sesuai dengan yang tersebut pada S. Yusuf. ayat 13.

Nabi s.a.w. bersabda:-

 

Artinya: "Tiada mati seseorang kamu, melainkan dia itu membaikkan sangka kepada Allah Ta'ala". (1).

Nabi s.a.w. bersabda:-

 

Artinya: "Allah 'Azza wa lalla berfirman: "Sesungguhnya AKU pada sangkaan hambaKU kepadaKU. Maka hendaklah ia menyangkakan kepadaKU apa yang dikehendakinya". (2).

Nabi S.A.W. masuk ke tempat seorang laki-laki yang dalam sakit keras. Lalu beliau bertanya: "Apakah yang kamu dapati pada dirimu?".

Orang itu menjawab: "Aku dapati akan diriku, takut akan dosa-dosaku dan mengharap akan rahmat Tuhanku".

Maka Nabi s.a.w. bersabda:-

 

Artinya: "Keduanya (takut dosa dan harap rahmat) itu tidaklah berkumpul pada hati hamba pada tempat ini, melainkan ia diberikan oleh Allah apa yang diharapnya dan ia diamankan oleh Allah dari apa yang ditakutinya". (3).

Ali r.a. berkata kepada seorang laki-Iaki, yang dibawa oleh ketakutan kepada putus asa, karena banyak dosanya: "Hai orang ini! Ke-putus-asa-anmu dari rahmat Allah itu lebih besar dari dosa-dosamu".

Sufyan berkata: "Barangsiapa berdosa dengan suatu dosa, maka ia tahu, bahwa Allah Ta'ala mentakdirkan dosa itu atas dirinya dan ia mengharap akan ampunanNY A, niscaya Allah mengampunkan dosanya".

Dan Sufyan menyambung lagi: "Karena Allah 'Azza wa Jalla merobahkan suatu kaum”.

Ia berfirman:-

 

Artinya: "Itulah dugaanmu (yang keliru) terhadap Tuhanmu. (Dugaan itu lah) yang memhawa karnu kepada keeelakaan". S. Fush-shilat, ayat 23.

Dan Allah Ta'ala berfirman:-

 

Artinya: "Dan kamu mempunyai sangka-sangka yang kurang baik dan kamu kaum yang hinasa". S. AI-Fath, ayat 12.

(1) Dirawikan Muslim dari Jabir.

(2) Dirawikan Ibnu Hibban dari Watsilah bin AI-Asqa'.

(3) Dirawikan At-Tirmidzi. An-Nasa-i dan Ibnu Majah dari Anas, isnadnya baik.

Dan Nabi s.a.w. bersabda:-

 

Artinya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala herfirman kepada hambaNYA pada hari ki'amat: "Apakah yang melarang kamu. ketika engkau melihat kemungkaran, bahwa engkau menentangnya?" Maka jikalau ia telah diajarkan oleh Allah akan dalilnya (hujjahnya), niscaya ia mengatakan: "Wahai Tuhanku! Aku harap akan ENGKAU dan aku takut kepada manusia". Nabi s.a.w. bersabda: "Maka Allah Ta'ala berfirman: "Telah AKU ampunkan bagi engkau". (1).

Tersebut pada hadits .shahih:-

 

 

Artinya: "Bahwa adalah seorang laki-Iaki melakukan berjual-beli dengan jalan hutang. Maka ia bersikap lapang dada dengan orang kaya dan bersikap melampaui batas dengan orang miskin. Maka ia menjumpai Allah dan tiada sekali-kali beramal kebajikan. Allah 'Azza wa jalla maka berfirman: "Siapakah yang lebih berhak dengan yang demikian daripada Kami?" (2).

Maka Allah mema'afkan daripadanya, karena baik sangkaannya dan harapannya bahwa dima'afkan, serta kemorosotannya pada tha'at.

(I) Dirawikan Ibnu Majah dari Abi Sa'id AI-Khudri. dengan isnad baik.

(2) Dirawikan Muslim dari Abi Mas-'ud. Dan sepakal AI-Bukhari dan Muslim alas hadits ini dari Hudzaifah dan Abu Hurairah.

 

Allah Ta'ala berfirman:-


Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitah Allah. mendirikan shalat dan membelanjakan (di jalan kebaikan) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dengan diam-Jiam dan terang terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak pernah rugi' . S. Fathir, ayat 29.

Tatkala Nabi s.a.w. bersabda:-

 


Artinya: "jikalau tahulah kamu, apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan akan menangis banyak. Dan akan kamu keluar ke tempat yang tinggi. Kamu akan memukul dadamu dan rnerendahkan diri kepada Tuhanmu".

Maka turunlah Jibril a.s. seraya berkata: "Sesungguhnya Tuhanmu mengatakan kepadamu: "Mengapakah engkau mendatangkan ke-putus-asa-an kepada hamba-hambaKU)" Lalu Nabi  s.a.w. keluar menemui mereka dan memberikan harapan kepada mereka. Dan mendatangkan keinginan kepada mereka'. (1).

Tersebut pada hadits: ~'Bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi Dawud a.s.: "Cintailah AKU! Cintailah orang yang mencintai AKU! Dan buatlah AKU mencintai makhlukKU!".

Lalu nabi Dawud a.s. bertanya: "Wahai Tuhanku! Bagaimanakah aku membuat ENGKAU mencintai akan makhluk ENGKAU?".

Allah Ta'ala berfirman: "Sebutkanlah AKU dengan baik dan elok! Sebutkanlah nikmat-nikmatKU dan perbuatan baikKU! Peringatkanlah mereka akan yang demikian! Maka sesungguhnya mereka tiada mengenal daripadaKU. selain yang elok".

Dimimpikan Abban bin Abi 'Ayyasy sesudah ia meninggal. Dan ia semasa hidupnya banyak menyebutkan pintu-pintu harapan. Ia mengatakan kepada orang bermimpi itu: "Allah Ta'ala menyuruh aku berdiri di hadap-anNY A. Maka IA berfirman: "Apakah yang membawa engkau kepada yang demikian?".

Maka aku menjawab: "Aku bermaksud mencintakan ENGKAU kepada  makhluk ENGKAU".

Maka Allah berfirman: "Telah AKU ampunkan dosa engkau". Dimimpikan Yahya bin Ak-tsam sesudah ia meninggal.

Lalu ia ditanyakan: "Apakah yang diperbuat oleh Allah dengan engkau?".

Yahya bin Ak-tsam menjawab: "Allah menyuruh aku berdiri di hadapanNYA. Dan IA berfirman: "Hai syaikh jahat! Engkau telah berbuat itu. Engkau telah berbuat itu!".

Yahya bin Ak-tsam berkata: "Maka menakutkan aku, apa yang diketahui oleh Allah. Kemudian aku berkata: "Wahai Tuhanku! Tidaklah begitu yang aku perkatakan dari hal ENGKAU".

Maka Allah berfirman: "Dan apakah yang engkau perkatakan dari hal AKU?" Lalu aku berkata: "Diberitakan kepadaku oleh Abdurrazzaq, dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Anas, dari Nabi Engkau s.a.w., dari Jibril a.s., bahwa Engkau berfirman: "Bahwa Aku pada sangkaan hambaKU kepadaKU. Maka hendaklah ia menyangka kepadaKU, akan apa yang dikehendakinya!", Dan aku menyangka kepada ENGKAU, bahwa ENGKAU tiada mengazabkan aku".

Maka berfirman Allah 'Azaa wa Jalla: "Benar Jibril. Benar nabiKU. Benar Anas. Benar Az-Zuhri. Benar Ma'mar. Benar Abdurrazzaq, Dan benar engkau".

Yahya bin Ak-tsam berkata: "Lalu aku berpakaian dengan pakaian syurga, Dan berjalan di hadapanku, bidadari ke syurga. Maka aku berkata: "Wahai alangkah gembiranya!",

Tersebut pada hadits, bahwa: seorang laki-laki dari kaum Bani Israil (Yahudi) mendatangkan ke-putus-asa-an kepada manusia dan bersikap keras kepada manusia. Ia berkata: "Maka Allah Ta'ala akan berfirman kepadanya pada hari kiamat: "Pada hari ini, AKU putus-asakan kamu dari rahmatKU, sebagaimana kamu mendatangkan ke-putus-asa-an kepada hamba-hambaKU daripadanya". (2).

Nabi s.a.w. bersabda: "Seorang laki-laki akan masuk neraka. Maka ia akan bertempat di neraka itu seribu tahun. Ia akan memanggil: "Ya Hannan, ya Mannan (Wahai Yang Mahabelas kasihan, wahai Yang Maha Pemberi nikmat)!".

Maka Allah Ta'ala berfirman kepada Jibril: "Pergilah! Maka bawalah kepadaKU akan hambaKU!".

Nabi s,a.w. meneruskan sabdanya: "Maka hamba itu dibawa kepada Allah. Lalu disuruh berdiri di hadapan Tuhannya. Maka Allah Ta'ala berfirman: "Bagaimana engkau mendapati tempat engkau?".

Laki-Iaki itu menjawab: "Tempat yang buruk".

Nabi s.a.w. meneruskan sabdanya: "Maka Allah Ta'ala berfirman: "Kembalikanlah orang ini ke tempatnya semula!".

Nabi s.a.w. meneruskan sabdanya: "Maka laki-laki itu berjalan dan berpaling ke belakangnya. Maka Allah Ta'ala berfirman: "Kemana engkau berpaling?" .

Laki-Iaki itu menjawab: "Sesungguhnya aku berharap, bahwa tidak ENGKAU kembalikan aku kepadanya, sesudah ENGKAU keluarkan aku daripadanya".

Maka Allah Ta'ala berfirman: "Pergilah dengan laki-Iaki ini ke syurga" , Maka ini menunjukkan, bahwa harapnya Yahudi itu yang menjadi sebab kelepasannya.

Kita bermohon kepada Allah akan bagusnya taufiq dengan kasih-sayang dan kemurahanNY A.

(1) Dirawikan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah. Permulaan hadits ini disepakati AI-Bukhari  dan Muslim dari Anas. Dan akhir hadits ini, dari "wa la-kharajtum      sampai akhimya, dirawikan Ahmad dan AI-Hakim.

(2) Dirawikan AI-Baihaqi dari Zaid bin Aslam. Hadits putus sanadnya (maqthu').

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”