DERMA KILAT - JUTAAN TERIMA KASIH

Alhamdulillan... Langganan hosting dan domain telah diperbaharui untuk 2 tahun. islam2u.net hoting plan (16/11/2016 - 15/11/2018). Manakala untuk Domain pula, next due 26/06/2018.

Jumlah yang diperlukan: RM590.00
Jumlah Sumbangan: RM 500.00

Penyumbang:
- Tuan Alfakir Billah
- Hamba Allah
- Infaq atas nama ayahanda (Allahyarham Hj Othman bin Lateh)
- Puan Rahmah
- Infaq ata nama ibunda (Allahyarhamah Arbayah bte bahron)
- Hamba Allah

Jazakumullah Khairan. Semoga Allah jualah yang membalas budi kalian. Semoga Allah melipat gandakan rezeki kalian dengan rezeki yang barokah.

Print
PDF

PENJELASAN: HAKIKAT HARAP

IHYA' ULUMIDDIN JILID 4 Penjelasan: HAKIKAT HARAP

Ketahuilah kiranya, bahwa harap itu termasuk dalam jumlah pangkat-pangkat orang salik (orang yang berjalan kepada Allah) dan hal keadaan orang-orang yang menuntut jalan Allah.

Sesungguhnya sifat itu dinamakan: tingkat (maqam), ialah: apabila ia tetap dan berketetapan di situ. Dan sesungguhnya dinamakan: hal-keadaan, apabila dia itu mendatang, yang segera hilang. Dan sebagaimana kuning itu terbagi kepada: yang tetap, seperti: kuning emas. Dan kepada yang segera hilang. seperti: kuning (pucat) ketakutan. Dan kepada apa. yang di antara keduanya. seperti: kuning orang sakit.

Maka seperti demikian pula. sifat-sifat hati itu terbagi kepada: bahagian-bahagian ini. Maka yang tidak tetap. dinamakan: hal-keadaan. Karena dia itu berpaling dengan dekat. Dan ini berlaku pada setiap sifat, daripada sifat-sifat hati.

Maksud kami sekarang, ialah: hakikat harap. Maka harap juga akan sempuma, dari: hal-keadaan, ilmu dan amal.  Maka ilmu itu sebab yang membuahkan hal-keadaan. Dan hal-keadaan itu menghendaki amal Dan adalah harap itu suatu nama dari jumlah yang tiga tadi.

Penjelasannya. ialah: bahwa setiap apa yang menemukan anda. dari: yang tidak disukai dan yang disukai, maka terbagi kepada: wujudnya pada hal-keadaan yang sekarang, kepada wujudnya pada masa yang lalu dan kepada yang ditunggu pada masa mendatang.

Maka apabila terguris di hati anda, suatu wujud pada masa yang lalu, niscaya dinamakan: ingatan dan sebutan. Dan jikalau yang terguris di hati anda itu, terdapat sekarang, niscaya dinamakan: perasaan, rasa dan tahu. Dan sesungguhnya dinamakan: perasaan, karena dia itu suatu keadaan yang anda dapati dalam jiwa anda. Dan jikalau terguris di hati and a akan adanya sesuatu pada masa mendatang dan mengeraskan yang demikian pada hati anda, niscaya dinamakan: tungguan dan kemungkinan terjadi. Maka jikalau yang ditunggu itu tidak disukai, niscaya timbullah dalam hati kepedihan, yang dinamakan: takut dan kasihan. Dan kalau yang ditunggu itu disukai, yang diperoleh dari tungguannya, kesangkutan hati kepadanya dan kegurisan adanya di hati, kelazatan dalam hati dan kesenangan, niscaya dinamakan kesenangan itu: harap. Maka harap, ialah: kesenangan hati untuk menunggu apa yang disukainya.

Akan tetapi, yang disukai dan yang diharapkan itu, tak boleh tidak, bahwa ada sebab baginya. Kalau tungguan itu karena hasil kebanyakan sebab-sebabnya, maka nama harap padanya itu benar. Dan kalau ada yang demikian itu tungguan serta rusak dan kacau-balau sebab-sebabnya, maka nama tipuan dan dungu lebih tepat padanya, daripada nama: harap. Dan jikalau tidaklah sebab-sebab itu diketahui adanya dan tidak diketahui tidak adanya, maka nama: angan-angan lebih tepat atas tungguannya. Karena itu adalah tungguan, tanpa ada sebab.

Dan atas setiap hal-keadaan, maka tidaklah dipakai secara mutlak: nama harap dan takut. selain atas apa yang diragukan padanya. Adapun apa yang diyakinkan. maka tidak dipakai. Karena tidaklah dikatakan: aku harap terhit matahari pada waktu terhit. Dan aku takut akan terhenamnya waktu terbenam. Karena yang demikian sudah diyakini.  Benar. dikatakan: aku mengharap turun hujan dan aku takut terputusnya hujan.

Sesungguhnya diketahui oleh orang-orang yang mempunyai hati nurani,  hahwa dunia itu kebun akhirat. Dan hati itu seperti: bumi. Dan iman itu seperti bibit di dalamnya. Dan tha'at itu berlaku sebagai berlakunya pembalik-balikan tanah dan pembersihannya. Dan sebagai berlakunya penggalian sungai-sungai dan mengalirkan air kepadanya. Dan hati yang macam babi hutan dengan dunia, yang karam di dalamnya itu, seperti tanah yang tidak baik. yang tidak tumbuh bibit padanya. Dan hari kiamat itu, hari panen. Dan seseorang tidak panen, selain apa yang ditanamnya. Dan tiada tumbuh yang ditanam, selain dari bibit iman. Dan sedikitlah manfaatnya iman, serta kekejian hati dan keburukan akhlaknya.

Sebagaimana bibit tidak tumbuh pada tanah yang tidak haik, maka sayogialah bahwa dikiaskan harapan hamba akan ampunan dengan harapan orang yang mempunyai tanaman. Maka setiap orang yang mencari tanah yang baik dan menaburkan padanya bibit yang baik, yang tidak busuk dan tidak kena bubuk. kemudian diberinya pertolongan dengan apa yang diperlukan, yaitu: menyirami air pada waktu-waktunya, kemudian membersihkan duri dari tanah dan rumput dan setiap apa yang mencegah tumbuhnya bibit atau merusakkannya, kemudian ia duduk menunggu dari kurnia Allah Ta'ala, menolak segala yang membinasakan dan bahaya-bahaya yang merusak, sehingga sempurnalah tanaman dan sampai kesudahannya, niscaya tungguan itu dinamakan: harap. Dan kalau di• taburkan bibit pada tanah keras yang tidak haik. yang tinggi, yang tidak disirami air kepadanya dan tidak diusahakan sekali-kali mengurus bibit itu. kemudian menunggu panennya, niscaya dinamakan tungguan itu: bodoh dan tertipu. Bukan: harap. Dan kalau ditaburkan bibit pada tanah yang baik, tetapi tidak ada air dan menunggu air hujan, di mana hujan itu tidak biasa terjadi dan juga bukan tidak, niscaya tungguan itu dinamakan: angan-angan. Bukan: harap.

Jadi, nama harap sesungguhnya dibenarkan kepada menunggu yang di- sukai, yang disediakan semua sebab-sebabnya yang masuk di bawah usaha hamba. Dan tidak tinggal, selain apa yang tidak masuk di bawah usaha hamba itu. Dan itulah kurnia Allah Ta'ala, dengan menyingkirkan segala yang memotong dan yang merusak.

Jadi, maka hamba apabila telah menaburkan bibit iman dan menyiramnya dengan air tha' at dan membersihkan hati dari duri akhlak yang buruk dan menunggu dari kumia Allah Ta'ala, akan penetapannya di atas yang demikian, sampai mati dan bagus kesudahan (husnul-khatimah) yang membawa kepada ampunan, niscaya adalah tungguannya itu: harap yang hakiki, yang terpuji, : yang menggerakkan kepada kerajinan dan tegak berdiri menurut yang dikehendaki oleh sebab-sebab iman, pada menyempurnakan sebab-sebab ampunan, sampai kepada mati.

Dan jikalau terputus dari bibit iman, penyelenggaraannya dengan air tha'at atau membiarkan hati terisi dengan akhlak-akhlak yang hina dan ia berkecimpung mencari kesenangan duniawi, kemudian ia menunggu ampunan, maka tungguannya itu: hodoh dan tertipu.

Nahi s.a.w. bersabda:-

 

 (AI-ahmaqu man - atba- 'a nafsahu hawaahaa wa tamannaa - 'alal-Iaahiljannah).

Artinya: "Orang bodoh, ialah orang yang mengikutkan dirinya dengan hawa-nafsunya dan ia berangan-angan kepada Allah, akan syurga". (I).

Allah Ta'ala berfirman:-

                 

(Fa khalafa min ha'dihim khalfun adlaa- 'ush-shalaata wat-taba-'usy-sya- hawaati. fa saufa yalqauna ghayyan).

Artinya: "Maka digantikan mereka oleh satu angkatan, yang meninggalkan shalat dan memperturutkan keinginan nafsu. Sebah itu, mereka akan menemui kebinasaan". S. Maryam. ayat 51).

Allah Ta'ala berfirman

(Fa khalafa min ba'-dihim khalfun waritsul-kitaaba ya'-khudzuuna -'aradla haadzal-adnaa wa yaquuluuna sa-yugh-faru lanaa).

Artinya: "Sesudah itu datang angkatan baru (yang jahat) menggantikan mereka. Mereka. mempusakai Kitab, mengambil harta benda kehidupan dunia ini saja (dengan cara yang tidak halal). Kata mereka: "Nanti (kesalahan) kami akan diampuni". S. AI-A'raaf, ayat 169.

Allah Ta'ala mencela yang empunya kebun. Ketika ia masuk ke kebunnya, dia berkata: "Aku tidak mengira, bahwa (kebun) ini akan pernah binasa. Dan aku tidak mengira, bahwa sa'at itu akan datang dan kalau kiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, tentu aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari ini." (2).

Keterangan:

(I) Dirawikan Ahmad. At-Tirmidzi. ibnu Abid-Dun-ya dan AI-Hakim dari Syaddad bin Aus.

(2) Apa yang tersebut sesuai dengan ayat 35 dan 36 dari; S. AI-Kahf.

Jadi, hamba yang bersungguh-sungguh pada tha'at, yang menjauhkan diri dari maksiat itu benar-benar ia menunggu kurnia AIIah akan kesempumaan nikmat. Dan tidaklah kesempumaan nikmat itu, selain dengan masuk syurga.

Adapun orang yang berbuat maksiat, maka apabila ia bertaubat dan mengerjakan kemhali apa yang telah telanjur daripada keteledoran, maka sebenarnya, bahwa dia itu mengharap penerimaan taubat.

Adapun penerimaan taubat. apabila ia benci kepada perbuatan maksiat, yang menjahatkannya oleh kejahatan dan menyukakannya oleh kebaikan dan ia mencela dah mencaci dirinya dan ia merindui taubat dan mengingininya. maka benarlah ia mengharap dari Allah, akan taufiqNYA kepada taubat. Karena kebenciannya kepada maksiat dan keinginannya kepada taubat itu berlaku, pada tempat berlakunya sebab yang kadang-kadang membawa kepada taubat. Dan sesungguhnya harap itu, sesudah kuatnya sebab-sehab. Dan karena itulah.

Allah Ta'ala berfirman:-

( innal-Iadziina-aamanuu wal-Iadziina haajaruu wa jaahaduu fii sabiilil-Iaahi, ulaa-ika yarjuuna rahmatal-Iaahi).

etinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah (berpindah dari negerinya) dan bekerja keras di jalan Allah, mereka ilu mengharapkan rahmat Allah". A. AI-Baqarah, ayat 218.

Artinya. bahwa mereka itu berhak mengharap rahmat Allah. Dan tidak dikehendaki dengan demikian itu pengkhusus-an adanya harap. Karena selain dari mereka itu juga kadang-kadang mengharap. Akan tetapi, dikhusus-kan kepada mereka akan berhaknya harap.

Adapun orang yang menjerumuskan dirinya pada apa yang tiada disukai oleh Allah Ta'ala dan tiada mencela dirinya at as yang demikian dan tidak bercita-cita kepada taubat dan kembali, maka harapannya akan ampunan itu bodoh. Seperti harapannya orang yang menaburkan bibit pada bumi yang tidak baik dan bercita-cita bahwa tidak menguruskannya dengan menyiramkan air dan membersihkan.

Yahya bin Ma'adz berkata: "Termasuk tertipunya diri yang terbesar padaku. ialah: berkepanjangan berbuat dosa, serta mengharapkan kemaafan, tanpa penyesalan. Mengharapkan kedekatan dengan Allah Ta'ala, tanpa tha'at. Menunggu tanaman syurga dengan bibit neraka. Mencari negeri orang-orang yang taa'at, dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Menunggu balasan tanpa amal. Dan bercita-cita kepada Allah 'Azza wa Jalla, serta keteledoran" .

Engkau mengharap kelepasan

dan tidak menjalani jalan-jalannya. Sesungguhnya kapal itu,

tidak berlayar di atas daratan.

Maka apabila anda mengetahui akan hakikat harap dan tempat sangkaan"ya, maka sesungguhnya anda mengetahui, bahwa hakikat harap itu ada- lah sualU keadaan, yang dihasilkan oleh ilmu, dengan berlakunya kebanyakan sebab-sebab. Dan hal-keadaan ini membuahkan kesungguhan menegakkan sisa sebab-sebab menurut kemungkinan. Sesungguhnya orang yang membaguskan bibitnya, baik tanahnya, banyak aimya, benar harapannya, maka senantiasalah ia dibawa oleh benarnya harapan, kepada mencari tanah, mengusahakannya dan membuang setiap rumput yang tumbuh padanya. Maka tidaklah luntur sekali-kali dari usahanya. sampai kepada waktu mengetam. Dan ini adalah karena harap itu berlawanan dengan putus-asa. Dan putus-asa itu mencegah dari usaha. Maka siapa yang mengetahui, bahwa tanah itu tidak baik, air itu sangat sedikit dan bibit itu tidak tumbuh, niscaya ia akan tinggalkan  sudah pasti mencari tanah dan berpayah-payah pada mengusahakannya.

Harap itu terpuji, karena ia menggerakkan kepada perbuatan. Dan putus asa itu tercela dan itu adalah lawannya harap. Karena putus asa itu memalingkan dari amal. Dan takut itu tidaklah lawan hamp. Akan tetapi kawannya, sebagaimana akan datang penjelasannya. Bahkan takut itu penggerak yang lain, dengan jalan ketakutan. Sebagaimana harap itu penggerak dengan jalan kegemaran.

Jadi, keadaan harap itu mengwarisi panjangnya bersungguh-sungguh (mujahadah) dengan amal-perbuatan dan rajin kepada tha'at, bagaimana pun berbalik-baliknya hal-ehwal.

Dan di antara kesan-kesan dari harap itu. ialah enaknya terus-menerus menghadapkan hati kepada Allah Ta'ala, merasa kenikmatan dengan bermunajah dengan DIA dan berlemah-Iembut pada berwajah Manis kepadaNYA. Sesungguhnya segala hal-ehwal ini tak boleh tidak. Dan bahwa terang atas setiap orang yang mengharap akan seseorang dari raja-raja atau seseorang dari orang-orang biasa. Maka bagaimana tidak terang yang demikian pada hak Allah Ta'ala? Maka jikalau tidak terang, maka hendaklah ia mengambil dalil dengan yang demikian, atas tidak diperolehnya tingkat harap (maqam ar-raja'). Dan turun dalam lembah tertipu dan angan-angan.

Maka inilah dia itu penjelasan bagi hal harap itu. Dan mengapa ia dihasilkan oleh ilmu. Dan mengapa ia menerima hasil dari amal. Dan menunjukkan atas dihasilkannya amal-amal ini, oleh hadits yang dirawikan ZaidulKhail. Karena ia berkata kepada Rasulullah s.a.w.: "Aku datang untuk bertanya kepada engkau, dari alamat Allah, pada orang yang menghendakinya. Dan alamatNYA pada orang yang tiada menghendakinya".

Maka Nabi s.a.w. menjawab: "Bagaimana keadaan engkau?". Zaidul-Khail menjawab: "Keadaanku, ialah mencintai kebajikan dan orang yang mengerjakan kebajikan. Apabila aku sanggup atas sesuatu daripadanya, niscaya aku bersegera mengerjakannya. Dan aku yakin dengan pahalanya. Dan apabila luput bagiku akan sesuatu daripadanya, niscaya menggundahkan aku dan aku rindu kepadanya".

Maka Nabi s.a.w. bersabda:-

 

(Haadzihi -'alaamatul-laahi fii-man yuriidu, wa lau araadaka lil-ukhraa, hayya-aka lahaa, tsumma laa yubaalii fii ayyi-audiyatihaa halakta).

Artinya: "Itulah alamat Allah pada: siapa yang dikehendakiNYA. Jikalau IA menghendaki engkau bagi yang lain, niscaya disiapkanNYA engkau baginya. Kemudian IA tiada menghiraukan pada lembah-lembahnya yang mana engkau binasa". (1).

Maka sesungguhnya Nabi s.a.w. telah menyebutkan alamat (tanda) orang yang dimaksudkan dengan dia kebajikan. Maka barangsiapa mengharap bahwa dia dimaksudkan dengan kebajikan dan bukan alamat-alamat ini, maka dia itu tertipu.  

Keterangan:

1)      Dirawikan Ath-Thabrani dari Ibnu Mas’ud, dengan sanad da’if.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”